Muslimah News, INTERNASIONAL – Berita tentang kematian sejumlah warga sipil tidak bersenjata, khususnya perempuan dan anak-anak, di Lebanon selatan akibat serangan yang dilakukan oleh kelompok Yahudi selama beberapa hari terakhir tidak pernah berhenti.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat agresi tersebut meningkat menjadi 294 orang dan 1.023 orang terluka. Kementerian melaporkan kematian empat orang, termasuk seorang gadis berusia lima tahun dan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun, dalam serangan udara yang menargetkan sebuah rumah di kota Machghara di Lembah Bekaa Barat, Kamis (5-3-2026). Dua orang juga tewas dalam serangan udara di kota Labaya di Lembah Bekaa Barat, juga melukai tiga orang lainnya, termasuk dua gadis dalam kondisi kritis.
Sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan dua anak mereka tewas ketika pesawat tempur Zion*s menargetkan rumah mereka di kota Zawtar al-Sharqiya di Kegubernuran Nabatieh Lebanon selatan. Keluarga lain yang terdiri dari orang tua dan empat anak juga menjadi sasaran di daerah Bint Jbeil.
Menghancurkan Semua Orang
Juru bicara (jubir) Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional menyatakan, perang brutal tersebut telah merenggut nyawa anak-anak tidak bersalah. “Mereka membunuh orang-orang tidak berdosa di rumah mereka, bahkan di kamar tidur mereka. Rudal dan drone ini, yang berkeliaran bebas di tanah muslim, tidak membedakan antara manusia, batu, atau pohon, menghancurkan semua orang tanpa ampun,” tuturnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Selasa (10-3-2026).
Ia melanjutkan, anak-anak tidak berdosa telah kehilangan kepolosan mereka, tubuh mungil mereka tercabik-cabik, dan seluruh keluarga musnah. “Ini di samping puluhan ribu orang yang telah mengungsi. Menurut otoritas Lebanon, perang ini telah mengakibatkan pengungsian lebih dari 83.000 orang,” imbuhnya.
Ia membeberkan, Lebanon selatan menghadapi eskalasi militer yang makin intensif di tengah dampak perang entitas Yahudi-AS terhadap Iran. ”Lingkaran sayap kanan di dalam entitas Yahudi telah menyerukan pendudukan wilayah selatan Sungai Litani dan pembentukan zona keamanan di sana dalam beberapa bulan terakhir. Semua ini terjadi di tengah keterlibatan internasional dan kegagalan para penguasa muslim,” urainya.
Para penguasa itu, kata jubir, selama bertahun-tahun tetap tuli terhadap tangisan ribuan anak-anak Gaza, tidak mendengar jeritan puluhan anak lainnya. ”Mereka tidak tergerak oleh pemandangan mengerikan berupa pembantaian, pembunuhan, dan kehancuran. Mereka tidak tergerak oleh berita serangan pesawat tidak berawak yang menargetkan seluruh keluarga saat mereka tidur di rumah mereka,” tuturnya.
Ia mengulas, satu-satunya alasan diamnya para penguasa muslim dan ketundukannya terhadap penjajah Barat adalah keberlangsungan kekuasaan mereka. ”Tidakkah mereka takut bahwa anak-anak ini akan menjadi musuh mereka di hadapan Allah Swt. pada Hari Kiamat? Tidakkah mereka merasa malu di hadapan Allah di bulan suci ini?” tanyanya retoris.
Terus Menderita
Ia menyeru kepada kaum muslim Lebanon agar menyadari posisinya saat ini. ”Kalian telah menderita dan terus menderita akibat perselisihan, seolah-olah kalian adalah bola yang dilempar-lempar oleh kekuatan-kekuatan besar, yang memperebutkan kalian dan menyeret kalian ke dalam perang yang tidak dapat kalian menangkan,” jelasnya.
Ia berharap, kaum muslim di sana tidak menerima skema penerapan politik yang tidak adil serta mengorbankan darah dan jasad anak-anak. ”Jangan tertipu oleh konferensi yang diadakan atau solusi yang diusulkan. Jika Barat benar-benar menginginkan kebaikan kalian, mereka akan menghentikan campur tangan mereka dan sekutu-sekutu mereka di negara kalian dan dunia muslim pada umumnya,” terangnya.
Jubir menegaskan bahwa umat Islam di Lebanon digunakan sebagai kayu bakar untuk membakar kawasan ini dan untuk memaksakan normalisasi dan perjanjian perdamaian dengan entitas Yahudi. ”Janganlah kalian termasuk di antara orang-orang yang menjual agama demi keuntungan duniawi para penguasa, pendukung mereka, dan tuan mereka, sehingga kalian menderita kerugian besar,” tegasnya.
Ia mempertanyakan kepada para tentara, sampai kapan keheningan dan kepatuhan para tentara itu akan berlangsung? ”Sampai kapan kalian akan tetap tunduk kepada musuh dan sekutunya? Sampai kapan darah suci akan terus tertumpah di tanah kaum muslim? Sampai kapan penghinaan dan perendahan ini akan terus berlanjut, atau apakah kalian sudah terbiasa dengan hal itu?” cetusnya.
Ia menjelaskan bahwa tugas tentara adalah membela umat, mengulurkan tangan membantu mereka yang berusaha menerapkan hukum Allah Swt. dan membangun kembali Khilafah yang akan membalas darah dan pelanggaran kehormatan, membebaskan negeri-negeri, dan melindungi rakyat.
Terakhir, jubir memberikan semangat kepada para tentara muslim dengan mengutip firman Allah Taala QS Al-Hajj ayat 78, ”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” [MNews/IA]
