Muslimah News, NASIONAL—Merespons istilah “kafir” yang dianggap tidak relevan dengan konsep negara bangsa karena menimbulkan permusuhan antarumat beragama, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) justru mengatakan pernyataan itulah yang tidak relevan.
“Penyebab permusuhan atau pertentangan itu bukan single factor, tetapi multiple factor. Mengusulkan dengan semena-mena perubahan atau penghapusan kata ‘kafir’ hanya gegara mengurangi pertentangan, justru tidak relevan,” ungkapnya dalam “Sebutan ‘Kafir’, Haruskah Diubah?” di kanal UIY Official, Ahad (3/4/2022).
Menurutnya, ini menunjukkan pemahaman terhadap realitas yang sangat minim dan tampak dasar argumennya yang tidak kokoh.
“Bila menggunakan logika itu, maka istilah agama di dalam agama Kristen juga harus dihapus karena ada pertentangan juga antara Katolik dengan Protestan yang berlangsung sampai sekarang. Kemudian di dalam umat Islam, pertentangan juga ada. Apakah harus dihapus?” tanyanya lugas.
Jadi, ia menegaskan, pertentangan hari ini dan di masa lalu memang ada yang dipicu faktor agama, baik antarumat beragama maupun intraumat beragama. “Namun, sebagian lainnya dipicu oleh faktor nonagama,” ujarnya.
Ia mencontohkan ketika AS menginvasi Irak. “Apakah karena faktor agama? Atau yang lain? Fakta-fakta kemudian mengungkap penyebabnya faktor keserakahan kapitalisme global yang ingin mendapatkan sumber-sumber minyak murah di Irak. Begitu pula dengan serangan ke Afganistan yang diskenariokan ada perang sehingga produksi senjata mereka dapat dipakai,” kritiknya.
Islam Menjadi Sasaran
UIY memaparkan kalau dilihat substansinya, harus dibaca dalam kerangka lebih luas di mana Islam menjadi sasaran.
“Setelah perang dingin berakhir, Barat meilhat dunia Islam bakal menjadi upcoming challenger. Karena itu, sebelum itu benar-benar terjadi, dunia Islam harus dilemahkan,” katanya yang kemudian menguraikan beberapa hal yang dilihat Barat.
Pertama, sebutnya, kekuatan dunia Islam terletak pada persatuan yang itu akan terwujud jika ada institusi politik atau pemimpin politik yang menyatukannya, yakni Khilafah, khalifah, atau amirulmukminin.
“Mereka sudah tahu bahwa pada 1924, institusi ini sudah berhasil diruntuhkan. Mereka tahu bahwa umat Islam akan memperjuangkannya kembali. Karena itulah mereka berusaha keras untuk menghambat tegaknya kembali institusi itu,” paparnya.
Kedua, sambungnya, kekuatan umat Islam dan dunia Islam terletak pada agamanya itu sendiri.
“Mereka tahu substansi-substansi ajaran agama Islam terkumpul pada rangkaian istilah yang mengandung makna bahasa dan syar’i. Istilah ini mengandung pengertian tertentu yang membawa gagasan atau ide atau keyakinan atau ajaran atau prinsip,” jelasnya.
Karenanya, ia melanjutkan, mereka berusaha menyerang dari sisi ini sebagaimana yang dikenalkan Dr. Ahmad Ibrahim Khidir tentang harbul mustolah (perang istilah).
Menjadi “Sama”
UIY menyatakan mereka tidak akan rida sampai kita mengikuti millah mereka atau “sama” dengan mereka. “Kalau sudah ‘sama’, maka tidak akan menjadi penghambat dari seluruh keinginan dan cita-cita mereka, baik dari segi politik, ekonomi, maupun agama, seperti istilah gold, glory, dan gospel,” tukasnya.
Dalam hal ini, ia menyampaikan sudah Allah ingatkan dalam QS An-Nisa ayat 89, yaitu,
“Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka).”
Untuk itulah, ia menggambarkan, mereka menggunakan berbagai macam cara, baik yang halus maupun yang kasar.
“Perang istilah ini pun bagian dari perang pemikiran. Kenapa perang pemikiran? Karena pikiran inilah yang membuat umat Islam ‘berbeda’ dengan mereka. Jadi, kalau mereka ingin umat Islam ‘sama’ dengan mereka, yang pertama harus diubah adalah pikirannya, yakni tentang keimanan atau akidah. Kalaupun tidak, maka meskipun agamanya berbeda, tetapi dibuat cara berpikirnya yang sama tentang berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” kupasnya.
Ia mengungkapkan agar cara berpikir ini sama, sementara dalam Islam ada istilah-istilah yang kalau dipakai akan membuat umat Islam ini sulit untuk bisa sama dengan mereka, maka dilakukan perang istilah.
“Bentuknya, pertama, upaya menyimpangkan makna istilah. Misalnya, makna jihad sekadar diartikan sungguh-sungguh, bukan diartikan sebagai perang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah. Kedua, pendangkalan makna istilah. Ketiga, penggantian istilah dengan istilah yang lain. Contohnya, istilah “Kafir” pernah diusulkan diganti dengan al-muwathinun (warga negara),” ulasnya.
UIY mengingatkan ini sebenarnya kerja sistematis. “Karenanya, tidak boleh dilihat sebagai satu kasus yang seolah dilontarkan seorang tokoh. Ini masih satu garis dengan pluralisme agama, dialog antaragama, sinkretisme, dan sebagainya yang merupakan agenda global,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
Sumber foto: iStock


Orang nashrani dan yahudi tdk akan pernah berhenti sampai kaum muslim msk ke milah mrk