Muslimah News, LENSA DAERAH — Puluhan tokoh muslimah dan mubaligah se-Jawa Barat menghadiri acara Ngariung Berkah Bersama Ustazah Hj. Imas Masruroh, Sabtu (16-11-2024), secara daring bertema “Jabar Darurat Kekerasan Seksual pada Anak, fa Aina Mubaligah?”. Acara ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Manajer Program LPA Jawa Barat Dianawati dan mubaligah Jawa Barat Ustazah Hj. Rina Komara.
Mengawali pemaparannya, Dianawati dengan gamblang memaparkan fakta-fakta terkait kekerasan pada anak di Jawa Barat yang mengalami kenaikan setiap tahunnya.
“Data menunjukkan kasus kekerasan seksual pada anak mencapai angka 2.473 korban di Jawa Barat, jumlah korban ini tersebar hampir diseluruh wilayah Jawa Barat. Target 2045 generasi ini yang diharapkan menjadi generasi emas. Hanya saja, melihat fakta kekerasan seksual anak ini bisa jadi bukan generasi emas yang dicapai akan tetapi generasi cemas,” ungkapnya.
Diana juga memaparkan fakta lain terkait pelaku kekerasan seksual. “Biasanya adalah anak-anak yang dahulunya pernah mengalami tindakan kekerasan seksual yang sama. Pada awal tahun 2004 dikatakan psikolog bahwa anak yang menjadi korban kekerasan seksual jika tidak diterapi, maka enam sampai delapan tahun ke depan akan menjadi pelaku kekerasan seksual,” ujarnya.
Namun, lanjutnya, berbeda dengan di awal tahun 2022. “Psikolog yang sama menyampaikan bahwa korban kekerasan seksual itu hanya butuh waktu dua minggu untuk melakukan kekerasan seksual pada orang lain dan pelakunya adalah anak-anak kita yang berusia dibawah 12 tahun yang melakukannya kepada anak di bawah umurnya,” ucapnya miris.
Menurutnya, ini menunjukkan bahwa saat ini anak-anak bukan hanya menjadi korban kekerasan seksual, tetapi juga menjadi pelaku. “Berbagai upaya, baik kuratif maupun preventif sudah dijalankan, tetapi persoalan kekerasan anak ini seolah tidak kunjung usai,” imbuhnya.
Akar Masalah dan Solusi
Narasumber selanjutnya, Ustazah Hj. Rina Komara turut mengkritisi hal tersebut dan mengungkap akar masalah serta solusinya.
“Fakta terkait persoalan kekerasan seksual pada anak hari ini terjadi disebabkan penerapan sistem sekularisme kapitalisme. Sistem ini yang akhirnya membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaannya,” ucapnya.
Orang tua dan sekolah, sambungnya, tidak berfungsi dengan baik, ditambah peran negara yang lemah dalam memperhatikan urusan rakyatnya.
“Sekularisme juga melahirkan kebebasan berperilaku/liberalisasi yang mengarahkan kepada kapitalisasi yang mengantarkan pada dehumanisasi (berperilaku dan memperlakukan orang lain layaknya hewan-penj.),” bebernya.
Penerapan kapitalisme sekulerisme liberalisme yang terjadi hari ini, dalam pandangannya, adalah dampak dari adanya penjajahan pemikiran, penjajahan kebudayaan, dan penjajahan politik.
“Banyak solusi yang ditawarkan mulai dari UU, perpres, KUHP, permenag, perda, serta program Jabar Cekas. Namun, faktanya anak-anak masih banyak yang mengalami kekerasan seksual. Ini menunjukkan kepada kita bahwa solusi yang ditawarkan hanya menambah dan memperumit masalah, bahkan mengantarkan negeri ini dalam kondisi darurat kekerasan seksual pada anak,” ungkapnya.
Menurutnya, ketika menghadapi sebuah permasalahan dan sudah diberikan solusi, tetapi gagal, maka dibutuhkan solusi alternatif.
“Sebagai seorang muslim harus mencari solusi itu dari Islam dengan cara penerapan sistem Islam dalam kehidupan. Penerapan sistem Islam dibutuhkan tiga hal, yaitu keimanan yang kuat dari keluarga muslim, perlu adanya kepedulian masyarakat, dan peran penting negara,” paparnya.
Ia menguraikan peran negara tersebut, pertama, negara melakukan edukasi kepada masyarakat agar taat syariah. “Kedua, negara menerapkan sistem pergaulan Islam. Ketiga, negara memberi saksi tegas dan menjerakan sesuai syariat. Penerapan syariat Islam ini akan terwujud dengan adanya institusi Khilafah yang berfungsi sebagai raa’in (pelayan) dan junnah (pelindung),” urainya.
Sebagai kesimpulan, mubaligah Jawa Barat Ustazah Hj. Imas Masruroh menegaskan bahwa persoalan kekerasan seksual pada anak adalah persoalan sistemis.
“Hanya Islam kafah solusi hakiki mengakhiri persoalan kekerasan seksual pada anak ini. Selain itu juga butuh dan wajib adanya dakwah serius dan terarah untuk mewujudkan Islam kafah,” jelasnya.
Ia menilai, dominasi sistem sekularisme liberal, menjadikan angka kekerasan terus meningkat sehingga tidak ada tempat, ruang, atau celah sedikit pun yang aman bagi anak-anak. “Mereka harus segera diselamatkan, maka peran mubaligah dan aktivis muslimah adalah tidak boleh berdiam diri, harus menjadi garda terdepan dalam dakwah Islam kafah hingga tegaknya Khilafah,” tandasnya. [MNews/Kontributor: Rin]
