[Kabar] Idulfitri, UIY: Bergembira, tetapi di Sisi Lain Bersedih

[Kabar] Idulfitri, UIY: Bergembira, tetapi di Sisi Lain Bersedih

Muslimah News, NASIONAL— Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengatakan, kaum muslim menyambut Idulfitri dengan rasa gembira, tetapi di sisi lain ada hal yang membuat sedih.

“Saya kira penting untuk kita sadari bahwa sebagai seorang muslim seolah-olah ada pertentangan di dalam diri kita. Satu sisi, hari ini kita bergembira, tetapi tetap harus menyadari ada sisi lain yang membuat kita sedih,” tuturnya di “Focus to the Point: Lebaran di Tengah Penderitaan Umat” melalui kanal UIY Official, Selasa (9-4-2024).

Ia menjelaskan, kita bergembira karena sudah menyelesaikan satu kewajiban luar biasa, yaitu puasa Ramadan sebulan penuh dengan satu keyakinan bahwa ibadah kita diterima oleh Allah Taala.

“Dosa-dosa kita diampuni sesuai dengan janji-Nya. Kita juga yakin dengan penuh harap bahwa kita menjadi makin bertakwa,” imbuhnya.

Soal kegembiraan ini, ucapnya, Nabi mengatakan, “Untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Pertama, ketika berbuka, ia bahagia dengan bukanya itu. Kedua, ketika masuk Idulfitri, ia bahagia dengan Idulfitrinya.”

‘Jadi, semestinya kita ini berbahagia, bahkan Nabi juga menganjurkan ketika salat semuanya keluar rumah, bahkan perempuan yang sedang haid pun dituntunkan untuk ikut hadir di tempat salat. Semua dengan pakaian terbaik. Ini syiar yang menunjukkan umat berbahagia menyambut Idulfitri,” jelasnya.

Tidak Baik-Baik Saja

Meski demikian, sambungnya, sisi lain umat Islam sedang tidak baik-baik saja, baik umat Islam di negeri ini atau di luar negeri.

“Di dalam negeri, persoalan ekonomi, persoalan sosial, persoalan pendidikan, persoalan politik masih memberi beban sangat berat kepada umat sehingga tidak bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya,” sedihnya.

Ia melanjutkan, di luar negeri di Gaza khususnya ada keadaan yang sangat menyayat hati. “Hampir-hampir kita tidak bisa bahagia jika menyaksikan situasi saudara-saudari kita di sana. Bagaimana bisa jumlah kita begini banyak tetapi tidak bisa menolong mereka,” sesalnya.

Ia merasa sedih karena ada banyak bantuan, tetapi tidak bisa masuk ke Gaza karena pintu Rafah tidak bisa dibuka, kecuali seizin Tel Aviv dan Washington, sedangkan serangan terus terjadi.

“Begitu juga dengan saudara kita di Rohingya, bahkan belum lama ini kita mendengar kabar mereka masih terus berdatangan (mengungsi) dan kapalnya tenggelam. Tidak sedikit dari mereka yang meninggal. Begitu juga di Uighur dan lain-lainnya,” bebernya.

Berempati

Ia pun berharap, meski dalam keadaan berbahagia, hendaknya kaum muslim menyisakan rasa empati dan simpati kepada saudara-saudaranya yang sedang mengalami kesusahan.

“Empati dan simpati itu mewujud pertama dengan mendoakan dan memberikan bantuan. Kedua, kita mesti tahu bahwa ini semua adalah akibat dari sebuah sebab yang lebih besar yaitu lemah dan rapuhnya umat Islam,” bebernya.

Kerapuhan itu menurutnya muncul karena umat Islam tidak bersatu dan tidak ada yang mempersatukan.

“Apa yang mempersatukan umat? Yang mempersatukan umat adalah pemimpin dan institusi politik. Itulah yang disebut khalifah dan Khilafah,” tandasnya.

Untuk menghilangkan kesedihan itu, ujarnya, umat Islam harus mengambil peran yang sangat nyata, sungguh-sungguh, konsisten, untuk terwujudnya kembali persatuan umat.

“Jika kita ambil bagian di situ, maka ‘agak sedikit mengurangi’ rasa bersalah kita, rasa dosa kita, sehingga perasaan terluka itu juga bisa sedikit dikurangi, karena kita sudah berusaha. Apalagi kalau mengajak saudara sesama muslim lain untuk berpartisipasi di dalam ikhtiar itu,” harapnya.

Ia menandaskan bahwa yang terpenting bukan sekadar mengurangi rasa bersalah, tetapi ini merupakan kewajiban yang jika diperjuangkan secara konsisten akan sampai kepada tujuan yaitu terwujudnya kembali persatuan umat.

Jadi Umat yang Positif

Ia berharap agar kaum muslim menjadi umat yang positif, dalam arti jika tidak bisa menyelesaikan masalah, maka jangan menambah masalah.

“Hari ini masalah sudah sangat banyak dan di antara masalah-masalah itu sebenarnya datang dari umat Islam sendiri. Inilah yang membuat akhirnya persoalan yang sudah sangat berat itu menjadi makin berat,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, kezaliman yang terjadi di negeri ini sebagian besar dilakukan oleh umat Islam yang memiliki kewenangan dan kekuasaan. Menurutnya, alih-alih mengurangi persoalan, mereka malah menambah persoalan.

“Kita membaca ada kasus Rempang, misalnya. Mereka itu muslim, tetapi digusur oleh penguasa yang muslim juga,” ucapnya mencontohkan.

Terakhir ia sangat berharap, dalam skala masing-masing dari umat ini, seharusnya bisa menjadi positif dengan turut mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat muslim. “Jangan sampai justru menambah masalah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *