Muslimah News, TELAAH KITAB — Turunlah firman Allah Swt., “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan memang ia pasti binasa.” (QS Al-Masad: 1).
Terdapat banyak riwayat mengenai seruan Rasul saw. kepada orang-orang Quraisy di bukit Shafa. Akan tetapi, yang terpenting dalam masalah ini adalah bahwa seruan ini dilakukan secara terang-terangan. Hal itu sebagai pelaksanaan firman Allah Swt., “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS Asy-Syu’ar’: 214).
Sesungguhnya seruan Rasul saw. memuat seruan kepada orang-orang Quraisy dan Kaab untuk menyelamatkan mereka dari api neraka. Rasul menjelaskan bahwa beliau tidak memiliki sesuatu pun untuk menyelamatkan mereka dari azab Allah Taala.
Peringatan dan seruan tersebut belum bergemuruh di Makkah al-Mukarramah hingga turun firman Allah Swt., “Sampaikanlah olehmu secara terang-terangan semua yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS Al-Hijr: 94).
Setelah itu, Rasul saw. mulai menyerang kemusyrikan, melecehkan penyembahan berhala, menjelek-jelekkan tuhan-tuhan selain Allah, dan menjelaskan kesesatan praktik penyembahan berhala itu. Hal tersebut merupakan serangan yang amat keras kepada orang-orang Quraisy sejak dari akarnya.
Hal itu bagaikan suara petir bagi mereka. Orang Quraisy memahami bahaya seruan Muhammad yang demikian bagi mereka dan bagi para pembesar Quraisy. Mereka juga menyadari sejauh mana pengaruh seruan Muhammad itu terhadap kepemimpinan mereka atas orang-orang Arab yang terwarnai dengan celupan keagamaan. Oleh karena itu, orang- orang Qaraisy (para pembesar Quraisy) bersikap menentang dan mendebat dakwah Muhamamd ﷺ.
Setelah melakukan pengkajian dan serangkaian pemikiran, mereka menawarkan suatu tawaran kepada paman beliau, yaitu Abu Thalib. Mereka menuntut Abu Thalib agar menyelesaikan perkara yang terjadi di antara mereka (orang-orang Quraisy) dengan Muhammad. Akan tetapi, Abu Thalib menolak permintaan mereka dengan suatu penolakan yang bagus.
Ia berkata kepada mereka dengan kata-kata yang lembut, lalu mereka kembali. Oleh karena itu, Rasul saw. dapat terus melakukan dakwah menyeru manusia, mengajak mereka kepada agama Allah, dan menyampaikan kebenaran.
Ketika dakwah secara terang-terangan ini baru berjalan dalam waktu yang tidak terlalu lama hingga dekat datangnya musim haji, maka orang-orang Quraisy khawatir orang-orang Arab akan menerima agama Islam. Oleh karena itu, mereka memandang bahwa mereka harus memiliki suatu perkataan yang akan mereka katakan kepada orang-orang Arab berkenaan dengan diri Muhammad ﷺ.
Seteleh melalui musyawarah, diskusi, dan perdebatan, mereka mengambil keputusan akan mengatakan kepada orang-orang Arab bahwa Muhammad itu adalah seorang penyihir yang kata-katanya bisa memisahkan seseorang dengan suaminya, seseorang dengan bapaknya, seseorang dengan saudaranya, dan seseorang dengan keluarganya.
Mereka benar-benar melaksanakan keputusan mereka itu dengan menyampaikannya kepada manusia dan tidak terkecuali pada musim haji. Orang-orang Quraisy memperingatkan mereka (yakni orang orang Arab) agar tidak mendekati dan mendengarkan Muhammad, serta mereka menyebutkan perkara Muhammad ﷺ.
Abu Jahal adalah orang yang paling bersunggguh-sungguh melakukannya. Ia selalu menguntit di belakang Nabi saw. ketika Nabi saw. menyeru manusia pada penyembahan kepada Allah Yang Esa. Abu Jahal berkata kepada mereka, “Janganlah kalian menaatinya karena ia tidak lain adalah orang yang telah keluar dari agama dan seorang pendusta.”
Hal itu menyebabkan tersebarnya perkara (agama) Rasul sehingga beliau disebut-sebut di seluruh Arab. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 3/22)”