Muslimah News, TOKOH BICARA — Para mubaligah berpandangan bahwa karut-marutnya beragam persoalan di negeri ini terjadi akibat tidak diterapkannya hukum Allah Swt. Oleh sebab itu, sudah saatnya para mubaligah mengambil peran menyelesaikan persoalan umat dengan berdakwah agar syariat Allah Swt. segera tegak.
Kembali kepada Jalan Allah
Masalah utama kaum muslim saat ini adalah belum tegaknya hukum Allah Swt. sehingga keadaan menjadi karut-marut. Mudah-mudahan kita segera mendapat pemimpin yang mampu menyelenggarakan negara sesuai dengan syariat Islam. Doa itu harus dipanjatkan pada setiap kesempatan, terutama di waktu-waktu yang mustajabah.
Di samping berdoa, tentunya kita juga harus berusaha mengajak umat untuk terus kembali ke jalan Allah Swt. Dalam QS Al-A’raf ayat 96 disebutkan, “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.”
Karena itu, kita harus aktif dan intens mengajak umat agar mau kembali kepada jalan Allah, kembali kepada Al-Qur’an dan hukum Allah. Insyaallah, kita akan mendapatkan pemimpin yang baik, yang menegakkan negara yang baik.
Penting bagi kita untuk bergabung dengan jemaah atau komunitas dakwah yang aktif sesuai dengan akidah. Sebab, akan sulit jika bergerak sendiri-sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 104, “Hendaklah ada segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
Begitu pula dalam QS At-Taubah disebutkan,”Hendaklah ada satu kelompok yang terus belajar dan mendalami agama agar dapat mengajak umat kembali ke jalan Allah.”
— Ustazah Nurul Husna (Mubaligah) —-
Persoalan Mendasar yang Dihadapi Umat
Persoalan mendasar dan besar dihadapi umat saat ini adalah tidak diterapkannya Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan serta ketiadaan kepemimpinan politik Islam.
Kita bisa lihat, moral generasi makin memprihatinkan, terutama di kalangan pemuda. Berbagai perilaku menyimpang makin marak terjadi. Padahal, Islam telah mengatur dengan jelas interaksi antara laki-laki dan perempuan agar terjaga sesuai syariat.
Belum lagi, kenaikan BBM berdampak besar terhadap meningkatnya kemiskinan dan menurunnya kesejahteraan rakyat. Padahal, dalam Islam, SDA diatur agar dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Namun, yang terjadi saat ini, pengelolaannya justru diserahkan kepada para kapital.
Kenaikan BBM turut memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan makin membebani rakyat. Padahal, Islam mewajibkan negara memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Namun, yang terjadi saat ini, bantuan seperti MBG pun diwarnai kasus korupsi.
Persoalan Palestina yang tidak kunjung selesai juga menunjukkan berbagai masalah umat terjadi karena tidak diterapkannya Islam secara kafah dalam institusi Khilafah. Karena itu, umat harus memahami dan meyakini, Islam satu-satunya solusi yang Allah tetapkan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera, lalu menyampaikannya agar Islam kafah diketahui lebih luas oleh umat yang lainnya.
Selain itu, umat juga harus melakukan muhasabah kepada para penguasa serta mengajak mereka kembali menerapkan hukum-hukum Allah Swt. ketika lahir kebijakan yang bertentangan dengan syariat.
— Ustazah Aminatun (Mubaligah) —
Peran Terdepan Mubaligah dalam Perjuangan Menegakkan Syariat Islam Kafah
Di situasi hari ini, setelah runtuhnya Daulah Khilafah Rasyidah 1924, menjadi agenda besar (qadhiah mashiriyah) dan persoalan krusial bagi umat untuk menegakkan kembali Islam kafah dalam naungan Khilafah. Maka, mubaligah harusnya mengambil peran terdepan, mengambil kontribusi terbaik, mengerahkan semua segenap kemampuan yang dimiliki untuk meraih kembali yang diwajibkan Allah atas umat ini.
