[Kabar] Anak Menjadi Pelaku Kejahatan, Pengamat: Menandakan Rusaknya Fitrah Anak

[Kabar] Anak Menjadi Pelaku Kejahatan, Pengamat: Menandakan Rusaknya Fitrah Anak

Muslimah News, NASIONAL — Bocah laki-laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan. Tidak hanya dibunuh, anak yang baru mau duduk di sekolah dasar ini juga menjadi korban kekerasan seksual.

Polres Sukabumi Kota mengungkapkan, setelah melakukan serangkaian penyelidikan, terbukti pelaku utama adalah pelajar berusia 14 tahun yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Polisi pun kini menetapkan pelaku sebagai tersangka dan bersatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Rusaknya Fitrah Anak

Menyoroti kasus di atas, pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti mengatakan, ini menandakan rusaknya fitrah anak.

“Sungguh sangat miris! Seorang anak dapat melakukan rangkaian perbuatan sangat keji. Ini tanda rusaknya fitrah anak,” ucapnya kepada MNews, Sabtu (4-5-2024).

Ia menambahkan, anak menjadi pelaku kejahatan sudah terjadi berulang, ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

“Realitanya, anak-anak yang menjadi pelaku kejahatan terus meningkat dari tahun ke tahun dan terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Tidak lagi kasuistik, tetapi menjadi fenomena rusaknya anak-anak Indonesia. Ini merupakan fenomena gunung es karena tidak semua kasus yang terjadi dilaporkan. Hal ini jelas menunjukkan adanya problem serius, baik pada keluarga, lingkungan, ataupun negara,” bebernya.

Dalam pandangannya, keluarga adalah lingkungan terdekat anak-anak. Bahkan, ucapnya, keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. “Sayangnya, hari ini peran keluarga sebagai sekolah pertama tidak dapat berjalan optimal,” sesalnya.

Menurutnya, ada banyak faktor yang menjadi penyebab ibu tidak dapat menjalankan peran fitrahnya, termasuk maraknya ibu bekerja, baik karena arus kesetaraan gender maupun keterpaksaan karena kemiskinan. Demikian pula, ucapnya, tingginya angka perceraian di Indonesia juga berpengaruh terhadap kepribadian anak.

“Sementara itu, lingkungan hari ini, baik sekolah maupun masyarakat, banyak memberikan contoh yang tidak baik bagi anak-anak. Pun demikian halnya media, banyak menayangkan konten berisi kejahatan dan berbagai kemaksiatan, yang dengan mudah diakses anak-anak melalui gadgetnya. Ini jelas memberikan dampak pada keluarga. Semua itu terkait dengan peran negara karena negaralah yang menentukan semua kebijakan,” ulasnya.

Kapitalisme

Ia menilai, penerapan sistem kapitalisme sekularisme sebagai asas pembuatan kebijakan negara jelas berdampak pada semua bidang kehidupan.

“Sistem ekonomi kapitalisme mengakibatkan rakyat hidup miskin. Kurikulum pendidikan yang berorientasi materi dan pendidikan agama yang hanya formalitas, membuat anak jauh dari kepribadian yang luhur,” ujarnya sedih.

Sistem informasi liberal, lanjutnya, membuat berbagai kekerasan, pornografi, dan hiburan mudah diakses oleh anak-anak di bawah umur.

“Lemahnya sistem sanksi membuat kemaksiatan merajalela dan tidak bisa dipungkiri perilaku buruk menjadi tuntunan untuk anak-anak yang belum utuh cara berpikirnya. Parahnya lagi, negara juga membiarkan masuknya gaya hidup Barat; hedonisme, permisifisme, liberalisasi pergaulan, dan lainnya merasuki benak masyarakat. Demikian pula adopsi negara atas berbagai pemikiran sesat yang diaruskan global seperti HAM, kesetaraan gender, dan moderasi beragama nyata merusak tata kehidupan masyarakat,” bebernya.

Menurutnya, semua itu, baik langsung maupun tidak langsung telah merusak fitrah anak yang bersih dan polos, menjadikan anak mencontoh segala yang dilihat dan didengar, menjadi “dewasa” sebelum waktunya, tanpa memahami standar baik dan buruk, terpuji dan tercela. “Inilah wajah buruk ungkapan children see children do,” tandasnya.

Diatur dengan Islam

Arum meyakini, fenomena rusak ini tidak akan terjadi ketika kehidupan diatur dengan Islam secara kafah.

“Dengan akidah Islam sebagai asas kehidupan, ketakwaan akan tercermin pada keluarga, sekolah, masyarakat, juga negara. Pendidikan anak menjadi hal penting yang diperhatikan karena anak adalah generasi masa depan yang akan membangun dan menjaga peradaban tetap mulia,” jelasnya.

Ia melanjutkan, kebijakan negara akan menjaga fitrah anak sehingga anak dapat tumbuh kembang optimal dan memiliki kepribadian Islam yang mulia.

“Negara akan mewujudkan kesejahteraan rakyat sehingga ibu bisa optimal menjalankan perannya sebagai madrasah utama dan pertama. Negara juga tidak akan menghalangi kiprah perempuan sepanjang sesuai hukum syarak,” ungkapnya.

Pun demikian dengan sekolah dan masyarakat,menurutnya, akan menjadi lingkungan yang kondusif membangun kepribadian mulia.

“Negara akan mewujudkan sistem informasi yang aman dan menjamin kebersihan pemikiran generasi dan masyarakat. Selain itu, negara juga akan membentengi masyarakat dari masuknya pemikiran yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Sistem sanksi Islam yang tegas dan menjerakan, juga akan diterapkan negara untuk mencegah terjadinya kemaksiatan dan kejahatan,” bebernya.

Ia memaparkan, sejarah panjang peradaban Islam telah melahirkan banyak generasi berkualitas yang banyak berkarya untuk meninggikan Islam. Ia menyebut, di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib yang dijuluki Rasulullah sebagai ‘Pintunya Ilmu’, Shalahuddin al-Ayyubi pembebas Masjidilaqsa, Sultan Muhammad al-Fatih penakluk Konstantinopel pada usia 22 tahun, Imam Syafi’i yang mendapat julukan Nashih al-Hadits (pembela Sunah Nabi).

“Generasi berkualitas seperti merekalah yang hari ini kita rindukan. Semua itu akan terwujud ketika negara menerapkan Islam kafah dalam Khilafah Islamiah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *