Muslimah News, INTERNASIONAL—Mengenang satu tahun Thufan al-Aqsha (7 Oktober 2023), aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah mengemukakan, kebusukan-kebusukan dunia Barat terbongkar. “Dari Thufan al-Aqsha kita tahu, ada upaya dunia Barat, yakni Amerika Serikat (AS) supaya Zion*s tetap eksis dan bercokol di Palestina,” ujarnya dalam Bincang Hangat Tokoh bertajuk “Satu Tahun Refleksi Palestina: Dunia Belajar Apa?” pada Jumat (15-11-2024).
Thufan al-Aqsha, katanya, telah membelalak mata dunia. “Ada sesuatu yang lain yang selama ini mungkin tidak bisa dan tidak mereka lihat di Gaza. Bukan hanya umat Islam melihat itu, tetapi seluruh dunia melihat itu. Apa yang membelalak itu? Zion*s Yahudi bangsa yang lemah,” cetusnya.
Umat Islam, ujarnya, punya kepentingan untuk mengambil sisi-sisi positif dan melanjutkan apa yang sudah dimulai pada Oktober 2023. “Ini karena sepanjang satu tahun, mestinya ada proses-proses politik yang terjadi, bagi umat Islam ini menguntungkan, tetapi bagi dunia Barat bisa merugikan,” ucapnya.
Kepentingan umat Islam, lanjutnya, yaitu melanjutkan hal-hal positif yang ada pada Thufan al-Aqsha supaya kewajiban kita terhadap Palestina bisa kita wujudkan, membebaskan Palestina. “Jadi, bukan cuma menghentikan pembantaian atau cuma gencatan senjata,” jelasnya.
Bongkar
Iffah menjabarkan, banyak hal yang bisa dibongkar dari Thufan al-Aqsha yang menghentak dunia. “Dari Thufan al-Aqsha 7 Oktober, ada banyak kebusukan dunia Barat. Itu tidak hanya Yahudi, tetapi semua sekutu mereka. Kita menyaksikan ada standar ganda, hipokrisi terhadap Gaza dan Ukraina. Mengapa perhatian terhadap Gaza seperti ini, ternyata dunia Barat bersikap standar ganda menyikapi pembantaian di wilayah Palestina,” ulasnya.
Ia menerangkan, Barat mati-matian membela entitas Yahudi dengan memasok senjata meskipun mereka sudah melakukan pembantaian, genosida, dan segala kejahatan lainnya. “Kenapa begitu? Berarti ada yang tidak beres dalam sikap dunia Barat. Berarti Barat punya kepentingan, pokoknya agar Zion*s tetap berada di Palestina,” ujarnya.
Menurutnya, ada kebusukan-kebusukan yang dibongkar dari nilai-nilai hak asasi manusia (HAM), hak merdeka, pembelaan terhadap kelompok rentan, perempuan, dan anak-anak. “Padahal berapa persen yang dibantai di Palestina itu, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Kok enggak ada suaranya, yang teriak-teriak tentang HAM,” ungkapnya heran.
Kalau mereka berbicara tentang nilai HAM, kebebasan, membela perempuan, dan anak-anak, lanjutnya, maka itu hanyalah untuk memenangkan kepentingan mereka. “Banyak orang tidak meragukan media-media Barat yang kredibel, ternyata media-media itu hanya menyokong kepentingan Zion*s Yahudi. Kenapa itu? Karena media bekerja untuk melakukan propaganda Barat,” jabarnya.
Mitos
Iffah menegaskan, Yahudi atau Zion*s yang disebut-sebut sebagai bangsa yang tidak terkalahkan hanya mitos. “Hari ini kalau kita omong tentang jihad ke Gaza, Palestina, sering tidak bisa kita tuntut ke pemerintah di dunia Islam. Mengapa? Karena mereka beralasan, entitas Yahudi itu sangat kuat dan tidak terkalahkan? Betul? [Nyatanya] terbongkar 7 Oktober 2023, mereka kalah,” tegasnya.
Ia mengatakan, mereka punya Mossad yang katanya agen intelijen paling canggih seluruh dunia, mereka punya rudal Iron Dome, kubah besi yang mengatakan mereka tidak bisa ditembus. “Namun, 7 Oktober 2023 ternyata itu bisa tembus. Jadi, jika dunia masih mengatakan Zion*s tidak terkalahkan, itu mitos. Walaupun, 1967 tentara dari seluruh dunia Arab dikerahkan untuk membebaskan wilayah Palestina, kalah semua. Ya, ini ternyata cuma mitos. Harus digambarkan begitu kepada pemimpin-pemimpin di dunia Islam,” urainya.
Dunia Islam, jelasnya, memang tidak bisa main-main menghadapi Zion*s, tetapi jangan kemudian umat Islam mau ditipu bahwa Zion*s itu tidak terkalahkan. “Zion*s lobinya sangat kuat sehingga apa saja yang mereka inginkan bisa dicapai dengan bantuan Amerika, Jerman, dan semua negara-negara Barat. Lobi Yahudi paling kuat [adalah] harus menyogok dulu. Mereka harus mengeluarkan banyak dana supaya ilusi dan halusinasi mereka tinggal di Palestina bisa tercapai,” terangnya.
Negara-negara Barat, jelasnya, masih mau menuruti Zion*s karena untuk kepentingan mempertahankan entitas Yahudi di sana sangat besar. “Bukan Zion*s yang memanfaatkan, tetapi Zion*s ini dimanfaatkan negara-negara Barat. Mereka yang punya kepentingan memanfaatkan Zion*s,” katanya.
Mitos kedua, ucapnya, entitas Yahudi disebut negara paling demokratis atau satu-satunya negara paling demokratis di Timur Tengah. “[Pernyataan bahwa] entitas Yahudi disebut negara paling demokratis di Timur Tengah terus dicekokkan di kalangan orang-orang yang biasa berdiskusi hak asasi manusia, demokrasi, di kalangan akademisi, serta intelektual,” jelasnya.
Ia bertanya, mengapa entitas Yahudi bisa masuk peringkat tiga negara paling demokratis di Timur Tengah? “Kita jangan bangga dengan demokrasi. Justru, yang dilakukan entitas Yahudi membongkar kebusukan mereka. Mereka omong tentang demokrasi, kita jangan tertipu karena yang dimaksud dengan demokrasi di sana adalah kebebasan, termasuk membebaskan entitas Yahudi untuk melakukan genosida,” tegasnya.
Hari ini, terangnya, banyak fakta-fakta yang bisa dirasakan muslim, publik, dan dunia untuk menyadari kebusukan-kebusukan Barat dan Yahudi. “Mitos-mitos yang seharusnya tidak lagi ada dan tidak boleh membelenggu kaum muslim untuk tidak berani melawan entitas Yahudi. Penguasa negeri-negeri muslim yang tidak berani mengirimkan pasukan membebaskan Palestina adalah bagian dari perintah dan skenario Barat,” pungkasnya. [MNews/IK]
