Penulis: K.H. Rokhmat S. Labib
Muslimah New, KOLOM — Saat ini, ada upaya terus-menerus dalam mengaruskan ide moderasi beragama. Ide ini pun diajarkan secara masif di sekolah-sekolah, termasuk di lingkungan sekolah Islam.
Mereka (penyebar ide moderasi beragama) mengatakan bahwa para pemeluk agama tidak boleh mengklaim kebenaran dan keselamatan hanya pada satu agama. Sebabnya, itu dianggap bisa mengganggu kerukunan beragama.
Di antara ayat yang sering dipakai sebagai dalil—mungkin tepatnya dalih—bahwa ide itu tidak bertentangan dengan Islam adalah QS Al-Baqarah: 62, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang ṣābiīn, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”
Ini dijadikan dasar bahwa semua pemeluk agama itu punya kesempatan yang sama untuk masuk surga. Juga sering dipakai untuk membenar-benarkan bahwa tidak boleh menganggap penganut agama lain itu masuk neraka. Bagi mereka, tidak boleh ada yang namanya klaim kebenaran, klaim keselamatan, atau truth claim.
Pertanyaannya, apakah benar makna yang dikehendaki dari ayat tersebut seperti yang mereka sampaikan?
Untuk menilai kebenarannya dapat dilihat, salah satunya dari asbab an-nuzul (sebab turunnya) yang dapat membantu memahami apa kandungan ayat itu. Dalam penjelasan Imam At-Thabari dari Mujahid dikatakan bahwa ayat ini turun ketika Salman al-Farisi bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang kaum Nasrani dengan segala amal mereka. Kemudian Nabi menjawab, “Mereka tidak mati dalam keadaan Islam.”
Dengan demikian, pemeluk agama yang dimaksudkan bukanlah pemeluk agama setelah diutusnya Rasulullah saw., tetapi pemeluk agama sebelum Rasulullah saw. diutus.
Dalam kitab tafsir Al-Baidhawi yang dimaksud dengan alladzina amanu adalah orang yang beriman dengan lisan-lisan mereka, orang-orang yang menganut agama Rasulullah saw, yang benar-benar tulus dalam mengikuti Rasulullah saw. luar-dalam.
Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa umat Nabi Muhammad saw. itu adalah orang yang beriman disebabkan karena banyaknya keimanan mereka. Maksudnya “banyak” itu bagaimana? Maksudnya, kalau umatnya Nabi Nuh as. beriman kepada siapa? Nabi Nuh dan ada nabi-nabi sebelumnya. Kalau umat Nabi Ibrahim as. berarti imannya kepada Nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang sebelumnya.
Nah, berarti yang paling banyak ini siapa? Umat Rasulullah saw. karena beriman pada Rasulullah saw. dan nabi-nabi sebelumnya. Bahkan, termasuk beriman kepada berbagai perkara gaib yang akan datang.
Kalimat Kunci
Sebenarnya ada kalimat kunci dalam ayat tersebut, yaitu siapa saja yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh. Kalau syaratnya tidak terpenuhi, tidak akan mendapat pahala.
Pertanyaan berikutnya, beriman kepada Allah Swt. itu cukup beriman bahwa Allah ada atau termasuk kepada segala hal yang berkaitan tentang Allah? Contohnya, Allah itu ahad, Allah itu tidak punya anak dan tidak pernah menjadi anak. Kalau ada orang yang meyakini Allah punya anak, termasuk beriman kepada Allah apa tidak?
Kemudian, beriman kepada hari akhir. Dalam akidah Islam, ada dua kejadian di hari akhir. Pertama, hancurnya kehidupan dunia. Kedua, dibangkitkannya seluruh manusia, diadili, dan diberikan balasan terhadap semua amalnya
Keyakinan seperti ini dasarnya apa? Harus Al-Qur’an dan hadis yang datang dari Rasulullah saw. dan ini termasuk dalam beriman kepada Rasulullah saw. Mustahil beriman kepada hari kiamat atau hari akhir tanpa beriman kepada Al-Qur’an, tanpa beriman kepada Rasulullah saw.
Kalimat berikutnya adalah melakukan amal saleh yang harus memenuhi dua syarat, yaitu sesuai dengan hukum syarak dan ikhlas dilaksanakan untuk Allah Swt. Sekarang kita buktikan amal saleh yang mudah saja, yakni salat. Ada orang salat salat Subuh tiga rakaat, bukan dua rakaat. Niat ikhlas khusus untuk Allah, tidak untuk manusia. Sebagai bukti cinta kepada Allah, masak salat Subuh hanya dua rakat sehingga ditambah satu rakaat lagi.
Sah apa tidak salatnya? Tidak sah karena tidak sesuai dengan hukum syariat yang diajarkan Rasulullah saw. Sekalipun amal itu dilakukan dengan ikhlas karena Allah, tetapi kalau berbeda apalagi bertentangan dengan syariat yang dibawa Rasulullah saw, maka tidak terkategori sebagai amal saleh.
Lalu, Yahudi dan Nasrani masuk surga apa tidak? Kalau Nasrani, pasti tidak beriman kepada Al- Qur’an. Sebabnya, kalau beriman kepada Al-Qur’an berarti ikut Rasulullah saw. Yahudi juga tidak beriman kepada Al-Qur’an. Kalau ikut Al-Qur’an, pasti mengikuti Rasulullah saw.
Dari hal ini, bisa dipastikan bahwa pemeluk agama selain Islam tidak memenuhi syarat yang disebutkan dalam ayat ini.
Yahudi dan Nasrani yang Beriman
Sementara itu, yang dimaksud sebagai orang Yahudi yang beriman adalah orang yang berpegang teguh kepada Taurat dan sunah Musa as. sampai datang Isa as. Itu batasannya. Kalau keimanan orang Nasrani adalah orang yang berpegang teguh kepada Injil dan syariat Isa as. sampai diutusnya Muhammad saw.
Kalau masih bersikukuh dengan agama sebelumnya, maka tidak diterima. Mungkin ada pertanyaan, mengapa tidak diterima? Bukankah dari Allah? Ya, semua agama nabi adalah dari Allah, tetapi Allah sendiri sudah me-nasakh atau menghapus berlakunya.
Agama yang diklaim berasal dari nabi, seperti Nabi Isa as. dan Nabi Musa as. yang berasal dari Allah saja tidak boleh diamalkan setelah datangnya Islam, apalagi agama murni produk manusia yang tdak ada hubungannya dengan nabi dan tidak ada hubungannya dengan Allah. Diterima apa tidak amalnya? Masuk surga apa tidak? Jadi sangat jelas bahwa pernyataan semua agama benar dan ada kesempatan masuk surga adalah salah. [MNews/RA]
