Muslimah News, INTERNASIONAL — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mendesak negara-negara di Timur Tengah yang belum menandatangani Abraham Accords untuk ikut merapatkan barisan dalam perjanjian itu. Manuver ini menggelinding tepat di tengah krusialnya negosiasi yang sedang berjalan demi menyudahi perang Iran.
Trump tanpa ragu menyodorkan sederet nama mitra potensial baru, yakni Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania. Baik Arab Saudi maupun Turki mensyaratkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut jika ada komitmen terhadap solusi dua negara sebagai dasar penyelesaian apapun. Sementara Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, Maroko, dan Kazakhstan sudah menandatangani kesepakatan itu pada 2020. Beberapa negara lain lebih memilih diam.
Memalukan!
Juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis internasional menyesalkan semua sikap para penguasa muslim yang tidak sesuai harapan. ”Sikap itu sangat memalukan baik mereka yang terburu-buru menandatangani, mereka yang menetapkan syarat untuk penandatanganan, mereka yang menandatangani secara diam-diam, maupun mereka yang belum menandatangani dan tetap diam seperti di dalam kubur,” tuturnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Selasa (2-6-2026).
Ia menandaskan bahwa inti dari perjanjian ini adalah pengakuan entitas Zion*s Yahudi di tanah muslim, memberikan legitimasi atas penguasaan tanah, menormalisasi hubungan dengannya, dan mempromosikan dialog antaragama.
”Satu-satunya solusi sah untuk masalah Palestina adalah membebaskannya dan menghapus eksistensi entitas Zion*s Yahudi di wilayah tersebut. Umat Islam tidak akan menerima solusi lain,” tegasnya.
Ia mengingatkan, meskipun semua penguasa menandatangani perjanjian ini dan menormalisasi hubungan dengan entitas Yahudi, nasib mereka akan lenyap ketika umat Islam bangkit. ”Umat Islam akan menyingkirkan mereka, mendirikan Khilafah, memerintah berdasarkan hukum Allah Taala, membebaskan tanah-tanah yang diduduki, membawa Islam sebagai petunjuk, cahaya, dan keadilan bagi seluruh umat manusia, serta memaksa Trump dan orang-orang sepertinya untuk membayar jizyah kepada negara Khilafah,” bebernya.
Adapun dialog antaragama, lanjutnya, umat Islam dalam sejarah panjangnya selalu berada di garis depan dalam menyerukan semua orang untuk berdialog berdasarkan satu kata yang sama sebagaimana tercantum dalam QS Ali Imran: 64,
“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ’Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’.”
Umat Islam, ucapnya, akan terlibat dalam perjuangan intelektual dan politik, menyeru manusia kepada agama yang benar yang diturunkan oleh Allah Taala sesuai QS At-Taubah: 33,
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.”
Adapun Ibrahim as, imbuhnya, tidak bersalah atas perjanjian-perjanjian yang dinisbahkan kepadanya sebagaimana QS Ali Imran: 67,
”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
”Tidak diragukan lagi, mereka berusaha menyesatkan orang dan menyelimuti kebohongan dengan jubah kebenaran dengan mengaitkan perjanjian-perjanjian ini kepada Ibrahim as. padahal beliau sama sekali tidak bersalah,” jelasnya.
Menghentikan Tindakan Trump
Jubir mengatakan, andai ada satu orang bijak saja di antara mereka, seharusnya para penguasa ini menghentikan pernyataan dan tindakan Trump. ”Mereka seharusnya tidak membiarkan Trump berbicara atas nama Timur Tengah. Mereka seharusnya menghentikan Trump dari campur tangannya di wilayah muslim daripada menjadi pengikutnya yang terhina. Trump ingin mewujudkan mimpinya tentang Timur Tengah baru di mana entitas Yahudi menjadi bagian normal, yang memungkinkan Amerika untuk mengendalikan kekayaan, minyak, gas, laut, dan wilayah udara umat muslim,” ulasnya.
Ia meyakini, satu-satunya yang mampu membungkam Trump dan mengakhiri kesombongan serta keangkuhannya adalah kekhalifahan yang mendapat petunjuk benar berdasarkan metode kenabian, yang akan segera didirikan dengan izin Allah Taala. ”Umat Muslim harus mengambil keputusan untuk segera meninggalkan sistem yang batil dan mengangkat seorang khalifah yang akan memerintah dengan Kitabullah dan Sunah Rasul,” pungkasnya. [MNews/IA]
