[Sur’atul Badihah] Pengaruh Sur’atul Badihah terhadap Umat (Bagian 1/4)

[Sur’atul Badihah] Pengaruh Sur’atul Badihah terhadap Umat (Bagian 1/4)

Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Umat adalah satu ungkapan tentang sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh akidah yang sama yang melahirkan nidzam (sistem). Selama ini yang merupakan definisi umat, sesungguhnya para ahli fikih termasuk dalam umat, baik mereka itu berasal dari Arab, Turki, atau orang ajam (asing). Ini karena mereka semua dipersatukan oleh satu akidah yang melahirkan nidzam (sistem).

Amirulmukminin merupakan bagian dari umat karena dia dipersatukan dengan manusia lainnya oleh akidah yang sama yang melahirkan nidzam (sistem). Individu-individu merupakan bagian dari umat meskipun mereka adalah individu-individu karena mereka dipersatukan dengan manusia lainnya dengan akidah yang sama yang melahirkan nidzam (sistem).

Bangsa, meskipun ada ikatan kesukuan maupun kekabilahan yang mempersatukan mereka dan struktur yang menurut mereka terbaik dan mempersatukan, sesungguhnya sur’atul badihah meskipun ada di antara individu-individu, tetapi tidak ada pada bangsa dan pada sistem karena tidak ada mafhum bagi bangsa dan tidak ada mafhum bagi kesukuan atau kekabilahan sampai ada sesuatu yang memancar/lahir darinya.

Ini karena sesuatu yang tidak melahirkan mafahim apa pun yang merupakan sistem bagi kehidupan maka sesuatu itu tidak akan mampu memberikan kepada manusia cara yang sama karena pemahaman mereka terhadap sesuatu berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak ada pengaruhnya sur’atul badihah yang dimiliki oleh bangsa-bangsa dan struktur-struktur karena meskipun mereka memiliki sistem, tetapi tidak lahir dari mafhum umum, meskipun pemahaman umum itu mungkin ada pada semuanya, tetapi tidak lahir dari pemahaman umum, sesungguhnya tidak mungkin mereka melahirkan sur’atul badihah.

Individu atau individu-individu sehingga tumbuh dalam diri mereka sur’atul badihah, mereka harus dipersatukan oleh akidah yang sama yang akidah itu melahirkan sistem. Oleh karena itu, orang Arab sebagai orang Arab dan orang Turki sebagai orang Turki dan orang ajam (asing) sebagai orang ajam tidak akan mungkin terwujud dalam diri mereka semua atau pada diri salah seorang di antara mereka sur’atul badihah dan tidak mungkin sur’atul badihah itu memengaruhi diri mereka karena di antara mereka tidak ada raabith (pengikat), apakah itu ikatan darah maupun ikatan struktur dan masing-masing dari keduanya tidak melahirkan sistem sehingga tidak akan mungkin menumbuhkan sur’atul badihah.

Dengan demikian, sur’atul badihah tumbuh di dalam diri umat-umat dan memengaruhi umat-umat itu, tetapi tidak tumbuh di dalam diri bangsa-bangsa dan tidak memengaruhi mereka. Dengan demikian, dalam menumbuhkan sur’atul badihah dan pengaruhnya, harus ada dalam diri mereka itu bagian dari umat. Yang demikian itu agar diperoleh lahirnya sistem dari akidah yang mereka anut.

Dengan demikian, orang-orang Arab sebagai satu bangsa yang berasaskan kesukuan, tidak mungkin akan tumbuh dalam diri mereka sur’atul badihah dan sur’atul badihah tidak akan memengaruhi mereka. Harus ada akidah yang melahirkan sistemnya sehingga sur’atul badihah dapat tumbuh dan memiliki pengaruh. Yang demikian itu karena perkataan atau aktivitas mengarah kepada mafhum untuk menghilangkan kezaliman atau melepaskan dari bahaya dan mafhum ini yang akan menghasilkan kecepatan memahami dan kesehatan menghukumi. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/4

Sumber artikel: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *