[Kabar] Aktivis: NeoM Menawarkan Kenyamanan Hidup Materialistik dan Liberal

[Kabar] Aktivis: NeoM Menawarkan Kenyamanan Hidup Materialistik dan Liberal

Muslimah News, INTERNASIONAL — Aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah mengungkapkan, pembangunan kota futuristik NeoM di Arab Saudi menawarkan kenyamanan hidup yang sangat materialistik dan liberal.

Hal disampaikannya dalam acara World View: “NeoM (Kota Futuristik), Ditujukan untuk Siapa?”, Sabtu (29-6-2024).

Dalam pandangan Iffah, pembangunan kota futuristik yang digadang gadang akan menjadi sumber pemasukan baru—karena diharapkan akan ada sekitar 9 juta orang yang hidup di sana—, bukan menawarkan kenyamanan hidup versi seorang muslim, tetapi kenyamanan hidup yang sangat materialistik dan sangat liberal.

“Bagaimana tidak? Hiburan malam yang selama ini menjadi hal yang tabu dipertontonkan di publik, hari ini juga sudah dibuat gencar dengan alasan investasi asing ataupun memanjakan turis-turis yang datang dari berbagai negara, bukan hanya dari dunia Islam,” cetusnya.

Dua Hal

Oleh karenanya, ia menilai, ada dua hal yang mesti mendapat perhatian. Pertama, sebutnya, kerusakan yang akan terjadi, tentu sangat mengkhawatirkan, apalagi kota futuristik ini sudah mengundang banyak kritik dan penolakan dari lembaga-lembaga hak asasi manusia.

“Ini karena untuk membuat kota sebesar itu dengan alasan investasi dan kepentingan nasional, yakni kepentingan di bidang pariwisata, maka sudah banyak sekali manusia yang harus digusur tanpa mereka mendapatkan haknya atas tanah yang selama ini sudah mereka tinggali, padahal terdapat tradisi leluhurnya di sana,” bebernya.

Kabilah-kabilah lokal, lanjutnya, tidak diberikan kompensasi, bahkan tidak diberikan pilihan, sedangkan mereka menginginkan untuk tetap berada di sana mempertahankan tradisinya.

“Sampai-sampai beberapa pihak mengatakan bahwa pembangunan Kota NeoM ini adalah pembangunan yang dibahanbakari oleh darah warga Saudi,” ucapnya miris.

Kedua, kata Iffah, penggunaan dana investasi publik untuk proyek-proyek seperti ini, tentu saja menyalahi prinsip syariat islam.

“Syariat Islam sudah menjelaskan sangat detail bagaimana harta kekayaan umum, termasuk di dalamnya tambang-tambang minyak yang menjadi sumber utama pendapatan pemerintah Arab Saudi hari ini, hasil dari pengelolaannya tidak boleh sedikit pun dialokasikan, kecuali untuk memenuhi kesejahteraan semua muslim,” jelasnya.

“Kenapa bukan hanya warga Saudi? Karena harta kekayaan umum yang Allah anugerahkan di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk di Arab Saudi adalah milik seluruh kaum muslim,” tuturnya mengutip hadis Rasulullah bahwa kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yakni padang rumput, air, dan api.

Jadi berdasarkan hadis ini, jelasnya, dana investasi publik yang merupakan kumpulan dari hasil pengelolaan sumber daya alam tadi juga merupakan milik saudara muslim di Yaman yang hari ini menderita kelaparan.

“Merupakan milik saudara-saudara kita yang ada di Gaza, bahkan milik saudara-saudara kita, muslim, yang ada di berbagai dunia yang hari ini sedang menghadapi ancaman kekurangan pangan ataupun kondisi kesejahteraan yang makin menurun,” jelasnya.

Dana investasi publik ini, sambungnya, tidak diizinkan oleh syariat untuk dieksploitasi oleh pemerintah di negeri mana pun, termasuk oleh pemerintah Arab Saudi mengatasnamakan rakyat ataupun mengatasnamakan kerajaan.

“Ini karena Allah telah menjelaskan penggunaannya, [yakni] bukan untuk membangun kota-kota futuristik yang akan memberikan kenyamanan pada segelintir orang yang nanti akan mampu membayarnya untuk hidup di dalamnya, juga tidak diizinkan menjadi sarana untuk memberangus warga yang tinggal di daerah tersebut atas nama perluasan proyek-proyek kepentingan nasional,” tegasnya.

Misi

Oleh karenanya, ia menekankan, mesti disadari bahwa di balik kota-kota futuristik ini, selain ada misi liberalisasi, ada misi menjauhkan kaum muslim dari pelaksanaan kehidupan mereka yang masih kental dengan hukum syariat, sekalipun tidak hidup di bawah naungan sistem Islam secara kafah atau Khilafah.

“Dengan proyek-proyek seperti ini, maka [kehidupan] makin liberal dan makin menyengsarakan kehidupan kaum muslim karena harta yang semestinya bisa dialokasikan untuk mereka malah teralihkan untuk memenuhi ambisi segelintir orang,” kritiknya.

Untuk itu, ia berharap agar kaum muslim makin menyadari adanya kebutuhan akan kembali hadirnya pengelolaan sistem politik Islam atas seluruh aspek kehidupan. “Jadi, apa yang kita anggap sangat membanggakan atau membawa kebaikan, semuanya senantiasa akan diukur dengan ukuran syariat Islam,” paparnya.

Bahkan, tandasnya, para pemimpin atau para penguasa di negeri-negeri kaum muslim, tentu tidak akan mengeksploitasi harta milik umum sekehendak hatinya demi kepuasan ambisi mereka ataupun terseret pada agenda-agenda global liberal. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *