Penulis: Haitham Ibn Thbait (Amerika)
Muslimah News, FOKUS INTERNASIONAL — Tujuh puluh tahun telah berlalu sejak keputusan penting Mahkamah Agung dalam kasus Brown v. Board of Education of Topeka, Kansas, yang menyatakan pendidikan “terpisah, tetapi setara” tidak konstitusional. Namun, para pemimpin dan pembela hak-hak sipil mengakui bahwa keputusan tersebut tidak sepenuhnya menghapuskan pendidikan segregasi (pemisahan antarras). Banyak distrik sekolah yang masih terpecah secara ras karena kesenjangan perumahan dan ekonomi, pengadilan federal pun terkadang turun tangan untuk menegakkan upaya integrasi.
Upaya untuk melakukan desegregasi sekolah secara historis menemui perlawanan yang besar, khususnya di Selatan, yang mana “Manifesto Selatan” mendorong negara-negara untuk menentang integrasi. Perlawanan ini terwujud dalam bentuk perlawanan yang penuh kekerasan dan perselisihan hukum yang berkepanjangan, seperti yang terlihat pada Little Rock Nine di Arkansas dan perjuangan selama puluhan tahun di Cleveland, Mississippi, yang baru secara resmi melakukan desegregasi pada 2016.
Gary Orfield, seorang profesor UCLA dan salah satu direktur dari UCLA Civil Rights Project, mencatat bahwa meskipun pendaftaran siswa nonkulit putih telah meningkat, banyak siswa bersekolah di sekolah yang “sangat terpisah” saat ini lebih dari 30 tahun lalu karena pembatalan perintah desegregasi.
Fakta Rasisme
Perpecahan rasial yang terus-terusan terjadi di masyarakat Amerika, menyoroti sifat rasisme yang mengakar dan terlembaga, yang masih tetap lazim meskipun telah dilakukan upaya aktivisme hak-hak sipil dan upaya legislatif selama beberapa dekade.
Meskipun ada keputusan Mahkamah Agung, intimidasi dan diskriminasi rasis nyatanya masih terjadi di sekolah terpadu. Kejahatan kebencian di sekolah telah meningkat dengan 13.300 dilaporkan pada 2022, meningkat secara signifikan dibandingkan 2018 (8.500 laporan) dengan siswa kulit hitam yang kerap menjadi korbannya.
Pada 2020, ada lebih dari 700 distrik sekolah dan sekolah swasta tetap berada di bawah perintah desegregasi. Dana Pertahanan Hukum NAACP terus mengajukan tuntutan hukum terhadap banyak kasus desegregasi sekolah, mengatasi kesenjangan yang sedang berlangsung dalam sumber daya dan peluang pendidikan antara sekolah yang mayoritas berkulit putih dan mayoritas berkulit hitam.
Rasisme dipupuk oleh budaya yang dialami individu. Meskipun ada proklamasi hak-hak minoritas di dalam negeri, perubahan nyata dalam nilai-nilai masyarakat terhadap ras dan warna kulit berjalan lambat dan sulit. Kita harus mengevaluasi kembali landasan budaya dan ideologi yang melanggengkan rasisme.
Islam Mengecam Rasisme
Islam diturunkan kepada masyarakat yang dilanda rasisme dan perbudakan. Oleh karena itu, Islam memberikan solusi intrinsik yang mencabut rasisme dari hati sebelum mencabutnya dari sistem. Akibatnya, perubahan sistem menjadi alami dan bertahan lama ketika keyakinan ideologis tertanam dalam hati dan pikiran masyarakat.
Allah Swt. menanamkan ke dalam benak masyarakat dengan kesetaraan dan nilai-nilai kemanusiaan. Islam sangat mengutuk rasisme dan menekankan kesetaraan semua umat manusia tanpa memandang ras atau etnis. Prinsip ini terlihat jelas dalam ajaran Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad (saw.).
Berikut di antara contoh-contoh keyakinan dasar Al-Quran.
1. Penciptaan manusia dari jiwa/diri yang satu, menekankan kesetaraan dan kesatuan umat manusia.
Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nisa [4] ayat 1, “ Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
2. Keberagaman sebagai bagian dari rancangan Allah dan keunggulan itu didasarkan pada kesalehan, bukan ras atau suku.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Hujurat [49] ayat 13, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
3. Pengakuan bahwa keberagaman bahasa dan warna kulit merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah swt., menekankan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut patut dihargai dan dihormati jika kita ingin memahaminya.
Allah berfirman dalam QS Ar-Rum [30] ayat 22, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”
Adapun dari Hadis Nabi Muhammad saw. adalah sebagai berikut.
1. Khotbah Haji Wadak (Perpisahan) Nabi Muhammad saw. merupakan proklamasi yang kuat mengenai kesetaraan ras dan tidak pentingnya perbedaan ras.
Dalam khotbah terakhirnya, beliau saw. menyatakan, “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu. Ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang non-Arab, dan bagi orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada kelebihan bagi orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, dan bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit putih, kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” (HR Ahmad No. 22391).
2. Hadis persaudaraan menegaskan kembali bahwa satu-satunya kriteria keunggulan dalam Islam adalah ketakwaan dan amal saleh, bukan ras atau suku.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Kaum muslim adalah bersaudara. Tidak ada seorang pun yang mempunyai keunggulan atas orang lain, kecuali dengan ketakwaan dan amal saleh.” (Sahih Muslim No. 6219).
3. Penghormatan kepada Bilal bin Rabah.
Bilal bin Rabah adalah bekas budak keturunan Etiopia. Ia diangkat oleh Nabi Muhammad saw. sebagai muazin Islam pertama. Pengangkatannya dan rasa hormat yang diterimanya dari Nabi dan komunitas muslim menyoroti praktik kesetaraan dan antirasisme pada masyarakat Islam awal.
Nabi Muhammad saw. memuji Bilal karena kebenarannya, dengan mengatakan, “Aku mendengar langkah kakimu di surga mendahului langkahku.” (Sahih Bukhari No. 1149)
Kecaman Islam terhadap rasisme dan dukungan terhadap kesetaraan berakar kuat pada kitab sucinya. Al-Qur’an dan Hadis menekankan kesatuan umat manusia dan tidak bermaknanya perbedaan ras. Al-Qur’an dan Hadis juga menekankan pentingnya kebajikan dan kesalehan sebagai ukuran sejati nilai seseorang. Ajaran-ajaran ini mempromosikan visi masyarakat yang mana semua individu dihormati dan dihargai tanpa memandang ras atau etnis mereka. [MNews/AH-Gz]