Sebagai pewaris Nabi yang memiliki ilmu, faqih fiddin, tentu akan ditanya Allah Swt. paling awal, mengapa umat ini tidak bersegera menegakkan kewajibannya? Yakni tegaknya syariat Allah dalam naungan Daulah Khilafah.
Kaum muslim harusnya menjawab sambutan Allah Swt, berupa menegakkan hukum Islam secara kafah di bawah naungan Khilafah dengan cepat (fasari’u) dan menyambutnya sebagai kewajiban karena sudah melewati lebih dari 3 hari masa yang ditetapkan Allah Swt. sebagaimana yang terjadi saat Rasulullah saw. wafat dan para sahabat menunda pemakamannya sampai digantikan oleh Khalifah Abu Bakar dan seterusnya.
Artinya, kaum muslim tidak boleh menunda-nunda, mencari pilihan lain, menganggap aktivitas dakwah hari ini menyeru akhlak, perbaikan-perbaikan individu, atau melakukan amaliah-amaliah sosial, itu cukup. Sebabnya, persoalan utama umat hari ini, akarnya adalah akibat tidak diterapkannya syariat Allah. Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslim menyambut dengan segera dan seharusnya, bukan saja mendukung, tetapi berada dalam barisan perjuangan menegakkan Khilafah.
— Ustazah Asma Amnina (Mubaligah) —
Membangun Kesadaran Politik Umat
Peran mubaligah sangat strategis dalam membangun kesadaran umat karena berinteraksi langsung dengan masyarakat, baik di kalangan akar rumput (grassroot) maupun para pemimpin. Mereka harus membangun kesadaran umat dengan menanamkan akidah yang kuat agar umat terikat dengan syariat Allah, tunduk kepada-Nya, melaksanakan seluruh perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Ketundukan kepada Allah Swt. secara total menuntut setiap muslim terikat dengan syariat secara kafah, tanpa pilih-pilih. Sikap seorang Muslim adalah sami’na wa atha’na, bukan sami’na wa ‘ashayna, tanpa mempertimbangkan perintah itu bermanfaat atau tidak.
Melalui pembinaan tersebut, umat akan menyadari kehidupan saat ini belum memungkinkan terlaksananya ketaatan kepada Allah secara sempurna. Dari sinilah lahir kesadaran politik untuk melakukan muhasabah, mengingatkan, dan melakukan perubahan, karena kehidupan hari ini tidak baik-baik saja akibat tidak terikat dengan syariat Allah.
Penerapan syariat Allah secara kafah tidak hanya mencakup ibadah fardhiyah, seperti salat, puasa, dan haji, tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Ketika kesadaran ini tumbuh di semua lapisan masyarakat, ia akan menjadi kekuatan politik umat.
Karena itu, dibutuhkan partai politik ideologis Islam yang memimpin arah perjuangan umat menuju perubahan sistem sesuai tuntunan Allah Swt. dan para mubaligah perlu mengambil peran di dalamnya.
Terkait ketaatan kepada ululamri, Allah berfirman dalam QS An-Nisa ayat 59, “Yā ayyuhalladzīna āmanū aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūla wa ulil-amri minkum.” Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlak, sedangkan ketaatan kepada ululamri terikat pada ketaatan mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Allah Swt. juga memerintahkan amar makruf nahi mungkar,sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 104. Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa kewajiban ini tetap berlaku sehingga tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.
Ketika penguasa melanggar syariat atau memerintahkan kemaksiatan, ia wajib dimuhasabahi dan diingatkan. Adapun jika ululamri yang dimaksud dalam QS An-Nisa ayat 59 belum terwujud, yang harus dilakukan adalah mengikuti metode dakwah Rasulullah saw. dengan membangun kesadaran umat hingga lahir perubahan sistemis yang mewujudkannya.
— Ustazah Faizah Madjid (Mubaligah) —-
[MNews/SA]
