Penulis: MR Kurnia, dkk.
Sambungan dari “Melejitkan Valensi Diri” Bagian 1/3.
Muslimah News, TELAAH KITAB — Kini, agama hanya dianggap sebagai satu bagian (yang kecil) dari aturan-aturan kehidupan yang mengikat manusia. Bahkan, bagian tersebut dianggap bukanlah bagian yang cukup penting. Hal ini terasa lebih mempersulit langkah seorang hamba yang ingin melaksanakan aturan syarak, apalagi untuk beristikamah di jalan tersebut.
Beribadah secara istikamah dan istikamah dalam peribadahan memang satu ujian bagi seseorang. Berbagai kendala akan senantiasa ada kapan pun. Menunggu suatu waktu yang tidak ada lagi ujian dan cobaan untuk beribadah dan beristikamah adalah hal mustahil. Oleh karenanya, tidak ada jalan dan pilihan lain, kecuali menghadapi segala situasi dan kondisi yang ada, bagaimana pun, di mana pun, dan kapan pun.
Menjadi seorang ahli ibadah, dalam arti ibadah mahdhah, jelas membutuhkan banyak persiapan. Mulai dari persiapan pemahaman tentang makna ibadah itu sendiri, sampai persiapan agar mampu menghadapi berbagai rintangan dan cobaannya. Persiapan ini menjadi begitu penting karena berarti kita menyiapkan bekal guna menempuh suatu perjalanan teramat penting yang akan menentukan corak kehidupan kita nantinya, baik di dunia maupun akhirat.
Berikut ini persiapan-persiapan yang harus kita wujudkan segera. Pertama, menuntut ilmu. Siapa pun tidak akan mengagungkan Allah Swt. jika ia tidak mengetahui dan meyakini bahwa Allah Maha Agung. Demikian pula, seseorang tidak mungkin melakukan ibadah dengan benar jika ia tidak mengetahui dan meyakini aturan ibadah yang benar dalam Islam. Kalau kita umpamakan seseorang yang akan menempuh perjalanan ke Blitar, pertama-tama ia harus mengetahui letak kota Blitar, jalan yang harus dilalui, cara agar sampai ke kota itu, jalan yang tidak boleh dilalui, dan sebagainya. Tanpa mengetahui semua itu, ia tidak akan dapat sampai ke Blitar.
Ringkasnya, langkah pertama yang harus ditapaki oleh seorang hamba dalam menempuh jalan ibadahnya adalah menuntut ilmu Islam. Dengan demikian, ia akan mengetahui aturan-aturan Islam sehingga tidak berbuat semaunya sendiri. Inilah pintu gerbang yang harus dilalui untuk menempuh perjalanan panjang menuju ke tempat tujuan. Di sinilah letak pentingnya menuntut ilmu. Berbagai ayat dan puluhan hadis telah menguraikan tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu tersebut.
Dalam menuntut ilmu, beberapa hal berikut ini harus diperhatikan.
a. Ilmu Islam bukan hanya untuk kepuasan intelektual atau kepuasan akal saja, tetapi juga untuk diamalkan. Jadi, sesaat setelah mengetahui tentang sesuatu, kita harus langsung mengamalkannya.
b. Menuntut ilmu harus melalui proses fikriyah, yaitu melalui proses berpikir sehingga kita betul-betul mengerti, memahami, dan meyakininya.
c. Amalkan ilmu Islam yang telah diketahui sekarang juga, jangan menunda-nunda.
d. Lakukan upaya penyebaran ilmu yang dimiliki. Hal ini akan menambah kepahaman si pengembannya.
Kedua, bertobat. Inilah langkah kedua dalam jalan ibadah. Langkah ini merupakan langkah pembersihan hati atau jiwa atas segala kesalahan terdahulu. Hal ini sekaligus merupakan upaya untuk meringankan beban bagi perjalanan selanjutnya. Tobat, suatu perbuatan hati yang mencakup perasaan dan pengakuan bersalah, benci atas perbuatan salahnya tersebut, lalu berusaha serius untuk tidak mengulanginya lagi.
Insyaallah, tobat seperti inilah yang makbul. Diri yang lalai seringkali melupakan tobat. Padahal, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadis bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku memohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.”
Sesekali, bersengajalah untuk mandi, lalu salat tobat dua rakaat. Bermunajatlah ke hadirat Allah Taala. Mengadulah sepuas-puasnya. Memohonlah atas segala kemurahan-Nya. Angkatlah kedua tangan seraya berdoa, “Ya Allah, ya Rabb. Inilah hamba-Mu, datang ke hadapan-Mu membawa banyak cacat cela atas segala tingkah laku, membawa kekeruhan jiwa karena dosa, membawa harapan agar Kau tiada bosan mengampuni seluruh dosa dan memaafkan segala khilaf. Pandanglah aku dengan pandangan rahmat-Mu. Terimalah aku dengan kekuasaan magfirah-Mu. Ya Rabb, andai Engkau tidak memenuhi hajat hamba-Mu yang lemah ini, kepada siapa kami akan mencari ganti-Mu? Tiada Ilah selain Engkau. Ya Rahman, Ya Rahim, pelihara dan kuatkanlah kami dalam langkah ini.”
Ketiga, zuhud. Zuhud maknanya adalah tidak tergiur dan tertarik oleh dunia yang dapat menyebabkan lupa akhirat. Berzuhud bukanlah meninggalkan dunia sama sekali. Berzuhud bukanlah dengan mengasingkan diri, jauh dari komunitas, dan mengkhususkan diri untuk melakukan ritual-ritual ibadah semata. Ini karena Allah Swt. pun memerintahkan kita untuk mencari karunia yang diturunkan-Nya di dunia.
Allah Swt. berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashash: 77).
Mencari penghidupan duniawi jelas berbeda dengan menghambakan diri bagi kehidupan duniawi. Jiwa yang terbiasa berzuhud akan mewujudkan amal ikhlas dan istikamah. Ia tetap tegar meski manusia meremehkan atau melecehkannya.
Salman al-Farisi, salah seorang sahabat dan arsitek Perang Khandaq, berpesan, “Hati yang zuhud terhadap dunia akan terang oleh cahaya hikmat dan anggota badannya saling membantu untuk beribadah. Selain itu, amal ibadah orang yang zuhud sangat berharga di sisi Allah Taala.”
Sikap zuhud setidaknya harus tampak dalam memilih teman, serta memerangi setan dan hawa nafsu. Zuhud dalam memilih teman berarti tidak sembarangan berteman, tetapi memilih teman yang berkepribadian Islam. Teman yang berkepribadian Islam secara kasat mata dapat kita ketahui dari beberapa hal berikut.
1. Berkomitmen terhadap syariat Islam dengan niat yang ikhlas, jujur dalam ketaatan, dan kontinu beramal.
2. Tidak tampak kemaksiatan, bidah, atau pun hal-hal yang bertentangan dengan syarak dalam dirinya.
3. Sibuk menafakuri aib dan kesalahan sendiri, masa bodoh terhadap aib orang lain.
4. Beramar makruf nahi mungkar.
5. Sinar keimanan tampak dan terpancar dari wajahnya.
6. Bersemangat dan berdaya juang tinggi dalam menyelesaikan problematika umat.
7. Berdakwah penuh semangat, serta ikhlas dalam berjuang membangkitkan umat. [MNews/RY-YG]
Sumber: MR Kurnia, dkk., Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.
Bersambung ke “Melejitkan Valensi Diri” Bagian 2/3.

One thought on “[Politisi Transformatif] Melejitkan Valensi Diri (Bagian 2/3)”