Muslimah News, INTERNASIONAL — Presiden Palestina sekaligus Ketua Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Mahmoud Abbas mengeluarkan beberapa pernyataan untuk reformasi Palestina. “Menghormati pengorbanan para martir kita yang saleh, para tahanan kita yang gagah berani, para korban luka, dan keluarga mereka yang teguh adalah kewajiban nasional dan moral yang teguh, tidak tunduk pada tawar-menawar atau eksploitasi politik,” ucapnya, Senin (22-12-2025).
Ia juga menegaskan kembali komitmennya untuk menyelesaikan reformasi konstitusional dan politik, termasuk bekerja untuk mempersiapkan kerangka konstitusional yang diperlukan untuk transisi yang tertib dari tahap otoritas nasional ke tahap kenegaraan. ”Memperbarui undang-undang pemilihan dan menerbitkan undang-undang modern untuk partai politik di atas landasan demokrasi yang menjamin kepatuhan terhadap program politik PLO, legitimasi internasional, solusi dua negara, satu hukum, dan satu angkatan bersenjata yang sah,” imbuhnya.
Program reformasi ini, lanjutnya, juga mencakup pengembangan sektor pendidikan, termasuk meninjau dan memperbarui kurikulum pendidikan sesuai dengan standar internasional. ”Konsisten dengan identitas nasional Palestina, mempromosikan nilai-nilai toleransi, penghormatan terhadap hukum, dan penolakan terhadap kekerasan dan hasutan, tanpa mengurangi hak-hak nasional kita yang telah ditetapkan atau narasi sejarah kita,” jelasnya.
Konfirmasi Pengkhianatan
Juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis internasional menilai pernyataan Abbas sebagai pengkhianatan. ”Pernyataan Presiden Palestina adalah konfirmasi pengkhianatan, kejahatan, dan kebohongan terang-terangan kepada rakyat Palestina,” ujarnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Kamis (25-12-2025).
Ia mengatakan, rakyat Palestina sudah melihat bahwa para pejabat Otoritas Palestina saat melakukan reformasi mengikuti arahan Amerika Serikat (AS) dan Eropa. ”Trump telah menempatkan reformasi Otoritas Palestina di bawah pengawasan dan tunduk pada persetujuan atau penolakan AS!” bebernya.
Di bidang pendidikan, lanjutnya, Uni Eropa memberikan bantuan kepada Otoritas Palestina agar rencana perubahan kurikulum selaras dengan perjanjian Barat, UNESCO, dan internasional, seperti yang telah berulang kali dinyatakan Abbas.
”Reformasi politik mewajibkan setiap kandidat untuk menyerahkan deklarasi yang berkomitmen pada program PLO. Ini telah membuat pengakuan PLO sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina. Juga mengikuti programnya, yang mencakup melepaskan sebagian besar wilayah Palestina, memisahkan perjuangan Palestina dari Islam dan umat muslim, mendirikan negara Palestina di atas kertas sebagai aparat keamanan yang bekerja untuk kepentingan entitas kriminal,” urainya.
Program itu, ia menjelaskan, akan dimulai dengan mengakui entitas Yahudi, kemudian memerangi Islam, mengubah kurikulum sesuai standar UNESCO, membuat undang-undang yang menghancurkan keluarga. ”Komitmen yang khianat dan kriminal terhadap Palestina dan rakyatnya ini telah menjadi syarat dasar untuk mengikuti pemilihan umum,” tandasnya.
Adapun reformasi ekonomi, terangnya, rakyat akan makin dibebani dengan pajak yang membuat rakyat Palestina lebih sulit daripada hidup di gurun yang tandus. ”Reformasi ekonomi ini dilakukan ketika Otoritas Palestina gagal membayar gaji guru dan pegawai negeri, sementara para pejabatnya menghamburkan dana publik seolah-olah itu warisan dari ayah mereka dan hak mereka,” kritiknya.
Ia meyakini, pihak berwenang di Palestina tidak mengambil alih masalah apa pun yang menyangkut rakyat tanpa mempersulit rakyat, juga tidak mengambil sumber penghidupan apa pun bagi rakyat tanpa menghancurkannya.
”Hukum sosial yang dirancang akan menghilangkan kesucian dan kehormatan, serta penghancuran keluarga dan nilai-nilai Islam. Kurikulumnya tidak menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri umat, tetapi justru memberikan gagasan-gagasan Barat dengan kekafiran dan kemerosotan moralnya,” ucapnya miris.
Ia membeberkan, Otoritas Palestina menutup pintu kebaikan, membuka pintu kejahatan dan memasukinya, serta menggandeng Barat untuk mengendalikan leher rakyat Palestina.
Ciptaan Barat
Jubir mengatakan, Otoritas Palestina dan organisasinya adalah ciptaan Barat, mirip dengan rezim-rezim penindas di negeri-negeri muslim. ”Otoritas Palestina tidak lain adalah tangan orang-orang kafir di tanah kita, menyalahgunakan, merebut, dan menghasut, sama seperti rezim-rezim yang menerapkan apa yang didiktekan kepada mereka pagi dan sore,” tandasnya.
Ia mencontohkan, hukum yang diberlakukan di Yordania tecermin di Mesir, kurikulum yang diubah di Palestina sama seperti yang diubah di Hijaz. ”Anda melihat semua rezim menuntut rencana reformasi 2030. Rezim-rezim ini tidak lain adalah tangan orang-orang kafir melawan orang-orang beriman, memberi orang-orang kafir jalan untuk menguasai orang-orang beriman,” tegasnya.
Ia meyakini, memutus antek-antek Barat adalah cara untuk menjaga agama, kekayaan, nyawa, dan kehormatan. ”Lebih jauh lagi, Palestina tidak akan dibebaskan, kecuali dengan mencabut tangan rezim-rezim ini, termasuk PLO dan Otoritas Palestina, dari perjuangan Palestina dan mengembalikannya kepada umat Islam. Perjuangan akan dikelola oleh orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Jika pemimpin mereka di Timur menyerukan, ’Mari berjihad!’ Barat akan menjawab, ’Aku di sini, wahai tentara Allah! Wahai kuda-kuda Allah, naiklah!’,” ungkapnya.
Terakhir, jubir mengingatkan umat dengan firman Allah Taala dalam QS Al-Maidah: 54, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [MNews/IA]
