Muslimah News, INTERNASIONAL — Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) resmi mengakui Idulfitri dan Iduladha sebagai hari besar keagamaan. Penetapan itu diambil UNESCO setelah adanya usulan (proposal) dari Indonesia dan didukung oleh lebih dari 30 negara.
Dalam dokumen resmi di situs UNESCO Draft Decision 219/EX 37 disebutkan pengakuan terhadap Idulfitri dan Iduladha adalah bentuk komitmen UNESCO dalam merangkul keragaman budaya dan agama dari negara anggota. Selain itu, sebagai upaya menghormati kepercayaan negara yang ada di lingkupnya.
“Dengan mengakui ketaatan penting ini, hal ini akan mendorong dialog antarbudaya, saling menghormati, dan pemahaman dalam kerangka UNESCO,” tulis keterangan dokumen resmi tersebut.
Promosi Toleransi
Pengamat politik Fatma Sunardi menilai, pengakuan UNESCO ini bagi Indonesia menjadi promosi toleransi antaragama.
“Bagi Indonesia, proposal ini adalah diplomasi untuk mempromosikan toleransi antaragama serta keragaman budaya dan agama di UNESCO,” tuturnya kepada MNews, Selasa (9-4-2024).
Fatma menjelaskan, Indonesia sebagai co-sponsor proposal, memulai pengusulan proposal ini pada awal 2024 dan dibahas pada Sidang Umum UNESCO ke-42 untuk diadopsi dan diimplementasikan oleh entitas-entitas antar pemerintah UNESCO selain Dewan Eksekutif.
“Pengakuan resmi dari organisasi internasional seperti UNESCO akan mendorong pemahaman global tentang nilai-nilai budaya dan agama serta meningkatkan status dan citra perayaan keagamaan tersebut di mata dunia sesuai dengan perspektif pluralisme yang dijunjung tinggi oleh PBB. Ini berarti Indonesia menjadi promotor pluralisme,” ulasnya.
Keputusan UNESCO ini, ucapnya, akan memiliki signifikansi penting bagi Indonesia yang sedang mengaruskan moderasi beragama.
“Sebagai salah satu negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar kedua di dunia, pemerintah sedang giat memoderasi cara beragama, termasuk bagaimana relasi agama dan budaya dalam kerangka pluralisme,” terangnya.
Penetapan ini menurutnya, akan memperkuat profil Indonesia di panggung internasional, menegaskan nilai-nilai yang dianggap penting yang dijunjung tinggi oleh Indonesia yakni keberagaman, solidaritas, persatuan, dan kebersamaan.
“Padahal dalam praktiknya, semua nilai tadi telah menguatkan sekularisme, pluralisme dan menempatkan ajaran Islam politik sebagai nilai intoleran, radikal bahkan ekstrem,” kritiknya.
Bagi UNESCO, sambungnya, tentu penting mengakui Idulfitri dan Iduladha sebagai budaya keagamaan.
Tidak Ada Kepentingan Umat
Fatma menilai, pengakuan ini tidak ada kaitannya dengan kepentingan umat Islam, baik di Indonesia maupun di negeri mayoritas muslim lainnya. Bahkan, menurutnya, pengakuan ini dianggap UNESCO sebagai jalan penting untuk mendorong dialog antarbudaya, saling menghormati, hidup berdampingan secara damai dan toleransi di antara komunitas global.
Dalam dokumen pengesahan keputusannya, UNESCO mengaitkan pengakuan Idulfitri dan Iduladha dengan resolusi Majelis Umum PBB 47/124, 48/126, dan 49/213, yang memproklamasikan dan mendukung Tahun Toleransi PBB; Resolusi 59/23 tentang Peningkatan Dialog Antaragama, 60/10 tentang Peningkatan Dialog Antaragama dan Kerja Sama untuk Perdamaian, 60/11 tentang Peningkatan Pemahaman Agama dan Budaya, Kerukunan dan Kerja Sama, 67/104 mencanangkan periode 2013—2022 sebagai Dekade Internasional untuk Pemulihan Hubungan Kebudayaan; dan Deklarasi Universal UNESCO tentang Keanekaragaman Budaya (2001).
Masih menurut dokumen yang sama, UNESCO juga mengaitkan pengakuan dua hari raya Islam ini dengan komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) 16 dari Agenda 2030, yakni untuk mendorong masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, memberikan akses terhadap keadilan bagi semua orang dan membangun lembaga-lembaga yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan.
Oleh karena itu, ia mempertanyakan, dengan alasan apa umat harus senang dengan keputusan UNESCO tersebut? Ia pun berharap umat tetap sadar akan peringatan Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu,” jelasnya.
Bagian dari PBB
Fatma menegaskan, bagaimanapun, UNESCO adalah bagian dari PBB dan PBB adalah satu dari rezim global kapitalis yang dibentuk demi menjaga eksistensi kapitalisme global.
“Saat ini, kapitalisme sedang menghadapi masalah kohesi sosial di berbagai penjuru dunia. Konsep multikulturalisme telah gagal dan tinggal narasi saja. Mereka berasumsi bahwa dengan pengakuan perbedaan, akan bisa merajut kohesi sosial di antara penganut budaya dan agama yang berbeda. Demikianlah pluralisme terus dinarasikan,” paparnya.
Ia mengulas, promosi pluralisme di negeri-negeri Islam telah mengkriminalisasi Islam politik dan mendukung umat Islam sebatas ajaran ritual dan spiritual. Ia pun mengimbau agar umat waspada dengan narasi UNESCO ini.
“Wahai umat, waspadalah dengan narasi UNESCO tentang keberagaman dan penghormatan budaya dengan pengakuan Idulfitri dan Iduladha sebagai hari besar keagamaan global. Percayalah, hanya Islam yang memiliki konsepsi tentang merajut perbedaan dan meleburkan latar belakang suku, ras, dan agama, menjadi jalinan kewarganegaraan daulah yang hidup harmonis,” pungkasnya. [MNews/IA]
