[Kabar] Raksasa Finansial Global Masuk Ranah Sawah, Analis: Jangan Ada Komersialisasi Baru atas Tanah!

[Kabar] Raksasa Finansial Global Masuk Ranah Sawah, Analis: Jangan Ada Komersialisasi Baru atas Tanah!

Muslimah News, INTERNASIONAL — Raksasa finansial global hingga yayasan dinasti kapitalis dunia menyuntikkan modal ke sektor pertanian sawah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Rize, sebuah startup teknologi pertanian yang berbasis di Singapura baru saja mengantongi pendanaan seri B sebesar US$31 juta yang dipimpin oleh BNB Paribas Asset Management (BNPPAM) dengan keterlibatan Theoverer Foundation serta investor kawakan seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventours milik Bill Gates. Dengan total dana yang terkumpul mencapai US$40 juta, para raksasa modal ini resmi masuk ke ranah agrikultur dan sawah.

Analis Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan berharap, masuknya para raksasa modal dunia ke ranah sawah jangan sampai memunculkan komersialisasi baru atas tanah. “Di satu sisi, ini terobosan hijau yang bagus. Namun di sisi lain, kita wajib bertanya apakah ini murni demi menyelamatkan bumi atau ada komersialisasi baru atas tanah dan jerih payah petani kita?” ungkapnya kepada MNews, Rabu (12-8-2026).

Dana raksasa ini, lanjutnya, akan dipakai Rize untuk memperluas operasinya di Indonesia, Vietnam dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya untuk membangun sistem penelusuran rantai pasok beras rendah emisi, serta mendongkrak penerapan metode alternate wetting and drying (AWD), sebuah metode pengairan berselang yang diklaim mampu memotong emisi gas metana hingga 50% sekaligus meningkatkan pendapatan petani sampai 30%.

”Saat ini Rize sudah merangkul 17.000 petani kecil yang mengelola lebih dari 50.000 hektar lahan dengan menggabungkan pertanian regeneratif, perdagangan beras terverifikasi, hingga perdagangan kredit karbon (carbon finance),” terangnya.

Pandangan Kritis

Fajar mengingatkan, agar sudut pandang kritis tetap menyala. ”Jangan sampai masuknya para pemodal besar ini justru berujung pada marginalisasi dan disrupsi petani subsisten. Petani kecil kita yang selama ini menggantungkan hidup dari sawah sangat rentan dijadikan objek green washing atau terjebak di dalam ketergantungan teknologi dan skema pasar karbon yang tidak sepenuhnya mereka pahami,” ujarnya khawatir.

Dalam perspektif Islam, Fajar menjelaskan, pengelolaan tanah dan pangan adalah amanah untuk menjaga keadilan sosial dan tidak boleh ditumpuk untuk kepentingan segelintir pemodal. ”Prinsip keadilan lingkungan (environmental justice) menegaskan bahwa transformasi menuju pertanian rendah emisi tidak boleh mengorbankan kedaulatan petani lokal atas tanah, benih, dan pola tanam mereka,” tegasnya.

Ia berharap, jangan sampai petani subsisten yang selama ini menjaga ketahanan pangan nasional justru kehilangan kemandiriannya dan terpinggirkan karena sawah sawah mereka berubah fungsi menjadi komoditas pasar modal global yang dikendalikan dari balik meja bursa di luar negeri.

”Modernisasi pertanian dan transisi rendah emisi memang penting, tetapi kedaulatan petani jauh lebih utama. Pemerintah wajib memperketat regulasi agar korporasi global tidak memonopoli rantai pasok dan kredit karbon pertanian,” usulnya.

Terakhir ia menekankan, investor dan startup harus menjamin transparansi serta pembagian keuntungan yang adil bagi petani. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *