Muslimah News, FOKUS — Gencatan senjata yang digembar-gemborkan dunia ternyata tidak lebih dari ilusi rapuh yang segera runtuh oleh dentuman bom tentara Zion*s. Hanya hitungan hari sejak jeda diumumkan, Gaza kembali dipenuhi asap, jeritan, dan puing bangunan. Menurut Gaza Government Media Office, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Zion*s telah melanggar gencatan senjata hampir 500 kali sejak gencatan mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, menewaskan lebih dari 340 warga Palestina dan melukai ratusan lainnya. Serangan udara, tembakan tank, hingga serbuan mendadak menjadi bukti bahwa bagi Zion*s gencatan senjata bukan perjanjian, melainkan jeda untuk menyusun manuver berikutnya.
Bersamaan dengan itu, wilayah Tepi Barat ikut membara. Pemukim ilegal Zion*s membakar Masjid Hajja Hamida di Deir Istiya, menyulut api yang melalap tiga mushaf Al-Qur’an, menghitamkan dinding masjid, dan memecahkan kaca-kacanya. Saksi dan pejabat lokal mengatakan serangan dilakukan sebelum Subuh, dan jelas-jelas menyasar simbol, kehormatan, dan perasaan umat Islam. Di dinding masjid ditemukan tulisan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw.. Kejadian yang dilaporkan media internasional itu menunjukkan bahwa kebencian ideologis Zion*s bukan hanya retorika, ia tampak nyata di atas puing masjid dan mushaf yang hangus.
Di Gaza, Zion*s bahkan mengukuhkan “Garis Kuning”, pembatas baru yang membelah Gaza menjadi dua wilayah besar, mencaplok hampir separuh jalur tersebut. Warga yang tinggal hanya beberapa meter dari garis itu hidup dalam ancaman tembakan, drone yang mengintai, hingga buldoser yang sewaktu-waktu meratakan ladang dan rumah. Media internasional menggambarkan bagaimana Zion*s berupaya membentuk “kondisi baru” di Gaza sebelum pasukan internasional tiba. Ini bukan sekadar pelanggaran gencatan, tapi skenario pengosongan wilayah yang dirancang dengan rapi dan bertahap.
Semua fakta ini menggambarkan dengan jelas bahwa Zion*s tidak menghentikan kejahatan meski dunia memaksa “damai”. Namun pertanyaannya, mengapa dunia justru terus mendorong kompromi yang hanya menguntungkan penjajah?
Tipuan di Balik Perdamaian
Jika ditilik lebih jauh, resolusi damai yang dibangun Barat sejak awal tidak pernah menjamin keselamatan rakyat Gaza. Bahkan, di tengah gencatan sekalipun, bom tetap jatuh dan warga tetap terbunuh. “Damai” menjadi label yang menenangkan hati publik dunia, padahal Gaza terus digenosida dan digerogoti wilayahnya sedikit demi sedikit. Fakta bahwa ratusan warga telah tewas hanya dalam fase jeda menunjukkan bahwa resolusi damai hanyalah jubah diplomatik untuk menutupi strategi Zion*s yang mengulang pola lama, yakni melemahkan Gaza saat dunia sibuk mengurus pencitraan perdamaian.
Lebih jauh lagi, tipuan ini tidak hanya digerakkan oleh Zion*s. AS dan sekutunya berada di balik seluruh arsitektur proses perdamaian palsu ini. Selama puluhan tahun, AS menjadi satu-satunya mediator yang mengatur format negosiasi, menyetir arah diplomasi, hingga mendikte syarat-syarat gencatan yang selalu menguntungkan Zion*s.
Inisiatif pasukan perdamaian, proposal stabilisasi keamanan, maupun proyek rekonstruksi yang mensyaratkan sidelining (menyingkirkan peran) H4m4s sejatinya bukan solusi, melainkan mekanisme untuk mengokohkan pendudukan Zion*s sekaligus mempertahankan hegemoni AS di kawasan. Dunia disuguhi drama diplomasi, sementara Washington memastikan status quo tidak terganggu dan kepentingan geopolitiknya tetap aman.
Pada saat yang sama, media Zion*s seperti Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa pemerintah Tel Aviv sedang berlomba mengubah kondisi di lapangan sebelum pasukan asing masuk. Ini menyingkap strategi besar mereka yang sejalan dengan desain AS untuk menciptakan realitas politik yang mengunci warga Palestina dalam ruang sempit dan tak berdaya. Dunia menganggapnya sebagai dinamika keamanan, padahal ia adalah ekspansi sistemis yang dilegitimasi oleh mekanisme internasional.
Dengan kata lain, dunia telah tertipu oleh narasi damai yang sejatinya dirancang bersama oleh Zion*s dan pendukung utamanya, AS. Diplomasi, konferensi, hingga kesepakatan keamanan hanyalah instrumen untuk mempertahankan dominasi geopolitik Barat sambil melumpuhkan perlawanan Palestina secara politik dan militer. Ketika dunia sibuk berunding, Zion*s sibuk mencaplok, dan AS memastikan itu berjalan mulus.
Oleh karena itu pula, ambisi Zion*s tidak mungkin dihentikan dengan diplomasi yang sudah puluhan tahun gagal. Sejarah membuktikan bahwa penjajahan hanya berhenti ketika kekuatan nyata menghadang, bukan lewat perjanjian yang selalu dilanggar. Dari sudut pandang umat Islam, proyek Zion*s yang terang-terangan ingin menguasai seluruh Palestina dan dilindungi kekuatan global hanya dapat dihentikan oleh kekuatan syar’i yang menggerakkan jihad secara terarah dan berotoritas, yaitu sebuah kekuatan politik yang dulu pernah membebaskan Baitulmaqdis dari tangan penjajah yang tidak lain adalah Khilafah.
Jalan Pembebasan
Melihat rangkaian kejahatan yang terus berlangsung, mulai dari pembakaran masjid hingga ratusan pelanggaran gencatan setiap pekan, umat Islam harus kembali pada perspektif syariat. Palestina adalah tanah umat Islam, pembelaan terhadapnya tentu bukan sekadar isu kemanusiaan.
Sejarah telah menegaskan hal itu. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra., Yerusalem dibebaskan secara damai, bahkan kunci kotanya diserahkan langsung oleh pemimpin gereja kepada Umar. Berabad-abad kemudian, ketika pasukan Salib menduduki kota itu, Shalahuddin Al-Ayyubi menyatukan kekuatan umat dan merebut kembali Al-Quds pada 1187 M. Dua peristiwa besar ini menunjukkan dengan jelas bahwa Palestina berada dalam penjagaan kaum muslim sepanjang sejarahnya.
Jelas, tawaran damai dari AS, Zion*s, maupun negara-negara sekutu mereka bukanlah jalan keluar. Setiap kompromi yang diterima hanya akan membuat Gaza makin lemah dan Zion*s makin leluasa mengubah fakta di lapangan. Skema damai semacam itu tidak pernah dimaksudkan untuk menghentikan penjajahan, melainkan untuk mengamankan posisi Zion*s dan membatasi perlawanan umat Islam.
Umat Islam wajib menolak setiap kompromi damai karena hanya menguntungkan penjajah. Umat juga perlu meneladan ketegasan para pemimpin Islam dalam menjaga tanah suci. Khalifah Abdul Hamid II juga pernah menjadi contoh nyata. Ketika Theodore Herzl menawarkan emas dan dukungan politik agar Palestina dijual kepada kaum Zion*s, beliau menolak dengan tegas. Hal itu makin menegaskan bahwa tanah Palestina adalah amanah umat Islam dan tidak boleh berpindah tangan atas dasar kepentingan apa pun.
Jauh sebelum itu, Rasulullah saw. memberi teladan tentang cara menyikapi pengkhianatan yang dilakukan Yahudi. Ketika Bani Qainuqa’ mengkhianati perjanjian Madinah dan merendahkan kehormatan seorang muslimah, Rasulullah saw. tidak menoleransi pengkhianatan itu. Bani Nadhir juga diusir setelah merencanakan pembunuhan terhadap Nabi. Bani Quraizhah dihukum tegas setelah bersekongkol dengan Quraisy dalam Perang Khandaq. Khaibar ditaklukkan ketika mereka terus memprovokasi dan mengancam stabilitas kaum muslim. Setiap pelanggaran perjanjian, Rasulullah saw. tanggapi bukan dengan kompromi yang melemahkan umat, melainkan dengan ketegasan politik dan militer dalam rangka melindungi masyarakat dan menegakkan kehormatan Islam.
Di sinilah peran Khilafah sebagai junnah, yakni perisai umat yang memimpin dan melindungi secara nyata. Dalam sistem ini, seluruh kekuatan kaum muslim berupa pasukan, logistik, diplomasi, dan ekonomi akan dipadukan dalam satu komando, bukan tercerai-berai seperti hari ini. Khilafah akan memutus hubungan dengan penjajah, menghentikan normalisasi, dan mengerahkan kekuatan militer negeri-negeri muslim secara terpusat dan terorganisasi untuk membebaskan tanah suci.
Perjuangan menegakkan Khilafah ditempuh melalui pembinaan umat dengan pemikiran Islam, lalu menginteraksikan ide-ide tersebut ke tengah masyarakat hingga menjadi opini umum yang mendorong tuntutan kolektif menjadikan Islam sebagai dasar negara. Pada saat yang sama, para pemilik kekuasaan dan kekuatan militer juga dibina dengan pemikiran Islam sehingga memiliki kesadaran yang sama. Ini bertujuan agar mereka dapat memberikan dukungan secara sukarela demi tegaknya pemerintahan Islam.
Aktivitas seperti ini dijalankan oleh kelompok dakwah Islam melalui pembinaan ideologis yang konsisten dan perjuangan politik yang sahih, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. saat melakukan pembinaan kepada para sahabat di Darul Arqam hingga tersebarnya dakwah yang melahirkan masyarakat Madinah sebagai pusat berdirinya Daulah Islam.
Dengan tegaknya kembali Khilafah, umat Islam akan bersatu. Kekuatannya akan jauh melampaui Zion*s, karena dunia Islam memiliki puluhan juta personel militer aktif dan cadangan, industri senjata yang berkembang dari Turki hingga Pakistan, teknologi drone, rudal, kapal perang, serta SDA energi yang menguasai jalur perdagangan dunia.
Yang lebih penting dari itu semua adalah kekuatan spiritual umat Islam berupa keimanan, tekad, dan rasa tanggung jawab terhadap Al-Quds yang sepanjang sejarah selalu menjadi bahan bakar kemenangan besar kaum muslim. Jika seluruh potensi ini akan dipusatkan dalam satu kepemimpinan, Zion*s tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk bertahan.
Sungguh kebutuhan tegaknya Khilafah bukan lagi idealisme, tapi tuntutan nyata untuk menghadirkan pembebasan sejati bagi Palestina. Selama dunia terus mendorong “damai” yang mematikan, hanya umat Islam dengan kepemimpinan syariat yang mampu mematahkan penjajahan dan mengembalikan kemuliaan Al-Quds di bawah penjagaan kaum muslim.
Saatnya Bersatu
Pada akhirnya, seluruh rangkaian fakta, dari agresi yang tidak pernah berhenti, kebijakan damai yang timpang, serta pengkhianatan yang terus diulang, menunjukkan bahwa Palestina tidak membutuhkan serangkaian kompromi baru, melainkan arah perjuangan yang benar. Sejarah telah menyaksikan negeri para nabi itu dibebaskan dan dijaga bukan dengan diplomasi yang lemah, melainkan dengan kepemimpinan yang memegang teguh syariat serta keberanian politik yang mengakar pada keimanan.
Krisis yang berlangsung hari ini bukan hanya akibat kekejaman penjajah, tapi juga absennya kekuatan pemersatu umat. Tanpa kepemimpinan yang mampu menyatukan negeri-negeri muslim, mengarahkan kekuatan militer secara sahih, dan menempatkan jihad pada posisinya secara syar‘i, umat akan terus dipaksa menerima “perdamaian” yang melemahkan dan realitas politik yang menguntungkan penjajah.
Oleh sebab itu, pembebasan Palestina adalah bagian dari amanah besar kebangkitan umat. Ia menuntut kepemimpinan yang berani menolak dominasi Barat, tidak tunduk pada tekanan internasional, serta meyakini bahwa kemenangan hanya datang dari ketaatan pada syariat. Selama kepemimpinan itu belum tegak, penderitaan akan berulang. Sebaliknya, ketika ia hadir, umat akan kembali bersatu, memiliki arah, kekuatan, dan izzah yang telah lama dirampas.
Kini, saat dunia sibuk merayakan ilusi damai, justru umat Islamlah yang memikul tugas agung untuk menghadirkan kembali kepemimpinan yang mampu mewujudkan persatuan dan pembebasan sejati bagi Palestina, sebagaimana ia pernah dibebaskan dan akan dibebaskan lagi. Wallahualam bissawab. [MNews/SK-NA]
Caption:
Gencatan senjata di Gaza hanya ilusi. Gaza masih saja digenosida. Zion*s tidak menghentikan kejahatannya meski dunia memaksa “damai”. Umat Islam wajib menolak setiap kompromi damai karena menguntungkan penjajah. Umat harus meneladan Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau dalam menghadapi Yahudi. #Fokus

Tegakkan Khilafah
Supaya Allah Redhoi kita dunia akhirat
Sepakat dengan solusi Islam