Kebrutalan Zion*s Menjadi-jadi, Hanya Khilafah yang Mampu Menyolusi

Kebrutalan Zion*s Menjadi-jadi, Hanya Khilafah yang Mampu Menyolusi

Muslimah News, FOKUS — Setidaknya 20 orang, termasuk lima jurnalis yang bekerja di media internasional, tewas terbunuh dalam serangan ganda Zion*s Yahudi di Rumah Sakit Nasser yang berlokasi di Khan Younis, Gaza bagian selatan, pada Senin (25-8-2025).

Para jurnalis tersebut bekerja untuk kantor berita internasional seperti Associated Press, Reuters, Al Jazeera, dan Middle East Eye seperti dikonfirmasi oleh media-media tersebut. Menurut kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), empat petugas medis juga tewas dalam serangan ini.

Serikat Jurnalis Palestina mengecam keras serangan itu. Mereka menyebutnya sebagai perang terbuka terhadap media independen dengan tujuan menakut-nakuti jurnalis dan mencegah mereka menjalankan tugas profesional untuk mengungkap kejahatan kepada dunia. Menurut data Serikat Jurnalis Palestina, lebih dari 240 jurnalis Palestina telah tewas akibat serangan Zion*s Yahudi di Gaza sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.

Bentuk Kepanikan Zion*s

Pembunuhan para jurnalis adalah bentuk kepanikan Zion*s Yahudi setelah propagandanya untuk mengendalikan kebrutalannya yang dikenal dengan istilah “Hasbara” gagal total. “Hasbara” adalah istilah yang merujuk pada propaganda Zion*s untuk mengendalikan narasi seputar genosida Gaza. 

Sebagaimana banyak diberitakan, Zion*s telah menganggarkan dana sebesar US$150 juta (sekitar Rp2,4 triliun) untuk anggaran propaganda 2025 sebagai upaya membentuk opini global atas genosida Gaza. Kegagalan propaganda Zion*s ini dapat dilihat dengan jelas dari makin meningkatnya jumlah negara yang memutuskan untuk mengakui Palestina. Prancis, Inggris, Malta, dan Kanada menjadwalkan untuk mengakui kenegaraan Palestina pada September ini.

Kelaparan di Gaza juga telah membukakan semua kebohongan yang telah dirancang Zion*s yang mengatakan tidak ada kelaparan di Gaza. Gambar anak-anak yang kekurangan gizi dengan bagian tulang yang menonjol hanya berbalutkan kulit beredar di media massa dan media sosial. Beredar juga video warga Gaza yang mencari makanan di pusat-pusat bantuan yang dikelola oleh AS dan Zion*s, tetapi bukan makanan yang mereka dapatkan, mereka justru kehilangan nyawa karena ditembak tentara Israel.

Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sebuah sistem pemantauan keamanan pangan global, mengeluarkan peringatan keras bahwa Jalur Gaza saat ini sedang mengalami skenario terburuk berupa bencana kelaparan. Laporan tersebut menyoroti tingkat kelaparan, malnutrisi akut, dan kematian akibat kelaparan yang mengkhawatirkan di seluruh Gaza, terutama di Kota Gaza. Konsumsi makanan dan tingkat malnutrisi akut telah melampaui ambang batas kelaparan.

Dunia Diam

Di tengah gemuruh dunia yang konon menjunjung tinggi hak asasi manusia, di sudut kecil bernama Gaza, derita mereka seolah tidak menemukan tempat di hati masyarakat dunia. Anak-anak tertimbun reruntuhan rumahnya sendiri. Para ibu menangis kehilangan anak-anaknya. Rumah sakit menjadi puing, sekolah rata dengan tanah,  kamp pengungsian menjadi sasaran, jurnalis dan tenaga medis menjadi korban, tetapi dunia tetap memilih diam.

Jika tragedi semacam ini terjadi di Eropa atau negara-negara Barat, reaksi dunia akan berbeda. Ketika perang pecah di Ukraina, misalnya, dunia seolah bersatu. Bantuan mengalir deras, liputan media mendunia, simpati meluap dari segala arah. Namun, mengapa ketika puluhan ribu warga Palestina terbunuh yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan tidak ada suara pembelaan. Inilah wajah standar ganda dunia di bawah sistem kapitalisme. Dunia tidak benar-benar bergerak atas dasar kemanusiaan. Dunia hanya bergerak ketika kepentingan geopolitik, ekonomi, atau citra publik mereka terganggu.

