Sistem Demokrasi Hanya Alergi kepada Islam

Sistem Demokrasi Hanya Alergi kepada Islam

Penulis: Ummu Naira Asfa

Muslimah News, OPINI — Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa membolehkan keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI) mendaftar menjadi prajurit TNI. Namun, ia menyatakan bahwa ideologi atau ajaran komunis tetap dilarang.

Menurutnya, TAP MPRS 25/1966 menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang, tetapi tidak ada kata-kata “under bow” dan semacamnya, melainkan menyatakan komunisme, leninisme, dan marxisme sebagai ajaran terlarang. Adapun mengenai keturunan dari PKI sendiri, menurutnya tidak ada pelarangan. (Makassar Terkini, 1/4/2022).

Politisi PDIP Ruhut Sitompul turut mendukung pernyataan Panglima TNI tersebut. Ia justru menyindir bahwa keturunan PKI lebih baik dibanding orang yang mengaku cucu Nabi, tetapi memiliki kelakuan melebihi PKI. Pernyataan ini ia sampaikan melalui akun Twitternya pada Jumat (1/4/2022).

Menko Polhukam Mahfud MD ikut menjelaskan. Ia mengatakan bahwa TNI bukanlah institusi pemerintahan pertama yang menghapus syarat keturunan bekas anggota PKI tidak bisa mendaftar sebagai anggota militer. Mahkamah Konstitusi (MK) adalah yang pertama kali memberikan kesempatan bagi keluarga atau mantan anggota PKI dan organisasi yang terlibat dalam G30S untuk ikut berpolitik di Indonesia.

Ketentuan tersebut sudah dihapus sebagai syarat untuk mendaftar sebagai calon legislatif, kepala daerah, serta pegawai negeri sipil sejak beberapa tahun lalu. Pernyataan Mahfud tersebut mengacu pada keputusan MK tahun 2004 yang membatalkan ketentuan pasal 60 huruf g UU 12/2003 tentang Pemilu.

Jadi, TNI bukan yang pertama mengizinkan keturunan PKI ikut seleksi untuk mendaftar sebagai anggota militer dan lain-lain. (CNN Indonesia, 4/4/2022).

Stigma terhadap Islam karena Kebencian Tidak Berdasar

Stigma terhadap Islam dan kaum muslim terus saja dilakukan, bahkan sekarang secara terang-terangan, seperti yang dilakukan politisi PDIP tadi. Ia berani menyatakan, “… orang yang mengaku cucu Nabi, tetapi memiliki kelakuan melebihi PKI.” Ini artinya sama saja mengatakan bahwa orang-orang Islam itu lebih kejam dan sadis dibandingkan PKI. Astagfirullah!

Jelas ini adalah tuduhan dan fitnah terhadap Islam dan kaum muslim. Jangankan bersikap kejam kepada manusia lain, Islam bahkan melarang muslim dan mukmin menganiaya binatang dan binatang peliharaan; mewajibkan umatnya saling menolong, mengasihi, bertoleransi terhadap nonmuslim; dan lain-lain.

Islam itu agama yang sangat manusiawi dan sangat beradab kepada siapa saja. Lantas, dengan dasar apa orang-orang itu terus-menerus menuduh Islam dengan berbagai stigma dan tidak bertanggung jawab kalau bukan karena kebencian dan kedengkian dari hati mereka?

Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran: 118,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Demokrasi Hanya Alergi dengan Islam, Bukan yang Lain

Polemik soal bolehnya keturunan PKI masuk TNI dan lembaga negara lain bukan hal baru. Hal ini sudah difasilitasi oleh UU. Ini menandakan bahwa demokrasi sebagaimana dipraktikkan saat ini sangat adaptif terhadap pemikiran ajaran dan apa pun, tetapi—sayangnya—tidak terhadap pemikiran dan ajaran Islam.

Dalam pandangan demokrasi, Islam dianggap harus selalu diwaspadai, bahkan dikriminalisasi. Ajaran Islam dicitraburukkan dan para penganutnya dilabeli teroris, radikal, fundamentalis, dan sejenisnya.

Para ulama hanif yang menyuarakan Islam kafah dan lurus malah ditangkap, dituduh dan dikriminalisasi. Orang-orang yang dengki dan benci kepada Islam berusaha sebisa mungkin menjauhkan peluang Islam untuk dipraktikkan secara utuh di dalam kehidupan muslim. Subhanallah.

Allah Swt. berfirman dalam At-Taubah: 32,

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.”

Namun, Allah Taala mengingatkan kita bahwa Allah lebih berkuasa atas segala sesuatu, termasuk lebih hebat rencana dan kehendak-Nya dibandingkan manusia.

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54)

Bagaimanapun fitnah dan tuduhan kepada Islam dan penganutnya, Islam adalah ajaran agama dan pandangan hidup yang paripurna. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin, membawa rahmat (kasih sayang) tidak hanya untuk seluruh manusia, tetapi untuk seluruh jagat raya. Menghancurkan Islam sama saja dengan menghancurkan bumi beserta seluruh alam raya. Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *