Muslimah News, FOKUS — Palestina masih membara. Korban terus bertambah. Anak-anak Palestina terancam nyawanya. Sebuah ironi bagi peringatan Hari Anak Sedunia. Dunia berselebrasi, tetapi nasib anak-anak korban konflik perang makin menjadi-jadi. Kantor HAM PBB mengatakan hampir 70% dari korban jiwa yang telah diverifikasi dalam perang Gaza adalah perempuan dan anak-anak. Badan PBB itu juga mengutuk apa yang disebutnya sebagai pelanggaran sistematis terhadap prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan internasional.
Memasuki hari ke-410 serangan Zion*s ke Gaza, dari 43.972 warga Palestina yang dipastikan tewas, 17.492 di antaranya adalah anak-anak. Konflik Lebanon dengan Zion*s juga mengakibatkan lebih dari 200 anak tewas dalam dua bulan terakhir. Hari Anak Sedunia yang konon menjadi momen penting merayakan hak-hak anak di seluruh dunia ternyata jauh dari realitas yang ada. Masa depan anak-anak di dunia masih terancam. Anak-anak kerap menjadi korban konflik perang, kekurangan gizi, bahkan di ambang kelaparan hingga kematian.
PBB mengungkap bahwa pada 2023 lebih dari 30 juta anak di 15 negara menderita wasting atau malanutrisi akut dan 8 juta anak kekurangan gizi. Salah satu negara yang terdampak ialah Afganistan. Terdapat 3,2 juta bayi di Afganistan mengalami malanutrisi akut. Di seluruh dunia, Save the Children memperkirakan 774 juta anak atau sepertiga populasi anak global hidup dengan dampak ganda yaitu kemiskinan dan risiko iklim yang tinggi.
Narasi Tanpa Arti
Pada Hari Anak Sedunia, Unicef sebagai badan khusus di bawah PBB yang berfokus dalam pemenuhan hak-hak anak-anak dan perempuan di seluruh dunia mengajak semua orang dewasa untuk melindungi hak setiap anak tanpa diskriminasi. Adapun tema yang diusung pada tahun ini adalah “Listen to the future. Stand up for children’s rights.” atau “Dengarkan masa depan. Dukung Hak-hak Anak.”
Namun, tema tersebut sangat kontras dengan fakta dan situasi anak-anak di dunia hari ini. Narasi tahunan yang terus digaungkan Barat perihal hak anak-anak hanyalah narasi tanpa arti. Realitasnya, hak anak-anak Palestina terampas akibat standar ganda Barat terhadap konflik Palestina-Zion*s. Para sekutu Zion*s, seperti AS, Inggris, Prancis, dan lainnya masih mengirim senjata kepada pelaku genosida Gaza (Zion*s). Mereka juga menutup mata dan membisu dalam forum-forum internasional untuk menghentikan kebiadaban Zion*s, padahal dunia tahu bahwa korban terbanyak dari genosida yang dilakukan Zion*s adalah anak-anak.
Saat ini, anak-anak Palestina adalah yang paling merasakan dampak terburuk akibat genosida Zion*s. Bukan hanya kehilangan orang tua dan keluarga terkasih, mereka juga kehilangan hak mengenyam pendidikan dengan aman, mendapat layanan kesehatan yang baik, serta akses pangan bergizi akibat seragan mematikan Zion*s selama lebih dari setahun. Kehidupan anak-anak Palestina tidak ubahnya lonceng kematian. Mereka hidup dalam segala keterbatasan akses untuk hidup sebagai manusia.
Tema hari anak sedunia tersebut juga hanya jargon kosong tidak bermakna mengingat ancaman kelaparan dan malanutrisi akut membayangi anak-anak. Kebanyakan, negara-negara tersebut ialah wilayah yang rentan dengan kemiskinan dan krisis kemanusiaan. Sistem ekonomi kapitalisme global telah berkontribusi pada ketimpangan distribusi pangan dan sumber daya yang menyebabkan kelaparan di berbagai belahan dunia.
Kelaparan dan malanutrisi jelas berkaitan dengan pangan sebagai komoditas yang dibutuhkan setiap negara. Dalam kapitalisme, pangan menjadi komoditas yang diperdagangkan di pasar global. Meskipun dunia menghasilkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan semua orang, penerapan kapitalisme menjadikan distribusinya tidak merata karena didorong oleh mekanisme pasar (liberalisasi) yang sering kali mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat miskin atau mereka yang berada di daerah konflik.
Sebagai contoh, negara-negara adidaya dan korporasi global kerap mengontrol pasokan pangan global sehingga negara-negara miskin atau berkembang terjebak dalam ketergantungan pangan, bahkan mengalami kriris pangan akibat harga pangan global yang fluktuatif.
Selama penerapan sistem kapitalisme global, konflik perang terus “dipelihara” demi ambisi dan keserakahan negara-negara kapitalis sehingga tidak memberikan kenyamanan hidup dan perlindungan terhadap hak-hak anak di dunia. Jika kita bertanya, siapa yang patut dipersalahkan atas tercerabutnya hak hidup, pendidikan, kesehatan, dan rasa aman bagi anak, ideologi kapitalisme global adalah penyebab utamanya. Ini karena kapitalisme adalah ideologi yang hanya peduli pada kepentingan, keuntungan, dan kebebasan individu.
Akibat ideologi ini pula, masyarakat muslim dunia tidak berdaya menolong dan membantu saudara-saudara muslim di belahan bumi lainnya, seperti Palestina, Lebanon, dan Rohingya. Sekat-sekat nasionalisme menghalangi para pemimpin muslim untuk melawan kedigdayaan AS dan Barat sebagai pengemban ideologi ini. Para pemimpin negeri muslim seakan tidak berkutik melihat pembantaian yang dialami anak-anak karena genosida Zion*s. Mereka lebih mementingkan mengamankan kekuasaannya daripada berkonfrontasi dengan AS dan Barat. Kepentingan politik dan ekonomi mereka lebih utama dibandingkan empati dan ikatan akidah Islam untuk menolong saudara sesama muslim yang terjebak perang.
Barat memahami bahwa lebih dari 2 miliar penduduk muslim adalah potensi yang mengancam eksistensi ideologi mereka. Oleh karenanya, konflik Palestina-Zioni*s akan terus “dipelihara” untuk meredam kebangkitan Islam. Barat tidak pernah melepas dukungannya terhadap Zion*s karena bangsa laknat tersebut adalah boneka Barat yang sengaja dijaga untuk mencerai-beraikan persatuan kaum muslim serta menarget anak-anak dan perempuan dengan tujuan memusnahkan calon generasi Islam yang kelak melawan hegemoni ideologi sekuler kapitalisme.
Apa yang bisa kita harapkan dari selebrasi tahunan Hari Anak Sedunia? Sejatinya, Barat dan ideologi kapitalisme adalah biang kerok kekacauan dan kerusakan hari ini. Solusi yang diberikan sistem kapitalisme mandul dalam melindungi dan menjamin hak-hak anak di dunia. Tidak ada sistem yang mampu menjamin, melindungi, serta menjaga hak-hak anak selain dari sistem Islam. Selama lebih dari 13 abad, Khilafah mampu memenuhi hak anak-anak dengan sangat baik.
Sistem Islam
Anak adalah aset berharga bagi negara dalam membangun peradaban gemilang. Mereka adalah calon generasi masa depan yang harus terjaga keselamatan, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan keamanannya. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian penuh terhadap keberlangsungan hidup generasi. Negara dalam sistem Islam (Khilafah) akan memenuhi kebutuhan anak dengan sangat baik.
Negara tidak akan membiarkan anak-anak terlantar, terusir, hingga kehilangan hak dasarnya sebagai manusia, seperti hak mendapatkan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Oleh karena itu, Negara Khilafah akan berupaya menghilangkan segala bentuk penjajahan yang menghalangi terpenuhinya hak dasar anak sebagai manusia. Terhadap penjajahan fisik oleh musuh Islam semisal Zion*s, negara akan menyerukan jihad dengan mengirim tentara terbaik untuk membela kehormatan kaum muslim. Terhadap penjajahan politik dan ekonomi, negara harus berdikari mengelola kekayaan alam tanpa disetir pihak lain melalui sistem politik ekonomi Islam.
Kebutuhan dan hak-hak anak terpenuhi dalam sistem Islam dengan penerapan prinsip-prinsip berikut.
Pertama, Negara Khilafah memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat besar. Islam memandang anak adalah calon generasi masa depan yang harus dijaga keselamatannya dan kesejahteraannya, juga hak-hak lainnya. Oleh karena itu, negara harus memenuhi hak anak sesuai tuntunan Islam. Khilafah memiliki sumber daya yang besar sehingga mampu menjamin kesejahteraan dan keselamatan anak.
Sebagai contoh, Indonesia memiliki kekayaan SDA yang melimpah. Potensi SDA Indonesia meliputi hutan, lautan, minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Indonesia juga memiliki komoditas seperti emas, nikel, dan tembaga. Kawasan Timur Tengah yang merupakan negeri-negeri muslim juga kaya dengan cadangan minyak yang melimpah. Kekayaan itu pula yang membuat negara adidaya seperti AS dan Rusia selalu berebut hegemoni dan posisi di sana.
Dengan beragam potensi SDA tersebut, sangat besar kemungkinan negara Khilafah dapat mengelola kekayaan alam tersebut untuk keberlangsungan hidup generasi masa depan. Dalam satu naungan negara, Islam mampu menyelesaikan persoalan yang mengancam kesejahteraan generasi.
Kedua, Khilafah akan melindungi anak-anak dari berbagai ancaman. Negara akan memenuhi kebutuhan asasi anak, seperti makanan bergizi, tempat tinggal, pakaian layak, pendidikan, kesehatan, dan kemanan.
Pada aspek sandang, pangan, dan papan, negara akan memastikan setiap kepala keluarga dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Negara juga akan menyediakan pangan dengan harga yang terjangkau serta ketersediaan rumah dan tanah dengan akses mudah. Pada aspek pendidikan, kesehatan, dan keamanan, negara akan memenuhinya secara gratis tanpa dipungut biaya. Negara menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam sehingga anak memiliki keimanan kuat dan kepribadian Islam yang khas.
Ketiga, Khilafah akan melindungi kehormatan kaum muslim di seluruh negeri Islam sehingga tidak ada lagi konflik antarmuslim atau penjajahan Barat atas negeri-negeri Islam. Khilafah akan menghilangkan sekat-sekat nation state, suku, ras, dan golongan.
Kehadiran khalifah yang memimpin Negara Khilafah sebagai junnah (perisai) bagi kaum muslim akan mewujudkan persatuan hakiki. Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai yang orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, ia akan mendapatkan pahala. Namun, jika ia memerintahkan yang lain, ia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karenanya, tidak ada yang dapat menyelamatkan anak-anak dan generasi selain Islam. Penerapan ideologi Islam kafah sebagai sistem negara yang berdaulat dan membawa rahmat akan dapat dirasakan semua elemen masyarakat, baik masyarakat muslim, nonmuslim, maupun dunia. [MNews/CJ-RR]
