[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 4/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 4/22)

Sambungan dari Bagian 3/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad terus berjalan di jalannya, sama sekali tidak menghentikan dakwahnya, dan tidak berpaling sedikit pun dari jalannya, maka mereka sekali lagi berpikir keras dan berketetapan untuk menentang dan membenamkan dakwah Muhammad dengan berbagai cara. Syekh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri telah meringkasnya di dalam bukunya, Ar-Rabiq al-Makhtûm, menjadi empat cara yang secara ringkas sebagai berikut.

Pertama, mengejek, menghina, mengolok-olok, mendustakan, dan melecehkan Rasul ﷺ. Mereka juga menuduh beliau sebagai penyihir dan gila, serta melecehkan para sahabat Rasul ﷺ.

Kedua, menjelek-jelekkan dan membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran beliau. Mereka juga melakukan propaganda dusta, menyifati Al-Qur’an sebagai dongengan orang-orang terdahulu, sebagai kebohongan yang diada-adakan, dan bahwa Rasul menerimanya dari manusia yang mengajarkannya kepada beliau.

Ketiga, menentang Al-Qur’an dengan menyebutnya sebagai dongengan orang-orang terdahulu. Mereka juga mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang Al-Qur’an. Di antaranya adalah Nadhr bin al-Harits. Ia pergi ke Hirah untuk mempelajari kata-kata raja-raja Persia, perkataan Rustum, dan Asfandiyar.

Ketika Rasul saw. mengadakan suatu pertemuan untuk mengingatkan kepada Allah dan mengingatkan akan siksa-Nya, maka An-Nadhr berada di belakang beliau. Ia berkata, “Demi Allah, kata-kata Muhammad tidaklah lebih bagus dari perkataanku. Kemudian ia mengucapkan perkataan raja-raja Persia, perkataan Rustum, dan yang lainnya. Ia juga berkata, “Dengan apa perkataan Muhammad bisa lebih baik daripada perkataanku?”

Di antara cara-cara yang dilakukan An-Nadhr adalah ia membeli budak-budak wanita penyanyi. Tidaklah ia mendengar seseorang cenderung kepada Muhammad, kecuali ia akan menghadiahkan satu orang hamba sahaya wanita penyanyi. Ia pun mencukupi orang itu dengan makanan dan minuman. Hamba sahaya wanita itu akan bernyanyi untuk orang tersebut hingga tidak tersisa lagi kecenderungannya kepada Islam.

Berkaitan dengan ini, turunlah firman Allah Swt., “Di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS Luqman: 6).

Keempat, menyodorkan beberapa bentuk penawaran. Mereka berusaha mempertemukan Islam dengan kejahiliahan di tengah jalan. Mereka menyatakan bahwa orang-orang musyrik siap meninggalkan sebagian yang ada pada diri mereka, dengan syarat Nabi saw. pun meninggalkan sebagian yang ada pada diri beliau.

Terdapat riwayat dari Ibnu Jarir dan Ath-Thabrani yang bermakna bahwa orang-orang musyrik memberikan penawaran kepada Rasul saw. agar beliau menyembah tuhan-tuhan mereka satu tahun, lalu mereka akan menyembah Tuhan beliau. Dalam riwayat lain oleh Al-‘Abd bin Humayd yang bermakna bahwa mereka berkata kepada Rasul saw., “Jika engkau menerima tuhan-tuhan kami, kami akan menyembah Tuhanmu.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa Aswad bin Abdul-Muththalib bin Asad bin Abdul-‘Uzâ, Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Al-‘Ash bin Wa’il menawari Rasul saw. yang sedang tawaf mengelilingi Ka’bah. Mereka berkata, “Muhammad, kemarilah. Kami mau menyembah apa yang kamu sembah, tetapi engkau pun harus menyembah apa yang kami sembah sehingga kita bisa saling bekerja sama dalam satu urusan. Jika apa yang engkau sembah ternyata lebih baik daripada apa yang kami sembah, kami siap melepaskan bagian kami. Akan tetapi, jika ternyata apa yang kami sembah lebih baik daripada yang engkau sembah, engkau harus meninggalkan bagianmu.”

Namun, Allah Swt. kemudian menurunkan surah Al-Kafirun, “Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Kalian pun bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Kalian pun tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian dan untukkulah agamaku.’” (QS Al-Kafirun: 1—6).

Ketika orang-orang Quraisy melihat bahwa cara-cara tersebut ternyata tidak berhasil, mereka lalu mengadakan pertemuan sekali lagi. Mereka merupakan komite yang beranggotakan 25 orang, terdiri dari para pembesar Quraisy dengan dipimpin oleh Abu Lahab. Mereka membicarakan Rasul ﷺ.

Setelah bermusyawarah dan berpikir, komite tersebut mengambil ketetapan bulat untuk menentang Rasul saw. dan para sahabat beliau. Mereka tidak akan mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang yang masuk Islam. Mereka akan menentang dengan berbagai siasat dan cara.

Mereka mengambil keputusan itu dan membulatkan tekad untuk melaksanakannya sekalipun Rasul saw. berada di bawah perlindungan Abu Thalib. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 4/22)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *