[Kabar] Pakar: Dengan Model Pemilihan Pemimpin Saat Ini, Harapan Akan Menjadi Sekadar Harapan

[Kabar] Pakar: Dengan Model Pemilihan Pemimpin Saat Ini, Harapan Akan Menjadi Sekadar Harapan

Muslimah News, NASIONAL — Pemilihan pemimpin di tingkat nasional dan daerah beberapa waktu ini mendapat respons akademisi sekaligus pakar ekonomi Nida Saadah, S.E., Ak., M.E.I..

Dalam pandangannya, setelah dilangsungkannya beberapa pemilihan kepala daerah di kabupaten, kota, dan lain-lain, tampak masyarakat menggantungkan harapan bahwa kondisi mereka akan berubah menjadi baik dengan berbagai pemilihan yang sudah berlangsung.

“Namun, kalau dianalisis dari sudut pandang yang diajarkan oleh Islam tentang konsep kepemimpinan sebagaimana tercantum dalam salah satu kitab yang ditulis Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, yakni Asy-Syakhshiyah Islamiyah juz ke-2 yang membahas mas’uliyatul ‘ammah (tanggung jawab publik), maka harapan itu hanya akan kembali menjadi harapan,” tuturnya kepada MNews, Senin (16-12-2024).

Parameter Islam

Menurutnya, ini berdasarkan parameter konsep kepemimpinan dalam bernegara yang diajarkan oleh Islam. “Ada dua kriteria utama. Pertama dari karakter pemimpinnya. Kedua dari konsepnya melakukan pengurusan, termasuk cara mengatur regulasi yang dijalankan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Islam mengajarkan karakter seorang pemimpin, ujarnya, apalagi sebagai negarawan harus memiliki sifat yang kuat dari sisi kepribadian keislamannya.

“Juga harus memiliki rasa takwa yang tinggi kepada Allah Taala karena itu menjadi buffer atau pengerem agar kekuatannya tidak berubah menjadi tirani. Dalam regulasi mengurus rakyatnya pun, Islam memberikan syarat kalau pemimpin harus berpegang kepada syariat Islam,” ungkapnya.

Oleh karenanya, ia menerangkan, pemimpin itu tidak akan mengambil harta rakyat, tetapi justru mengajarkan kepada rakyat apa yang menjadi haknya, rakyat pun bisa melakukan kontrol dari apa yang dinasihatkan oleh penguasa.

“Selama ini tidak berjalan, sampai dengan memasuki tahun 2025 nanti, bisa dipastikan tidak akan ada perubahan yang berarti, selain hanya kembali berganti orang,” ulasnya.

Ia menekankan, kalau rakyat menginginkan ada perubahan yang hakiki, maka yang harus dibenahi terlebih dulu adalah apa yang diinginkan oleh masyarakat, apa pemikiran yang ada pada benak masyarakat, apa perasaan yang ada pada benak masyarakat.

“Selama pemikiran dan perasaan mereka tentang konsep kepemimpinan tidak mengacu kepada syariat Islam, maka yang terjadi hanya pergantian orang dari waktu ke waktu. Kondisi masyarakat tidak berubah, tetap tidak berubah menjadi lebih baik, apalagi dalam kehidupan akhiratnya,” jelasnya.

Terlebih lagi, ia mengingatkan, bisa dipastikan bahwa segala yang berjalan di dunia ini tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada Allah Taala ketika tidak diatur sebagaimana yang Allah Taala tetapkan.

PR Besar

Menurutnya, ini PR besar umat Islam di Indonesia. “Aktivis dakwah sebagai bagian dari masyarakat, punya tanggung jawab untuk bersama-sama membangun kesadaran pemikiran umat dan bersama-sama membangun konsolidasi perasaannya,” ucapnya.

Dalam hal ini, tambahnya, dengan memahami konsep kepemimpinan yang diajarkan oleh Islam sehingga as-sulthan lil ummah, kekuasaan yang sejatinya memang ada pada diri umat, bisa diberikan kepada yang memang berhak untuk itu. “Tentu yang berhak adalah yang memenuhi prasyarat sebagaimana yang dijelaskan di dalam Islam,” pungkasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *