Arab Saudi Akan Ikut Ajang Miss Universe, Bukti Negeri Ini Makin Liberal

Arab Saudi Akan Ikut Ajang Miss Universe, Bukti Negeri Ini Makin Liberal

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Jika dahulu kita mengenal Arab Saudi sebagai negara yang sangat konservatif terhadap agama, melarang musik, menjaga pakaian dan kehormatan perempuan, dan sebagainya, kenyataannya semua itu kini berangsur-angsur menghilang, berubah menjadi negeri yang makin terbuka dan liberal.

Gedung bioskop dan tempat hiburan makin marak, perempuan bebas berkeliaran, bahkan kaum wanita sekarang bisa menonton sepak bola di stadion dan campur baur dengan para pria.

Mirisnya lagi, beberapa tahun lalu, penguasa Arab Saudi tidak lagi mengatur urusan pakaian perempuan hingga mereka diperbolehkan menggunakan bikini.

Tidak kalah mengejutkan, tersiar berita bahwa Arab Saudi akan menorehkan sejarah dengan mengikuti ajang Miss Universe untuk pertama kalinya. Dalam kontes kecantikan yang akan digelar September 2024 nanti, Arab Saudi akan mengirimkan Rumy al-Qahtani sebagai wakilnya. (Suara, 26-3-2024).

Rumy al-Qahtani mengaku senang dan merasa terhormat bisa mewakili negaranya dalam kontes kecantikan tersebut. Bukan hanya dirinya menjadi wanita pertama Saudi di kompetisi tersebut, melainkan juga menjadi sejarah untuk pertama kalinya kerajaan Arab Saudi mengirimkan kontestannya di ajang kontes kecantikan sejagat. (CNN Indonesia, 26-3-2024).

Kontes “Ratu-ratuan” Buah Kapitalisme

Berabad-abad lamanya, umat manusia mengenal Arab Saudi sebagai negeri yang masih menerapkan sebagian besar hukum Islam, bahkan ada yang menilainya sebagai negara Islam. Di negeri itu ada dua kota mulia, Mekkah dan Madinah, yang identik dengan pelaksanaan haji dan umrah. Di dalamnya terdapat tempat suci, Baitullah, yang menjadi kiblat umat Islam, tempat diutusnya Nabi Muhammad saw., bahkan tempat turunnya Al-Qur’an. Sayangnya, ternyata negeri yang memiliki banyak kemuliaan ini tidak menjamin dapat menjaga agama Islam, hingga banyak syariat yang mulai dilanggar.

Perih nian melihat reformasi Arab Saudi yang terjadi kini. Aroma liberalisme kian menelanjangi. Negeri yang mendapat julukan Tanah Haram itu sekarang mengalami kemunduran yang sangat jauh, makin jauh dari nilai-nilai Islam.

Rencana ikut sertanya Arab Saudi menjadi peserta Miss Universe jelas makin menodai ajaran Islam yang terlahir di negeri tersebut. Miss Universe dan kontes “ratu-ratuan” lainnya sesungguhnya menggambarkan posisi kaum perempuan dalam masyarakat sekuler dengan ideologi kapitalismenya yang imperialistik dan eksploitatif.

Dalam sistem rusak ini, perempuan dinilai dengan harga yang sangat rendah dan terhina. Perempuan diperlakukan tidak lebih dari benda atau komoditas yang diperalat untuk memutar mesin industri kapitalistik, baik sebagai faktor produksi sebagai objek pasar bagi produk yang dihasilkannya. Pada saat yang sama, mereka tidak bisa melepas peran kodrati mereka sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka. Dampaknya bisa dibayangkan, kaum perempuan terjebak dalam dilema peran ganda dan kualitas keluarga akhirnya menjadi taruhannya.

Sistem sekuler kapitalisme memang telah berhasil mengubah sebuah negeri yang sebelumnya condong kepada Islam, makin menghilang dan berubah menjadi liberal (bebas). Aturan-aturan Islam yang dahulu dijaga, makin tergerus. Tsaqafah Islam yang luhur, sedikit demi sedikit makin terkikis. Pemisahan agama dari kehidupan akan terus berembus ke setiap sudut kehidupan rakyat Saudi akibat buah dari sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan. Bisa dipastikan, ideologi sekuler ini akan kian mencengkeram kebijakan dan pandangan penguasa Arab terkait kehidupan.

Sungguh miris, cara pandang penguasa saat ini dengan mudah melepas hukum akhirat demi kepentingan duniawi semata. Dari berbagai sisi, tidak ada kebaikan apa pun dari ajang ini, justru makin memberi ruang terjadinya liberalisasi. Tragisnya lagi, tumbuh suburnya liberalisasi di negeri suci ini tidak hanya memberi dampak kepada individu, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan, bahkan masyarakat muslim dunia, termasuk anak-anak, generasi muslim. Inilah sesungguhnya yang harus diwaspadai.

Sistem Islam Menutup Pintu Liberalisasi

Berbeda dengan sistem sekuler kapitalisme yang terbukti menumbuhsuburkan kebebasan, Islam mengharuskan umatnya untuk terikat dengan seluruh aturan yang datang dari Allah Taala, Pencipta manusia, yang Maha Mengetahui segala yang tepat bagi manusia. Islam telah memberikan aturan yang sangat lengkap yang akan menjaga manusia dari kerusakan, baik individu, masyarakat, maupun bangsa. Islam Allah turunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam

Firman-Nya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk( menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Rahmat Islam hanya bisa dirasakan ketika ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan secara kafah, bukan sebatas teori yang dipelajari dalam kajian akademis, juga bukan sekadar penerapan hukum yang bersifat parsial. Ajaran Islam harus dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh sehingga akan mewujudkan ketenteraman bagi seluruh manusia.

Islam mengharuskan umat Islam untuk terikat dengan seluruh aturan Allah Swt. dan Rasul-Nya, tanpa kecuali. Islam sebagai aturan kehidupan yang diturunkan oleh Allah Swt. merupakan aturan paripurna; mampu menyelesaikan setiap persoalan manusia secara menyeluruh, tuntas, dan sempurna. Dalam Islam, halal dan haram sangat jelas. Tidak akan lekang oleh waktu dan tidak tergantung pada pendapat penduduk bumi.

Demikianlah Islam, Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir telah menurunkan syariat-Nya untuk umat manusia. Bukan untuk mengekang manusia, melainkan agar bisa hidup dengan tenteram dan sejahtera karena syariat Islam sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akalnya.

Istimewanya lagi, dengan penerapan syariat Islam, umat Islam akan tercegah dari kehidupan serba bebas atau liberalisme. Jelas bahwa solusi satu-satunya adalah mengembalikan aturan kehidupan ini kepada Sang Pencipta, Allah Swt., yakni dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.

Tersimpan tanya dalam benak, apakah Arab Saudi—sebagai negeri dengan berbagai kemuliaan yang Allah berikan—tidak merasa takut akan peringatan Allah karena makin jauh dari syariat Islam?

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96). Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *