Penulis: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Seorang mukalid tidak harus terikat dengan satu mazhab untuk setiap persoalan yang ia hadapi. Ia boleh saja berpindah ke mazhab yang lain untuk masalah-masalah yang berbeda. Dalilnya adalah ijmak sahabat. Kaum awam pada masa sahabat biasa merujuk satu masalah kepada seorang sahabat dan untuk masalah yang lain merujuk kepada sahabat yang lain. Ini menunjukkan bahwa orang awam boleh saja mengambil pendapat dari satu mazhab untuk satu masalah dan mengambil pendapat dari mazhab lain, untuk masalah yang berbeda.
Apabila seorang mukalid telah menentukan mazhab tertentu, misalnya Mazhab Syafi’i atau Maliki dan berkata, “Saya berada di atas Mazhab Syafi’i dan terikat dengan mazhabnya,” dalam masalah ini perlu perincian lebih lanjut. Jika amal yang hendak ia hukumi dengan pendapat mazhab lain berhubungan dengan amal perbuatan yang telah dihukumi dengan pendapat mazhab yang diikutinya, dalam kondisi semacam ini ia dilarang mengikuti pendapat mazhab yang lain. Namun, jika amal perbuatan yang hendak ia hukumi dengan pendapat mazhab yang lain tersebut tidak berhubungan dengan amal perbuatan yang telah dihukuminya dengan pendapat mazhabnya, ia tidak dilarang mengikuti pendapat mazhab yang lain.
Oleh karena itu, mukalid semacam ini harus benar-benar mengetahui syarat-syarat yang membolehkan dirinya untuk merujuk kepada mazhab yang lain. Syaratnya adalah masalah yang hendak ia hukumi dengan pendapat mazhab lain tersebut tidak berhubungan atau terpisah sama sekali dengan masalah mazhabnya dan jika ia meninggalkan pendapat mazhabnya, hal itu tidak mengakibatkan kekacauan dalam hukum syariat. Namun, jika masalahnya saling berhubungan dan berkaitan dengan pendapat mazhabnya, ia dilarang merujuk kepada pendapat mazhab lain.
Suatu masalah dianggap berkaitan dengan masalah yang lain jika masalah tersebut menjadi syarat atau menjadi rukun kesempurnaan bagi masalah yang lain. Misalnya, salat, wudu, dan rukun-rukun salat. Seseorang yang bermazhab Syafi’i tidak boleh mengikuti pendapat Abu Hanifah dalam hal batal atau tidaknya wudu, sedangkan salatnya tetap mengikuti pendapat Imam Syafi’i.
Ia juga tidak boleh mengikuti pendapat yang membolehkan gerakan lebih tiga kali di dalam salat atau pendapat yang mengatakan bahwa membaca surah Al-Fatihah bukan termasuk rukun salat, tetapi tetap mengerjakan salat dengan bertaklid kepada ulama yang melarang gerakan tiga kali dalam salat dan berpendapat bahwa membaca Al-Fatihah termasuk rukun salat. Hukum yang boleh ditinggalkannya adalah yang tidak memberikan pengaruh bagi perbuatan-perbuatan yang hendak dihukumi dengan pendapat lain. [MNews/Rgl]
Bahasan sebelumnya: “Ijtihad Mujtahid adalah Hukum Syariat bagi Mukalid”
Sumber: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat, Kaidah-Kaidah Taklid, Tuntunan Islam dalam Memilih dan Mengikuti Pendapat

One thought on “[Kaidah-Kaidah Taklid] Seorang Mukalid Tidak Harus Terikat dengan Satu Mazhab Saja”