Penulis: K.H. Rokhmat S. Labib, M.E.I.
Muslimah News, TAFSIR AL-QUR’AN — Beberapa Pelajaran Penting
Ayat-ayat ini mengandung banyak pelajaran, yaitu:
Pertama: Mengenai al-mujrimûn.
Semua pelaku perbuatan dosa yang tidak mau bertobat termasuk dalam cakupan istilah tersebut. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan dan mengingkari para rasul Allah Swt..
Patut diingat, tidak semua al-mujrim (pendosa) adalah orang kafir. Sebaliknya, semua orang kafir adalah al-mujrimûn. Bahkan dalam beberapa ayat, kata inidigunakan untuk menyebut orang-orang kafir (Lihat, misalnya, QS Al-Jatsiyah [45]: 31).
Di dalam ayat lainnya, ada beberapa kaum terdahulu yang secara jelas disebut sebagai mujrimûn. Di antaranya adalah Firaun dan para pemuka kaumnya. Mereka telah menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya (Lihat QS Yunus [10]: 75).
Allah Swt. juga menceritakan bahwa Nabi Musa menyebut kaumnya sebagai mujrimûn (Lihat QS Ad-Dukhan [110]: 35). Sebutan mujrimûn juga disematkan kepada kaum Nabi Nuh as. (QS Hud [11]: 35) dan kaum Ad yang merupakan kaum Nabi Hud as. (Lihat QS Hud [11]: 52).
Kedua: Hukuman bagi al-mujrimûn.
Terdapat banyak yang memberitakan tentang azab terhadap mereka di akhirat (Lihat, misalnya, QS Thaha [20]: 74; QS Maryam [19]: 86).
Dalam ayat ini dikabarkan bahwa Allah Swt. tidak hanya menimpakan azab kepada mereka di akhirat, tetapi juga di dunia. Firman Allah Swt. “Alam nuhlika al-awwalîn, tsumma nutbi’uhum al-âakhirîn,” sebagaimana diterangkan para mufasir, memberitakan adanya azab di dunia. Beberapa kaum yang disebutkan para mufasir tersebut memang benar-benar telah ditimpa azab ketika di dunia.
Azab di dunia kepada mereka juga disebutkan dalam beberapa ayat lainnya (Lihat, misalnya, QS Ar-Rum [30]: 47). Diberitakan pula beberapa jenis azab yang ditimpakan atas mujrimûn dari kalangan kaum yang terdahulu.
Kaum Nabi Nuh as. ditenggelamkan dengan banjir yang melanda mereka (QS Al-Ankabut [29]: 14). Kaum ‘Ad yang mendustakan Nabi Hud as. ditimpa angin yang dahsyat disertai dengan bunyi gemuruh yang menggelegar sehingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS At-Taubah [9]: 70, Al-Qamar [54]: 18, Fushshilat [41]: 13 dan An-Najm [53]: 50). Kaum Tsamud yang mengingkari Nabi Shalih dan membunuh unta betina juga ditimpa azab yang membinasakan mereka (QS Al-Hijr [15]: 80, Huud [11]: 68, dan Qaf [50]: 12).
Kaum Nabi Luth yang terkenal dengan perilaku sodomi sesama jenis ditimpa azab berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga rumah-rumah mereka hancur. Mereka pun tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Asy-Syu’ara: 160, An-Naml: 54, Al-Hijr: 67, Al-Furqan: 38, dan Qaf: 12).
Penduduk Madyan, kaum Nabi Syuaib, ditimpa azab berupa hawa yang sangat panas. Akhirnya, mereka pun binasa (lihat QS At-Taubah [9]: 70, Al-Hijr [15]: 78, Thaha [20]: 40, dan Al-Hajj [22]: 44). Firaun beserta bala tentaranya dibinasakan di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya (QS Al-Baqarah [2]: 50 dan Yunus [10]: 92).
Selain mereka masih ada kaum-kaum lainnya yang ditimpa azab di dunia. Semua itu menunjukkan secara jelas bahwa orang-orang kafir yang berani menentang Allah Swt. dan rasul-Nya itu binasa setelah menerima azab di dunia.
Ketiga: Ancaman keras kepada siapa pun yang mengikuti jalan al-mujrimûn.
Firman Allah Swt. “Kadzâlika naf’alu bi al-mujrimîn” memberikan penegasan bahwa begitulah sunatullah yang diberlakukan kepada para pendosa. Ini artinya, jika mereka melakukan hal yang sama, yakni mendustakan Rasulullah saw. beserta ajaran yang beliau bawa, mereka pun akan mendapatkan azab serupa.
Oleh karena itu, hendaklan kaum yang hidup sesudah mereka menjadikan azab yang menimpa para pelaku dosa sebelumnya sebagai pelajaran penting (Lihat QS An-Naml [27]: 69).
Jika mereka mendustakan Rasulullah saw., mereka akan mengalami nasib yang sama (Lihat: QS Al-Hajj [22]: 42—44).
Orang yang menggunakan akalnya semestinya segera sadar bahwa dia adalah makhluk yang lemah. Sekuat apa pun dirinya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah Swt., Pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya. Ketika Dia berkehendak untuk menimpakan azab atas suatu kaum, tidak seorang pun bisa mencegah dan menghalanginya.
Oleh karena itu, sebelum azab itu datang, dia harus segera bertobat dan menempuh jalan orang-orang bertakwa. Dengan begitu, dia akan memperoleh keselamatan dan kesuksesan sebagaimana diberitakan dalam ayat lainnya. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
Catatan kaki:
1 Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 770
2 Az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 29 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 318
3 Al-Qinuji, Fat-h al-Bayân fî Maqâshid al-Qur‘ân, vol. 15 (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1992), 14
4 Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah, vol. 3 (Beirut: ‘Alam al-Kutub, 20018) ), 2358
5 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 159
6 Al-Jazairi, Aisar at-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, 2003), 494
7 Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 383
8 Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999), 298
9 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl Al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 129. Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiyy, 1987), 679; Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, vol. 5 (Beirut, Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1998) , 275
10 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl Al-Qur‘ân, vol. 24, 129
11 Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4, 679; Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 192
12 Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 192
13 Al-Jazairi, Aisar al-Tafâsîr, vol. 5, 494
14 Ibnu Juzyi, At-Tas-hîl li ‘Ulûm al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Syarikah Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam, 1996). 442.
15 Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 770
16 Al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 383
17 Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 192
18 Al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 383
19 Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, vol. 12 (Beirut, Dar Shadir, tt), 30
20 Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah, vol. 3, 365
21 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl Al-Qur‘ân, vol. 24, 131
22 Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4, 679
23 Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 418
24 Az-Zamakhsyari, Al-Kaysysyâf, vol. 4, 679. Lihat juga Al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr at-Ta‘wîl, vol. 5, 275
25 Ibnu Juzyi, At-Tas-hîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2, 442
26 Al-Jazairi, Aisar at-Tafâsîr, vol. 5, 494
27 Al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr at-Ta‘wîl, vol. 5, 275; Az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 318
28 Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 418. Lihat juga Az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 318
29 Al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 383; al-Baidhawi, Anwâr at-Tanzîl wa Asrâr at-Ta‘wîl, vol. 5, 275. Lihat juga Az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 318
