Penerapan Konsep al-Wala’ wal-Bara’ dalam Kontroversi BoP

Penerapan Konsep al-Wala’ wal-Bara’ dalam Kontroversi BoP

Penulis: Wardah Abeedah

Muslimah News, TSAQAFAH — Dari jejak sejarah Islam, kita mendapati bahwa di antara kerja besar para ulama sepanjang zaman adalah menjaga Islam dan kaum muslim. Untuk itulah Al-Qur’an dijadikan mushaf, hadis dikodifikasi, cabang-cabang ilmu syar’i (tsaqafah Islam) dibuat, dan kitab-kitab turats atau klasik disusun.

Ketika kekuasaan Khilafah Islam makin luas, masuklah paham filsafat dan kelompok-kelompok yang berkutat seputar tema sifat-sifat Allah, hingga al-qadha’ dan al-qadar. Alhasil, kitab-kitab dalam ilmu tauhid pada periode salaf saleh banyak menjelaskan tentang hal itu.

Namun hari ini, umat makin jauh dari Islam. Persoalan tauhid dan akidah kaum muslim keruh, tidak lagi jernih. Kita bisa lihat fakta persoalan tauhid umat banyak berkutat pada jauhnya umat dari identitas dan karakter mukmin, sampai-sampai susah dibedakan antara mereka dan orang-orang kafir.

Terdapat pula fakta sikap berbangga, loyal, cinta, dan tunduknya kaum muslim terhadap orang-orang kafir. Sebaliknya, mereka tidak acuh, menjauh, bahkan bermusuhan dengan kaum muslim. Banyak di antara kaum muslim tidak kenal siapa saudara dan siapa musuh. Ini karena sangat sedikit dibahas tema al-wala’ wal-bara’ dalam bahasan ilmu tauhid.

Di antara “tokoh Islam” dan “ulama” juga ada yang mengunjungi Israel dengan rasa persahabatan, memberi panggung bagi Zion*s untuk meracuni pemikiran kaum muslim, mesra dengan pemimpin besar agama non-Islam. Alhasil, bergabungnya Indonesia ke Board of Peace (BoP), tunduknya para pemimpin negeri-negeri muslim terhadap penguasa imperialis Barat, dikirimkannya tentara atas “titah” Trump ke Gaza, menjadi bukti bahwa pemimpin kaum muslim keliru dalam meletakkan al-wala’ wal-bara’ mereka. Bahkan, kabar terbaru yang tidak kalah menyakitkan adalah rencana pengiriman TNI ke Gaza di bawah rancangan BoP. Lebih miris lagi, sebagian ulama dan ormas Islam menyetujui bergabungnya Indonesia di BoP setelah mengikuti pertemuan dengan Presiden Prabowo.

Semua ini menandakan ada masalah besar dalam akidah dan tauhid umat Rasulullah ﷺ pada akhir zaman ini. Di sinilah urgensi pembahasan al-wala’ wal-bara’ untuk dipelajari kembali dan dipahami kaum muslim. Meski sayangnya, frasa al-wala’ wal-bara’ ini dituding musuh-musuh Islam sebagai konsep radikal yang diusung teroris.

Apa Itu al-Wala’ wal-Bara’?

Menurut bahasa, al-wala’ sama dengan al-muwalat. Ibnul A’rabi menjelaskan, “Jika ada dua orang sedang berselisih, lalu datanglah orang ketiga untuk mendamaikan mereka, tetapi ia condong kepada salah satunya sehingga ia membantunya atau berpihak kepadanya.” Oleh karena itu, bila dikatakan, “Wala’ fulanun fulanan,” itu artinya orang itu melindungi seseorang jika ia mencintainya. (Lisanul Arab, Ibnu Mazhur).

Sementara itu, penjelasan al-wala’ wal-bara’ menurut istilah adalah sebagai berikut. Kata al-walayah berarti an-nushrah (pertolongan), al-mahabbah (cinta), al-ikram (penghormatan), al-ihtiram (penghargaan), dan tetap bersama orang yang dicintai secara lahiriah. Sedangkan kata al-bara’ berarti al-bu’du (jauh), al-khalash (lepas), dan al-adawah (permusuhan) setelah diberikan pernyataan (alasan) dan peringatan. (Muhammad Said al-Qhattani, Al-Wala’ wal-Bara’, 104).

Al-wala’ wal-bara’ bermakna setia atau loyal disebabkan karena Allah dan memusuhi karena-Nya, mencintai karena Allah dan membenci karena-Nya. Oleh karenanya, cinta karena Allah dan kebencian karena-Nya harus dipelihara umat Islam. Juga (wajib pula, penj.) membangun hubungannya dengan manusia dari sudut pandangnya (al-wala’ wal-bara’) sehingga ia menemukan manisnya iman. (Prof. Abdul Aziz bin Ahmad al-Ghamidi).

Al-wala’ wal-bara’ adalah perkara akidah yang pokok, salah satu konsekuensi dari syahadat, serta dasar dari ikatan dan hubungan kaum muslim. Dengan dua prinsip ini, fondasi masyarakat Negara Islam yang baru di Madinah hingga masa kekhalifahan pun menjadi kokoh.

Tentang al-wala’, Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Anfal ayat 72,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Sementara itu, perintah untuk berlaku al-bara’ (berlepas diri, bermusuhan) terdapat dalam firman Allah Swt. dalam QS Ali Imran ayat 28,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai para wali dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, hal itu sama sekali bukan dari (ajaran) Allah, kecuali untuk menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya kepada Allah tempat kembali.”

Juga firman-Nya dalam QS Al-Maidah ayat 51,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ:الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالبُغْضُ فِي اللهِ

“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir [no. 11537], lihat Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah [IV/306, no. 1728]).

Konsekuensi al-Wala’ wal-Bara’

Di antara konsekuensi iman adalah mencintai sesama muslim karena Allah, meletakkan loyalitas kepada-Nya, Rasul-Nya, dan seluruh mukmin. Al-wala’ juga menuntut muslim saling tolong-menolong dan melindungi muslim yang lain; terlebih jika itu berkaitan dengan kaum muslim yang diperangi orang kafir, serta terusir dari tanah-Nya.

Tidak cukup hanya bersikap al-wala’, melainkan wajib pula berlaku al-bara’ dengan tidak menjadikan orang kafir sebagai teman setia, tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin yang berkuasa, apalagi beraliansi dengan kafir yang memusuhi muslim dan tunduk pada rencana mereka. Haram hukumnya bersekutu dengan orang kafir untuk menyerang, lebih-lebih menyakiti muslim. Bahkan, wajib membenci dan memusuhi orang-orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum muslim.

Diriwayatkan dari Buraidah ra, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jangan kalian panggil seorang munafik dengan panggilan sayyid (tuan). Sebab sekalipun ia seorang tuan, berarti kalian telah membuat marah Rabb kalian.” (Sahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [760]).

Jika menyebut “tuan” kepada mereka saja membuat Allah marah, apatah lagi bergabung dengan aliansi yang dipimpin kafir harbi yang paling keras memerangi umat Islam, lalu tunduk mengikuti rencana mereka, bahkan mengirim pasukan atas perintahnya?

Di antara konsekuensi al-wala’ wal-bara’ adalah menunaikan hak-hak muslim, semisal berkasih sayang (al-mawaddah), memberikan pertolongan (an-nushrah) dengan jiwa dan hartanya, termasuk ketika mereka dijajah kaum kafir sebagaimana di Palestina hari ini. Ini wajib dilakukan muslim terhadap muslim lainnya tanpa melihat suku, ras, warna kulit, bangsa, dan lainnya.

Konsekuensi al-wala’ yang lain adalah tinggal di dar Islam dan hijrah dari dar kufur, berjihad di jalan Allah, tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, tidak mengambil hukum buatan mereka, tidak beraliansi dengan kaum kafir apalagi untuk menyakiti kaum muslim, dan sebagainya.

Namun demikian, Islam memperbolehkan pergaulan yang baik dengan kerabat yang kafir ataupun kafir zimi dan muahid. Ini karena al-wala’ merupakan sebuah perkara tersendiri, dan pergaulan yang baik merupakan perkara yang lain. Bahkan, syariat mengharamkan darah dan harta kafir zimi. Contohnya, Nabi ﷺ memberikan izin kepada Asma’ binti Abu Bakar ra. untuk berbakti kepada ibunya yang masih kafir. Nabi pun pernah bermuamalah dengan orang Yahudi dan musyrikin.

Implementasi al-Wala’ wal-Bara’ pada Masa Islam

Allah Swt. menegaskan sifat lembut terhadap mukmin dan keras terhadap kafir sebagai sifat Nabi ﷺ dan para sahabat. Firman-Nya dalam Al-Fath ayat 29,

مُّحَمَّدٌۭ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

“Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

Al-wala’ para sahabat tercatat apik dalam sirah Rasulullah ﷺ yang mengisahkan persaudaraan Anshar dan Muhajirin. Begitu pula al-bara’ mereka terhadap kaum kafir. Masyhur kita dengar kisah Abu Ubadah bin Jarrah yang muslim dan berada di barisan Nabi ﷺ, ia membunuh ayahnya sendiri yang menjadi pasukan kafir Quraisy saat Perang Badar, hingga menjadi sebab turunnya QS Al-Mujadilah ayat 22.

Firman-Nya,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya.”

Kekuatan akidah yang melahirkan al-wala’ juga telah menyatukan Shuhaib yang berasal dari Romawi, Bilal yang berasal dari Habsyah, Salman yang berasal dari Persia, dan Abu Bakar yang berasal dari Arab di bawah bendera laa ilaaha illa Allah.

Dengan demikian, persoalan al-wala’ wal-bara’ urgen untuk dipahami umat akhir zaman ini, yang notabene negeri-negeri muslim tengah dikuasai kafir Barat sekuler. Penjajahan politik, budaya, pemikiran yang menimpa kaum muslim terus-menerus menggoyahkan akidah umat. Kaum muslim jadi tidak kenal identitas keislamannya, bahkan malu menunjukkan identitas sebagai muslim. Mereka lebih nyaman hidup jauh dari ketaatan dan mengambil hukum Barat, mesra dan toleran dengan kaum kafir dan munafik, tapi bersikap keras terhadap muslim hanya karena perbedaan furu’iyyah (cabang) atau karena propaganda radikal versus moderat.

Pertolongan, dukungan, dan loyalitas mereka tidaklah didasarkan akidah, melainkan nasionalisme, suku, ataupun semisal gender sesama wanita (women support women). Mereka tidak peduli penjajahan Baitulmaqdis dan tidak tergerak berjihad menolong saudaranya hanya karena beda bangsa. Mirisnya, mereka justru bergabung dengan aliansi musuh bernama BoP yang kontroversial itu, bahkan bersedia menyerahkan harta Rp17 triliun dan jiwa (baca: pasukan) kaum muslim dengan mengirimkan tentara sesuai rencana mereka. Ma’adzallah!

Sungguh, kita wajib berlepas diri dari pemimpin kaum muslim yang berdiam diri dari memberikan nushrah kepada kaum muslim dan justru bermesra dengan kafir harbi penjajah. Kita juga berlepas diri dari para ulama yang diam terhadap kezaliman pemimpin dan membenarkannya. Termasuk berlepas diri dari tentara muslim yang seharusnya berjihad di bawah panji laa ilaaha illa Allah, tapi malah tunduk pada komando di bawah bendera aliansi yang dipimpin kaum kafir penjajah. Wallahualam. [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *