Muslimah News, INTERNASIONAL — Aktivis dakwah Ustaz Latif al-Rasekh memberikan ulasannya terkait aksi protes di Iran yang mencakup segmen masyarakat yang luas dan muncul berulang kali.
Kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (14-1-2026), ia menyampaikan, memang rezim Iran menafsirkan gelombang protes baru yang meletus di Iran pada akhir Desember sebagai campur tangan asing. “Namun, retorika ini bukanlah hal baru bagi rezim Iran yang telah menggunakannya selama beberapa dekade. Dimulai dari Gerakan Hijau pada 2009, kemudian berlanjut saat ada aksi protes pada 2017, 2019, dan 2022,” paparnya.
Ia menerangkan, pada awalnya, tampak tidak logis jika menyangkal pengaruh kepentingan asing terhadap peristiwa-peristiwa ini. Apalagi, lanjutnya, Iran adalah pemain utama di kawasan ini dan tidak diragukan lagi bahwa melemahnya stabilitas domestiknya akan secara signifikan mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
“Bagi para pesaing geopolitiknya, seperti entitas Yahudi dan para mitranya, krisis domestik di Iran menandakan penurunan kekuatan dan kemampuannya untuk memberikan pengaruh di luar perbatasannya,” ucapnya.
Selain itu, paparnya, terdapat peran aktif dari sebagian kelompok oposisi Iran di luar negeri yang selama bertahun-tahun telah berupaya menginternasionalisasi masalah domestik negara tersebut dan menggambarkan protes sebagai bukti hilangnya legitimasi rezim secara total. “Media asing, platform daring, dan pernyataan politik turut memperkuat dampak protes, memberikan resonansi lebih lanjut, dan menarik perhatian internasional yang lebih luas,” ungkapnya.
Namun, menurutnya, yang penting adalah menilik akar penyebabnya. “Kekuatan asing mungkin mengeksploitasi situasi untuk melayani kepentingan mereka sendiri, menafsirkannya dengan cara yang menguntungkan mereka, bahkan berkontribusi pada peningkatan ketegangan melalui media, tetapi ini tidak berarti pihak asing yang menciptakan krisis itu sendiri,” ujarnya.
Tidak Sesuai Realitas
Ustaz Latif menilai, pernyataan bahwa protes di Iran adalah hasil campur tangan asing yang terpusat sama sekali tidak sesuai dengan realitas di lapangan. “Gerakan-gerakan yang melakukan aksi protes ini muncul secara sporadis di berbagai bagian negara karena berbagai alasan, bahkan sering kali muncul secara spontan. Mereka melibatkan kelompok-kelompok sosial dengan kepentingan yang sangat berbeda, dari pekerja industri dan pedagang kecil, hingga mahasiswa dan pensiunan,” bebernya.
Tuntutan para pengunjuk rasa, sambungnya, berkisar pada masalah ekonomi hingga slogan-slogan politik umum. “Ini tidak menunjukkan pengaruh asing yang terorganisir, melainkan akumulasi ketidakpuasan rakyat yang meluas di dalam masyarakat. Partisipasi berbagai segmen masyarakat dalam protes membuat pihak berwenang serta pengamat asing kesulitan untuk mengendalikan atau mengelola gerakan-gerakan ini,” ulasnya.
Ia mengungkapkan, penyebab dasar aksi protes saat ini terletak pada krisis ekonomi kronis. “Bagi Iran, krisis ini bukan lagi sekadar masalah makroekonomi abstrak. Krisis ini telah menjadi krisis yang memengaruhi kehidupan sehari-hari mayoritas warga Iran. Penurunan tajam nilai mata uang lokal secara berkelanjutan ditambah tingkat inflasi yang melebihi 40% telah memberikan pukulan keras terhadap standar hidup dan menghancurkan kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi yang diterapkan,” jabarnya.
Ia menuturkan, tingkat inflasi yang tinggi menimbulkan kenaikan harga makanan, perumahan, dan layanan dasar yang tidak terjangkau bagi jutaan keluarga. “Pendapatan riil masyarakat menurun sehingga mobilitas sosial praktis terhenti. Ditambah lagi, kebijakan salah urus, korupsi, ketidakseimbangan struktural, dan ketergantungan ekonomi pada aliran pendapatan yang terbatas. Ini mengakibatkan ketidakpuasan ekonomi berubah dari masalah sementara menjadi kondisi kronis jangka panjang, membuat protes dan demonstrasi hampir tidak dapat dihindari,” urainya.
Masalah Struktural
Oleh karena itu, Ustaz Latif mengingatkan, aksi protes di Iran tidak boleh dipandang sebagai konspirasi yang dipaksakan oleh kekuatan asing, tetapi terutama sebagai indikator masalah struktural domestik negara Iran. “Meskipun kekuatan asing tentu memiliki kepentingan dalam ketidakstabilan saat ini dan secara aktif berupaya mengeksploitasinya untuk keuntungan mereka sendiri, ini bukanlah akar penyebabnya, melainkan konsekuensinya,” cetusnya.
Dengan demikian, simpulnya, menafsirkan peristiwa ini semata-mata sebagai konspirasi asing memungkinkan otoritas Iran untuk menyederhanakan situasi dan menghindari penanganan isu-isu ekonomi, politik, dan kelembagaan yang mendasar. “Padahal, isu-isu inilah yang membentuk kehidupan sosial masyarakat Iran. Dalam lingkungan seperti itu, protes bukanlah kejadian langka, melainkan elemen yang berulang dalam kehidupan sehari-hari di Iran. Dalam keadaan ini, nama ‘islami’ yang disandang negara tersebut tidak lebih dari sekadar elemen kosmetik dan nominal,” tandasnya. [MNews/RA]