Banyak negara besar yang secara terbuka atau diam-diam menjadi pendukung Zion*s Yahudi. Amerika Serikat, misalnya, secara rutin mengucurkan miliaran dolar bantuan militer ke Yahudi. Negara-negara Eropa pun, meski tampak lebih hati-hati, tetap menjalin kerja sama strategis dan teknologi. Dengan adanya hubungan ekonomi dan militer yang erat, kritik terhadap Zion*s Yahudi akan mengguncang relasi internasional yang menguntungkan. Oleh karena itu, mereka memilih diam. Bagi mereka, lebih mudah menutup mata atas penderitaan muslim Gaza daripada kehilangan kontrak senjata atau akses pasar. Inilah wajah asli kapitalisme yang tidak pernah mengenal nilai kemanusiaan dan nilai akhlak, sedangkan yang ada hanya kepentingan materi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga internasional lainnya dalam banyak kasus tampak tidak lebih dari penonton. Resolusi demi resolusi dilahirkan, tetapi tidak pernah diindahkan. Zion*s Yahudi sebagai negara yang secara rutin melanggar hukum internasional dan resolusi PBB tidak pernah benar-benar mendapatkan sanksi serius. Mengapa? Karena kekuatan veto yang dimiliki negara-negara seperti AS membuat semua upaya diplomasi tumpul, PBB menjadi panggung diplomasi yang tidak bergigi.

Dua Miliar Umat Islam Tidak Berdaya

Di internal umat Islam, paham nasionalisme dan nation state yang bersemayam di benak kaum muslim telah membuat hampir dua miliar umat Islam di dunia tidak mampu menghadapi Zion*s yang jumlahnya tidak lebih dari tujuh juta.

Karena paham ini, kaum muslim, khususnya para penguasa mereka, tidak merasa bahwa penderitaan bangsa Palestina pada hakikatnya adalah penderitaan seluruh kaum muslim. Mereka lupa konsep ukhuah islamiah dalam ajaran Islam yang meniscayakan adanya anggapan bahwa seluruh kaum muslim di mana pun di dunia ini, termasuk bangsa Palestina, adalah saudara mereka yang wajib dibela saat mereka ditindas oleh musuh.

Nation state juga menyebabkan umat kehilangan pemahaman bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan Zion*s Yahudi atas wilayah itu sehingga solusinya adalah mengusir Zion*s dari tanah Palestina. Mereka tidak mendesak para pemimpinnya untuk mengirimkan tentara dengan persenjataan yang sudah Allah titipkan kepada para penguasa itu untuk melawan Zion*s. Nation state pula yang menyebabkan solusi hakiki Palestina dengan jihad dan Khilafah belum menjadi kesadaran umat, bahkan belum menjadi opini umum mayoritas umat Islam.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sejatinya menjadi wadah persatuan negeri-negeri muslim justru akan tidak berdaya, Liga Arab pun tidak bergigi. Semua ini tentu bukan karena OKI atau negara-negara Arab tidak mampu melawan Zion*s, tetapi lebih disebabkan oleh paham nasionalisme.

Rasulullah saw. mencela keras pelaku asabiah dengan sebuah sebutan jahiliah,

وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Dan barang siapa mati di bawah bendera fanatisme golongan, dia marah karena fanatisme golongan atau karena ingin memenangkan bangsanya kemudian dia mati maka matinya seperti mati jahiliah.” (HR Muslim no. 3525)

Gaza adalah bukti nyata atas kegagalan nasionalisme dan nation state dalam menyelesaikan masalah umat. Gaza berjuang sendiri, bahkan pemberitaan perihal Gaza agar dunia tidak melupakannya kini tengah dibungkam dengan dibunuhnya para jurnalis. Namun sungguh, pembunuhan para jurnalis itu tidak akan memadamkan perjuangan rakyat Gaza.

Umat Butuh Kepemimpinan Politik Global

Realitas di atas semestinya menjadi renungan kita semua bahwa persoalan Palestina tidak bisa diserahkan pada para pemimpin umat Islam, apalagi kepada lembaga-lembaga internasional. Umat Islam butuh kepemimpinan politik global yang hanya berkhidmat untuk mengurus dan menjaga rakyatnya, sekaligus berkhidmat demi kemuliaan Islam dan umatnya. Itulah Khilafah yang diwariskan oleh Rasulullah saw. dan para khalifah setelahnya. Para ahli fikih mendefinisikan Khilafah sebagai,

رِئَاسَةٌ عَامَةٌ فِي أُمُوْرِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَهِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا فِي الدُّنْيَا، لِإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ، وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ اْلإِسْلَامِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ

”Kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia. Dengan kata lain, yaitu kepemimpinan umum bagi umat Islam secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syarak dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.”

Khilafah akan menyatukan miliaran umat Islam di berbagai belahan dunia berdasarkan kesatuan akidah dan syariat serta menghilangkan batas-batas nation state. Umat harus faham bahwa wilayah Palestina milik kaum muslim. Wilayah itu pertama kali dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra. pada 15 H (638M). Kemudian Palestina dibebaskan untuk yang kedua kalinya oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Sepanjang sejarah, Palestina tetap berada dalam kesatuan wilayah Khilafah hingga tetes darah penghabisan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang melindunginya dari segala upaya busuk Zion*s yang ingin menguasainya.

Kemuliaan Palestina akan kembali terwujud hanya jika Khilafah tegak. Khilafah yang akan memimpin pembebasan Palestina dengan mengerahkan tentara beserta segala kekuatan yang dimilikinya. Oleh karena itu, sudah saatnya kaum muslim dari seluruh dunia terus-menerus mengobarkan perjuangan untuk Gaza dengan tegaknya Khilafah. Masa depan Palestina dan dunia hanya ada pada Islam dan Khilafah.

Jadi tidak ada pilihan bagi umat selain terus menggelorakan pembelaan hingga Gaza terbebas seutuhnya dari cengkeraman Zion*s. Kaum muslim tidak boleh berhenti untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap Gaza agar menjadi kesadaran umum (wa’yul ‘am) dan opini umum (ra’yul ‘am) di seluruh dunia. Allah Taala berfirman di dalam ayat,

  وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib menolong mereka.” (QS Al-Anfal [8]: 72).

Menegakkan Khilafah, Wajib!

Perjuangan menegakkan institusi Khilafah bukan perjuangan mudah. Prasyaratnya adalah munculnya kesadaran yang benar di tengah umat tentang hakikat Islam sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan, sekaligus ideologi yang menjadi lawan bagi kapitalisme yang diemban oleh negara adidaya.

Umat juga harus dipahamkan bahwa seluruh krisis yang terjadi di dunia, khususnya dunia Islam, termasuk penjajahan Zion*s di Palestina, adalah akibat bercokolnya ideologi kapitalisme yang diemban negara Barat, yaitu Amerika dan sekutunya. Mereka berkehendak melemahkan kepemimpinan umat Islam dengan menciptakan krisis berkepanjangan di negeri-negeri Islam, memecah kekuatan, merampas kekayaan, serta mengangkangi kedaulatan mereka.

Semua malapetaka ini bisa menimpa umat setelah musuh Islam berhasil menumbangkan institusi politik Islam, yaitu Khilafah, pada 28 Rajab 1342 H. Padahal, Khilafah inilah yang ditakuti lawan dan selama belasan abad telah memimpin umat dengan syariat Islam hingga berhasil meraih puncak kejayaannya sebagai negara adidaya.

Oleh karenanya, urgensi mengembalikan Khilafah yang akan menegakkan syariat secara kafah tidak bisa lagi ditunda-tunda. Menegakkan kembali Khilafah hukumnya wajib. Ini sesuai dengan kaidah syariat mâ lâ yatimmu al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib (suatu perkara yang tidak sempurna pelaksanaan sebuah kewajiban kecuali dengannya, sesuatu tersebut wajib adanya).

Generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat, telah berijmak akan kewajiban menegakkan Khilafah. Imam Al-Haitsami menyatakan, ”Ketahuilah, para sahabat ra. telah berijmak (bersepakat) bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah zaman nubuwwah (kenabian) berakhir adalah wajib. Bahkan, mereka menjadikan itu sebagai kewajiban terpenting. Terbukti bahwa mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut dengan menunda penguburan jenazah Rasulullah saw.” (Al-Haitsami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 17).

Menurut Imam Al-Qurthubi, tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat seorang khalifah atau menegakkan Khilafah) di kalangan umat dan para imam mazhab (Al-Qurthubi, Tafsîr Al-Qurthubî, 1/264).

Penegakan Khilafah ini membutuhkan konsolidasi dan peran semua pihak yang sudah paham untuk melibatkan diri melakukan gerakan perubahan pemikiran global secara sistemis. Tidak ada pilihan bagi umat selain terus menggelorakan pembelaan terhadap Gaza dengan mewujudkan Khilafah sampai janji Allah terwujud. Inilah janji Allah yang senantiasa kita nantikan,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur [24]: 55).

Khilafah akan menghapus penjajahan Zion*s Yahudi atas Gaza dan membebaskannya dengan mengirimkan pasukan dan logistik. Khilafah akan menjaga nyawa setiap muslim maupun nonmuslim yang menjadi warga negaranya. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorangimam itu (laksana) perisai. Ia akan dijadikan perisai yang orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng.” (HR Bukhari dan Muslim). [MNews/IA-RR]

Share

One thought on “Kebrutalan Zion*s Menjadi-jadi, Hanya Khilafah yang Mampu Menyolusi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *