Muslimah News, INTERNASIONAL — Mengutip Kantor Berita ideologis internasional di Amerika Serikat (AS), Sabtu (5-4-2025), telah dilaksanakan Konferensi Khilafah tahunan oleh kelompok dakwah ideologis Amerika secara hibrida.
Ratusan orang berkumpul secara luring dan ribuan orang menyaksikan secara daring dalam konferensi bertajuk “World at Crossroads: The Ideological Crisis and the Path Forward (Dunia di Persimpangan Jalan: Krisis Ideologi dan Jalan Maju ke Depan)” pada Sabtu (5-4-2025).
Kontradiksi
Menurut panitia, tujuan Konferensi Khilafah ini untuk menghadapi kontradiksi yang berkembang dalam klaim Barat atas keadilan, kebebasan, dan martabat manusia.
“Konferensi tersebut mempertemukan para pemimpin pemikiran dan profesional untuk mengkaji komitmen selektif Barat terhadap kebebasan dan konsekuensi akibat mengabaikan bimbingan ilahi dalam politik dan masyarakat,” ujar panitia.
Dalam konferensi ini hadir para narasumber yang menyerukan kembalinya Islam sebagai cara hidup komprehensif yang menyatukan dan mengangkat umat.
“Konferensi ini mengirimkan pesan yang jauh melampaui Amerika. Pesan ini merupakan seruan bagi umat Islam di Barat dan di seluruh dunia untuk menyadari masa yang sedang kita jalani,” tutur panitia.
Aktivis dakwah Haris Abu Nurayn membuka konferensi dengan pemaparannya berjudul “The Mask Unraveled: Contradictions in the Claim of Western Values (Topeng Terbongkar: Kontradiksi dalam Klaim Nilai-Nilai Barat)” yang mengungkap bahwa slogan-slogan demokrasi digunakan untuk menutupi penyensoran, kejahatan perang, dan penindasan.
Ia menyoroti penggunaan manipulasi media dan larangan media sosial untuk melindungi narasi Zion*s, bahkan ketika jurnalis di Gaza dibunuh dan mahasiswa di Amerika ditangkap dan diculik oleh penegak hukum karena kejahatan mengkritik kejahatan Zion*s.
Selanjutnya, aktivis dakwah Dr. Abdur-Rafay menyampaikan pengalamannya merawat korban luka di Gaza dalam pemaparan bertajuk “Gaza’s Healthcare Under Siege (Layanan Kesehatan Gaza dalam Keadaan Terkepung)”.
Ia menggambarkan runtuhnya infrastruktur layanan kesehatan yang terkepung Zion*s dan anak-anak terpaksa menjalani amputasi tanpa anestesi. “Penderitaan tersebut bukan sesuatu yang kebetulan. Itu adalah hasil dari kebijakan dan blokade yang disengaja dan didukung oleh kekuatan asing,” ungkapnya.
Pemaparan terakhir disampaikan aktivis dakwah Dr. Mohammad Abdullah tentang “Muslims in America: How to Move Forward (Umat Muslim di Amerika: Cara Melangkah Maju)”.
Menurutnya, kaum muslim harus bangkit dari politik partai (sekuler demokrasi) dan batas-batas negara, serta untuk berhubungan kembali dengan identitas Islam mereka.
Lebih lagi, lanjutnya, kaum muslim mestinya menolak ideologi buatan manusia yang gagal dan kembali ke sistem yang diwahyukan oleh Allah Swt., sistem yang memberikan keadilan bagi semua orang dan menyatukan umat beriman di bawah satu panji.
Ini sesuai perintah Allah Swt. dalam QS An-Nisa: 135, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”
Dalam kesempatan ini, panitia juga menyampaikan, konferensi tersebut menegaskan bahwa dunia tidak kekurangan solusi. “Yang menghalangi adalah penolakan terhadap kebenaran Islam. Tugas kita untuk meneruskannya demi menghidupkan kembali umat dan mendatangkan rahmat Allah Swt. ke seluruh dunia,” ucapnya. [MNews/RA]
