Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Siapa tidak kenal Korea? Saat ini, penduduk Korea, khususnya Korea Selatan, sedang menjadi trendsetter dunia. Produk-produk budaya yang tertuang dalam pakaian, film/drama, musik, kecantikan hingga makanan, nyaris menjadi acuan bagi penduduk dunia.
Budaya K-Pop bahkan seperti “tsunami” yang memapar generasi muda. Nama-nama artis drama maupun anggota boyband dan girlband Korea Selatan sedemikian dipuja. Bukan hanya di Asia, tetapi hingga ke dunia Barat sana.
Ironisnya, generasi muda Indonesia yang mayoritas muslim pun tidak canggung menjadikan Korea sebagai “kiblat”. Bahkan, banyak bermunculan fandom-fandom atau perkumpulan-perkumpulan penggemar fanatik dari suatu grup idola yang siap melakukan apa pun demi mendukung para idola mereka.
Tren Islam dan Islamofobia
Ditilik dari sisi agama, penduduk Korea Selatan terbilang minim spiritualitas. Data statistika menyebut, 51% penduduknya yang berjumlah 5,4 juta tidak menganut agama apa pun. Sebanyak 20% menganut Protestan, 17% Buddha, 11% Katolik, dan sisanya adalah kelompok lain-lain, termasuk Islam.
Dengan demikian, muslim di Korea terbilang minoritas. Al-Jazeera menyebut jumlah komunitas muslim 2024 ini saja hanya sekitar 200 ribu orang atau sekira 0,4% dari penduduk yang jumlahnya 51,75 juta jiwa. Meski mereka hidup di tengah suasana masyarakat yang sangat terbuka, tetapi mereka menghadapi tantangan islamofobia yang cukup merebak.
Mereka juga sering kali dipandang dengan sikap apatis dan buruk, bahkan dengan ketakutan. Maklum, masyarakat muslim memiliki tradisi yang jauh berbeda dengan masyarakat Korea. Orang-orang Korea sangat akrab dengan khamar dan babi, sedangkan muslim mengharamkannya. Tidak heran jika beberapa konflik agama terjadi di sana. Mereka menolak eksistensi muslim dalam komunitas masyarakat mereka.
Pada 2015, misalnya, terjadi aksi masyarakat Kristen menolak pembangunan masjid di kawasan Daegu. Mereka memajang kepala babi di lokasi pembangunan dan memasang spanduk berisi narasi kebencian. Kelompok ini pun terus mempropagandakan bahaya islamisasi yang terus terjadi, termasuk ketika ada gelombang migrasi muslim pasca-Perang Suriah dan Yaman yang potensinya masih berlanjut hingga sekarang.

Kuatnya benteng atau penolakan masyarakat Korea terhadap pengaruh Islam tampak dari sulitnya mereka menerima perkembangan industri produk halal global. Bahkan, upaya pemerintah untuk menggenjot industri produk halal demi menyasar pasar muslim dunia sejak satu dekade terakhir, justru dipandang sebagai serangan terhadap eksistensi mereka.
Walhasil, hingga saat ini, para pengusaha dan eksportir produk makanan dan kosmetik yang ingin menarik keuntungan dengan menyasar pasar muslim secara global justru mendapat penentangan. Tidak jarang pembangunan pabrik mereka di suatu tempat, terhalang oleh protes keras masyarakat yang ketakutan.
Muslim Korea sendiri tentu sangat kesulitan untuk mendapatkan produk halal dan ini menjadi ujian tersendiri bagi mereka. Terkecuali di kota-kota besar yang komunitas muslimnya cukup kuat, seperti di Ibu Kota Seoul. Di tempat lainnya, jangan harap kita mudah mendapatkan produk halal. Meski produk utamanya berbahan baku halal, hampir bisa dipastikan dalam proses pembuatannya terkontaminasi dengan benda haram.
Perjalanan Dakwah Islam
Sejarah hubungan Islam dengan masyarakat Korea memang tidak semulus sebagaimana wilayah Asia lainnya. Perkembangannya bisa dikatakan rumit dan berliku. Konon, Islam di Korea sudah dikenal sejak awal-awal abad kedatangannya. Hal ini mengingat hubungan dagang antara dunia Arab dengan Asia Timur sudah berlangsung sebelum kedatangan Islam.
Tercatat para pedagang muslim dari Arab dan Persia sudah masuk ke wilayah Korea pada masa Kerajaan Silla Bersatu sekira abad ke-9. Mereka banyak yang menetap dan mendirikan perkampungan muslim, melakukan pernikahan, bahkan berasimilasi dengan budaya lokal.
Dalam beberapa tulisan disebut, sekitar 1154, Korea masuk dalam atlas dunia ahli geografi Arab Muhammad al-Idrisi, Tabula Rogeriana. Bahkan, disebut-sebut bahwa peta tertua dunia Korea, yakni Kangnido, menarik pengetahuan dari Kawasan Barat, tepatnya dari karya geografi Islam.

Pengaruh Islam di Korea tampak juga pada beberapa era dinasti tertentu. Namun, kebijakan Dinasti Joseon yang melakukan Politik Isolasi, yakni menutup pintu wilayahnya dari kedatangan pihak asing, membuat jejak Islam lenyap secara perlahan. Dinasti ini bermaksud menyeragamkan identitas dan melarang adanya identitas lain selain identitas kecinaan pada waktu itu.

Perkenalan kembali mereka dengan Islam dimulai pada abad ke-19 melalui komunitas muslim yang datang ke Manchuria, yakni sebuah wilayah kuno di sebelah timur laut Cina dekat perbatasan Korea Utara dan Rusia, tetapi tidak disebutkan bentuk pengaruhnya seperti apa.
Baru pada 1955, tepatnya pasca-Perang Korea, pengaruh Islam mulai tampak lebih nyata, terutama dengan kedatangan Pasukan Brigade Turki yang bertugas atas nama PBB untuk menjaga perdamaian di Korea Selatan. Mereka mulai mendakwahkan Islam hingga membentuk komunitas muslim pertama di sana. Lalu geliat dakwah makin tampak sejalan dengan perkembangan hubungan baik antara pemerintah Korea Selatan dan dunia Arab.
Saat itu, banyak tenaga kerja Korea yang berkarier di Arab, tertarik untuk masuk Islam. Lalu ketika pulang, mereka aktif berdakwah. Mereka mendirikan masjid di beberapa kota, seperti Masjid Pusat Seoul di lingkungan Itaewon pada 1976. Bahkan, daerah Itaewon menjadi pusat aktivitas muslim hingga sekarang. Ada juga masjid di Busan, Anyang, Gwangju, Jeonju, dan Daegu.

Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, dakwah tidak berlangsung mulus. Sejak serangan 11 September 2001, benih islamofobia mulai muncul dan terus menguat sejalan masifnya propaganda penganut Kristen konservatif dan menguatnya budaya liberal di sana.
Khatimah
Masa depan Islam di Korea Selatan memang masih buram. Namun pelan, tetapi pasti, pesan hidayah itu terus menyebar sejalan dengan derasnya arus informasi yang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat imajiner bernama “negara”. Dakwah Islam tidak bisa lagi dibendung sehingga menginspirasi sebagian masyarakat di sana untuk belajar, hingga mereka tunduk menerima Islam.
Kisah-kisah perjalanan mereka sebagian terrekam dalam bentuk vlog di YouTube atau lainnya. Lalu melalui wasilah mereka, pesan dakwah kian tersebar luas dan sedikit demi sedikit mendekatkan gambaran Islam yang sebenarnya, yakni bahwa Islam bukanlah agama teror dan pembunuh sebagaimana dipropagandakan para pembencinya.
Ke depan, bisyarah (kabar gembira) Rasulullah saw. akan menjadi kenyataan bahwa Islam akan menguasai Timur dan Barat, insyaallah termasuk Korea Selatan. Kapan dan bagaimana caranya, wallahualam. Kita hanya diperintah menapaki jalan-jalan dakwah sebagaimana yang Rasul contohkan. [MNews/Gz]
*Diolah dari berbagai sumber tulisan.

maa sya Allah
ternyata dakwah di Indonesia beda sama korea semoga Allah mudahkan urusan saudara kita di korea