Membangun Generasi Pejuang, Pewaris Peradaban Islam

Membangun Generasi Pejuang, Pewaris Peradaban Islam

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KOLOM – Jika kita cermati gambaran masyarakat Islam terdahulu, kita akan mendapati bahwa pada masa-masa itu lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam. Umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi khairu ummah, sebaik-baik umat yang mampu memimpin umat-umat lain, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga belasan abad lamanya.

Namun, jika kita refleksikan ke masa sekarang, keprihatinanlah yang muncul. Bagaimana tidak? Saat ini kita tidak bisa lagi menemukan sosok generasi rabbani dalam wadah masyarakat islami; yang ada justru masyarakat “tanpa bentuk” dengan anak-anak yang mayoritas terdidik oleh sistem kehidupan liberal, hedonistis, dan materialistis. Mereka berada dalam keterpurukan di segala bidang.

Potret Buram Generasi Hari Ini

Tidak dimungkiri bahwa generasi muda muslim hari ini sedang dibombardir oleh konten-konten negatif yang merusak pemikiran dan tingkah laku mereka sehingga menjauhkannya dari adab dan aturan agamanya. Konten kekerasan, pornografi pornoaksi, ide-ide sekuler liberal, beredar di medsos dengan mudah diakses seolah tanpa barier. Dampak negatifnya sangat nyata, sungguh sangat memprihatinkan. Lantas bagaimana nasib bangsa ini jika generasi muda hari ini didera berbagai pemikiran yang merusak, kekerasan, serta makin akrab dengan narkoba dan tindak kejahatan?

Pada 2023, Kemen PPPA mencatat ada lebih dari 18.200 anak mengalami kekerasan dan 51% terjadi di rumah. Data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 yang diluncurkan Kemen PPPA juga menunjukkan prevalensi kekerasan fisik anak laki-laki usia 13–17 tahun naik menjadi 21,22% dan perempuan 15,56% (naik sekitar 5%). Sedangkan kekerasan seksual pada anak laki-laki naik menjadi 8,34% dan anak perempuan 8,82%. (Situs Kemen PPPA, 4-2-2025).

Tidak hanya itu, pergaulan bebas pun mengancam mereka. BKKBN pada 2024 menyebutkan bahwa 59% remaja perempuan dan 74% remaja laki-laki usia 15–19 tahun pernah melakukan hubungan seksual. Perilaku berisiko remaja mencakup kehamilan remaja usia 15–19 tahun mencapai 36 per 1.000 remaja putri, pernikahan dini 7%, hingga kasus aborsi mencapai 750 ribu hingga 1,5 juta setiap tahun. (bkkbn[dot]go[dot]id, Jatim Times, 4-2-2025).

Belum lagi kasus mental illness yang melanda remaja hari ini yang sungguh sangat menyedihkan. Kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa akhir-akhir ini pun kian marak. Kadang tidak habis pikir, orang-orang terpelajar seperti mereka bisa mengakhiri hidupnya dengan cara yang Allah Swt. haramkan. Data Bareskrim Polri menunjukkan kasus bunuh terus meningkat. Pada 2022, ada 887 jiwa melayang, pada 2023 menjadi 1.288 kasus. Menurut data Pusiknas Bareskrim Polri, sebanyak 1.270 kasus bunuh diri ditangani Polri sejak Januari hingga 7 November 2025. Dari total 1.343 pelaku bunuh diri, sebanyak 7,66% di antaranya berusia di bawah 17 tahun. (pusiknas[dot]polri[dot]go[dot]id, 11-11-2025).

Mencari Akar Masalah

Kondisi buruk yang menimpa generasi muda muslim hari ini tentu tidak terjadi dengan serta-merta. Ini semua terjadi karena umat Islam berada dalam cengkeraman sistem sekuler kapitalisme yang mengakibatkan hilangnya gambaran nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya. Posisi Islam yang seharusnya dijadikan asas dalam berpikir dan bertingkah laku, digantikan oleh pemikiran sekuler kapitalisme. Negara dan penguasanya tidak memiliki standar halal-haram, tidak peduli urusan adab dan moral. Ketidakhadiran agama dalam kehidupan serta kentalnya paham sekuler menjadikan masyarakat seperti ini sebagai habitat yang cocok bagi tumbuh suburnya berbagai kemaksiatan.

Dalam sistem seperti ini, fungsi keluarga, masyarakat, dan negara benar-benar mandul. Strukturnya rapuh karena tidak tegak di atas landasan takwa. Keluarga atau orang tua tidak mampu berfungsi sebagai madrasah dan benteng pertama bagi anak-anaknya, larut dalam problem ekonomi dan relasi yang jauh dari ideal dan harmonis. Sementara itu, masyarakat menjadi rimba raya yang merusak fitrah kebaikan generasi mudanya.

Walhasil, anak-anak tumbuh dalam habitat yang jauh dari harapan. Ketahanan ideologinya lemah selemah ketahanan ideologi keluarga, masyarakat, dan negara. Wajar jika negeri sebesar dan sekaya Indonesia ini mudah dijajah dan didikte negara lain. Sumber dayanya dikuras, manusianya diperalat demi kepentingan kapitalisme global.

Kalau saja kaum muslim mau menengok kepada Islam dan memahaminya dengan benar, sebenarnya Islam telah memberikan jawaban tuntas terhadap permasalahan apa pun, termasuk keterpurukan generasi muda hari ini. Kita diperintahkan oleh Allah Swt. untuk mengikuti seluruh apa yang telah Allah Swt. turunkan dan meneladan utusan-Nya, Muhammad ﷺ.

Generasi Ideal, Cerminan Sistem Ideal dan Ibu Mumpuni

Keberadaan generasi yang terbentuk dalam sebuah peradaban tidak lepas dari sistem atau aturan yang diterapkan di dalamnya. Ketika sistem aturan yang diterapkan adalah buatan manusia, niscaya tidak akan lahir generasi ideal. Sebaliknya, ketika aturan yang diterapkan datang dari Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, akan lahir generasi ideal, sebagaimana dahulu ketika aturan atau sistem Islam diterapkan di muka bumi, yakni pada masa Negara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ dan para khalifah setelah beliau.

Jika menengok ke belakang ketika sistem Islam ditegakkan, kita akan melihat bahwa keluarga muslim adalah keluarga pejuang, keluarga pembela Islam tepercaya. Keluarga Rasulullah ﷺ dan para sahabat merupakan sosok teladan bagi umat Islam. Mereka adalah keluarga yang senantiasa gigih berjuang menegakkan Islam di muka bumi. Mereka mampu menjadi imam bagi orang-orang bertakwa. Mereka bertanggung jawab menjaga, membela, dan menyebarkan risalah ini. Mereka pun tidak membiarkan keluarganya berada dalam kesesatan karena keluarga menjadi prioritas dalam memperjuangkan Islam.

Selain itu, kualitas generasi yang terbentuk tidak lepas dari keberhasilan para ibu terdahulu dalam mendidik anak-anak mereka. Alhasil, mereka benar-benar menjadi generasi rabbani yang unggul, mengerti tentang arti dan hakikat hidup, memahami makna kebahagiaan hakiki, dan semangat pengabdian pada Islam.

Hal ini niscaya, mengingat dalam sosok para ibu terdahulu juga tertanam keyakinan yang kuat bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Hari saat semua amal perbuatan manusia—baik dan buruk—akan ditampakkan dan dihisab untuk kemudian diberi balasan yang setimpal.

Para ibu ini juga mengerti bahwa tidak ada satu pun yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki pada anak-anak mereka selain iman dan ketakwaan. Tidak ada harta yang mereka wariskan kepada anak-anak mereka selain keimanan yang kuat, kecintaan akan ilmu dan amal saleh, serta semangat berkorban demi kemuliaan umat dan Islam semata. Sampai-sampai tidak jarang kita dapati kenyataan betapa para ibu pada masa itu rela melepas anak-anak kesayangan mereka untuk menjemput maut atau meraih kemuliaan yang mungkin diperoleh di medan-medan jihad fi sabilillah.

Kisah keluarga Yasir bin Amir bin Malik ra. selalu lekat dalam ingatan kita. Yasir bersama istrinya, Sumayyah binti Khubath ra., dan anak mereka, Amar bin Yasir ra., termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam. Pasangan ini berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang saleh. Sang suami amat sayang kepada istri dan anaknya. Sumayyah dikenal sebagai seorang istri yang baik dan mengabdi kepada suaminya. Bukan hanya keluarga sakinah, mereka pun mempertaruhkan nyawanya demi membela Islam. Jelas, mereka adalah keluarga sakinah pejuang dan penegak Islam.

Begitu pula keluarga Khansa’. Tanggung jawab terhadap umat membuat mereka menyemangati putra-putranya untuk membela Islam. Dalam Perang Qadisiyyah, Khansa’ berangkat bersama mereka menyertai pasukan. Di medan peperangan, saat malam ketika pasukan sedang siap berperang, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk mengobarkan semangat mereka dan agar mereka tidak lari dari peperangan. Khansa’ berharap putra-putranya syahid di jalan Allah Swt.. Atas izin Allah, keempat putranya mendapatkan kemuliaan syahid. Inilah keluarga mulia, kemuliaan akhirat sebagai tujuan, sekaligus poros hidup mereka.

Tampak jelas betapa pentingnya peran umat Islam dan keluarga muslim bagi keberlangsungan perjuangan. Oleh karena itu, para pembela dan pejuang Islam harus mempersiapkan anggota keluarganya agar berada dalam barisan dakwah, menjadi penerus estafet perjuangan, dan senantiasa siap membela Islam.

Membangun Generasi Pejuang Adalah Tanggung Jawab Bersama

Sesungguhnya, hadirnya sistem Islam di tengah  umat merupakan hal yang sangat penting hari ini. Penerapan sistem Islam akan melahirkan generasi muda muslim berkualitas dari ibu-ibu tangguh. Oleh sebab itu, perjuangan tegaknya aturan Islam ini merupakan hal mendesak yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh umat Islam. Apalagi dalam situasi saat ini ketika sistem sekuler kapitalisme berkuasa, ajaran Islam dihinakan, dan Rasulullah ﷺ dinistakan. Umat Islam pun diadu domba oleh musuh-musuh Islam. Bahkan, mereka bertindak seenaknya memperalat umat Islam untuk menghancurkan Islam dan menghalangi kebangkitan Islam.

Jika bukan kita yang memperjuangkannya, lalu siapa lagi yang akan membela dan memperjuangkan Islam hadir di tengah umat? Seluruh umat Islam wajib membela agamanya dan berjuang mengembalikan tegaknya hukum Islam, terlebih generasi mudanya. Hanya dengan dakwah ideologis sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ tujuan ini akan terwujud.

Hanya saja, perjuangan dakwah menuju tegak sistem Islam ini bukanlah jalan mudah untuk dilalui oleh umat Islam. Semua elemen umat, laki-laki dan perempuan, terlebih generasi mudanya, harus bergerak bersama, berada dalam barisan dakwah. Mereka akan menjadi penerus estafet perjuangan, penguat, pelindung, dan pembela dakwah Islam. 

Sudah seharusnya para pemuda muslim sadar bahwa mereka adalah target kunci berbagai upaya Barat untuk mengadang kebangkitan Islam. Pemuda muslim harus bergerak melawan arus pembajakan potensinya dan istikamah berjuang menegakkan syariat Islam dalam naungan Khilafah. Pemuda muslim juga harus mampu memimpin umat, berada di garda terdepan dalam barisan perjuangan yang mulia ini.

Untuk mewujudkan ini semua, pemuda muslim harus memiliki pemahaman dan keyakinan yang kuat bahwa mereka adalah penolong agama Allah. Senantiasa membekali diri dengan pemahaman Islam dan menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam berjuang sehingga gerak langkah perjuangannya selalu dalam koridor syarak. Ia juga harus meyakini bahwa di pundak dan tangannyalah tergenggam harapan umat untuk menyelamatkan kehidupan ini, harapan yang hanya akan terwujud dengan tegaknya Khilafah Islamiah.

Mari seluruh elemen umat bersatu padu dalam barisan kelompok boleh dakwah Islam ideologis. Umat Islam seluruhnya, semua kalangan, harus segera bangkit dari keterpurukan dengan jalan kembali kepada Islam kafah dalam naungan Khilafah. Keluarga muslim harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa, dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi. Ini agar ketakwaan individu tetap terpelihara, keluarga tetap kukuh karena terfungsikan dengan benar, masyarakat tetap terjaga sebagai mesin kontrol penguat ketakwaan, dan negara pun menjadi penjaga umat dari celah kerusakan.

Dengan perjuangan yang dilakukan, semoga pertolongan Allah Swt. segera datang untuk kaum muslim di seluruh dunia. Derajat umat Islam pun akan kembali terangkat, yakni sebagai sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk memimpin manusia.

Firman Allah Swt.,

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Ali ‘Imran: 110). [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *