[Dunia Remaja] Ramadan Must be Better

[Dunia Remaja] Ramadan Must be Better

Muslimah News, DUNIA REMAJA – Guys, pada setiap puasa Ramadan yang sudah dikerjakan, kira-kira berapa persen yang kita yakini, puasa kita enggak batal, baik secara pahala maupun syariat? Terpikir enggak sih untuk menjadikan Ramadan tahun ini lebih baik daripada Ramadan tahun lalu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas patut menjadi bahan renungan kita bersama, lo, ya. Siapa tahu kita menjalankan puasa setiap Ramadan sekadar rutinitas tanpa bekas. Enggak bermaksud berburuk sangka, ya. Maksudnya, jangan sampai puasa atau aktivitas selama Ramadan tidak berdampak pada ketakwaan kita. Sesungguhnya, Allah Swt. menyampaikan dalam firman-Nya bahwa puasa itu untuk meraih ketakwaan.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183).

Mengapa Kudu Lebih Baik?

Siapa pun orangnya, apa pun aktivitasnya, pasti ingin lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Sudah lumrah manusia pengin seperti itu. Hanya saja, kita kudu mencari “strong why” alias alasan kuat dan mendasar, mengapa kita harus lebih baik? Nah, kalau kita telusuri, setidaknya ada tiga alasan mendasar alias motivasi seseorang ingin lebih baik dari sebelumnya. Apakah tiga alasan tersebut?

Pertama, alasan materi. Contoh gampangnya, teman-teman kita yang berjubel pengin menjadi selebritas dengan ikutan audisi, misalnya. Nah, kebanyakan dari mereka alasannya pasti karena pengin dapat materi. Iya dong, orang ikut lomba tujuannya pasti pengin jadi juara. Kalau sudah menjadi juara dan mendapat materi yang diinginkan, ia akan merasakan bahagia. Simpelnya begitu. Masih banyak contoh lainnya. Teman-teman bisa cari sendiri contoh serupa, ya.

Kedua, alasan emosional. Emosional di sini bisa berupa kepuasan batin, tepukan tangan, pujian, dan sejenisnya. Misalnya, bapak atau ibu yang mendidik, mengasuh, bahkan merawat kita dari kecil hingga dewasa pasti akan merasakan kepuasan batin kalau kita sukses, menjadi anak baik, dan seterusnya. Ketulusan menjadi ukuran kebahagiaan mereka.

Ketiga, alasan spiritual. Nah, alasan ini paling kuat jika dibandingkan dengan alasan pertama dan kedua. Ini karena kita bicara dalam kerangka Islam. Meskipun enggak salah kita punya alasan materi dan emosi, tetapi alasan spiritual akan menjadi “strong why” paling kuat di antara ketiganya. Contoh riil, kalau kita salat karena alasan materi, maka kita enggak bakal salat kalau enggak menghasilkan materi. Kalau alasannya karena tepukan tangan, kita enggak bakal salat lagi kalau enggak ada yang ngasih tepuk tangan.

Sebaliknya, tunaikan salat, puasa, atau ibadah lainnya, bahkan aktivitas kita sehari-hari karena alasan spiritual, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah Taala. Dengan demikian, aktivitas ibadah kita tambah mantap, enggak goyah. Alasan spiritual akan menjadi power yang gede banget, mengalahkan apa pun.

Kehidupan para nabi dan sahabat bisa dijadikan teladan yang tepat banget. Misalnya, andai Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail karena alasan materi atau emosional, Nabi Ibrahim enggak bakal jadi menyembelih putranya tersebut. Akan tetapi, Nabi Ibrahim menyadari bahwa itu wujud ketaatan kepada Allah, maka beliau melakukannya. Contoh lain, saat Perang Badar, sekitar 300 orang kaum muslim harus berhadapan dengan kafir Quraisy yang jumlahnya jauh lebih banyak. Ini bisa saja dijadikan alasan material bagi Rasulullah saw. dan para sahabat untuk mundur dari perang. Namun apa yang terjadi? Kaum muslim saat itu hanya punya satu keyakinan dan satu alasan, yakni karena Allah Taala. Akhirnya, peperangan itu dimenangkan oleh kaum muslim atas pertolongan Allah Taala.

Nah, persoalannya sekarang, bagaimana sih caranya agar alasan spiritual tersebut menjadi “strong why” dalam ibadah puasa Ramadan kita?

Berawal dari Niat

Tentang niat puasa, coba kita simak penuturan Rasulullah saw. dalam hadis masyhur berikut. Dari Amirulmukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata,

“Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya.’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama memasukkan hadis niat ini di awal pembahasan kitab-kitab mereka. Hal ini dilakukan bukan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan, hadis ini masuk dalam 70 bab masalah fikih. Abdullah Bin Mubarak berkata, “Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya. Sebaliknya, berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karena niatnya.”

Jadi begitu Guys, niat penting banget dalam aktivitas kita sehari-hari. Meskipun niat letaknya pada awal setiap perbuatan yang hendak kita lakukan, tetapi niat juga menentukan tujuan akhir hidup kita. Ibaratnya kalau mau bepergian, niat itu bekal yang akan kita bawa. Jika bekal yang kita bawa salah dan kurang, tentu akan memperburuk perjalanan. Bahkan bisa jadi kita enggak sampai ke tujuan yang benar.

Niat itu letaknya di dalam hati dan berfaedah yang enggak kecil. Setidaknya ada dua alasan kuat yang membuat kita harus menetapkan niat dengan benar.

Pertama, niat membedakan sebuah aktivitas bernilai ibadah atau sekadar aktivitas rutin. Bisa jadi perbuatannya sama, tetapi punya efek berbeda kalau niat atau tujuannya juga berbeda. Contohnya, kita setiap hari mandi kalau akan pergi ke sekolah agar bersih dan segar. Akan tetapi akan berbeda niatnya dengan orang yang mandi junub dalam rangka menghilangkan hadas besar. Orang pada contoh pertama sekadar melakukan rutinitas. Sebaliknya, orang pada contoh kedua berniat membersihkan diri agar suci dari hadas sehingga bisa beribadah dengan tenang.

Kedua, niat bisa membedakan antara suatu amal ibadah dengan amal ibadah yang lain. Contohnya, niat salat subuh berbeda dengan niat salat Jumat, meskipun jenis ibadah dan jumlah rakaatnya sama, Justru kalau kedua salat ini disamakan niatnya, tentu akan rusak amalan salatnya. So, niat menjadi hal mendasar dalam ibadah, terlepas ada perbedaan pemahaman fikih niat harus dilafazkan secara lisan atau enggak. Perbedaan ini enggak menjadi persoalan. Akan tetapi, ada hikmah di antara keduanya bahwa niat tetap penting.

Jadi, niat yang benar itu penting banget, ya. So, kita harus meluruskan niat segala ibadah dalam Ramadan ini hanya karena Allah Taala. Ini agar puasa Ramadan tidak sekadar rutinitas seperti kita diberi PR oleh guru, lalu dikerjakan dan dikumpulkan. Sudah, gitu aja. Upayakan agar puasa kita kali ini enggak begitu lagi, ya Guys.

Puasa Kita Kudu Naik Level

Puasa Ramadan kali ini, jangan sampai kita hanya menahan lapar dan haus doang, ya Sob. Akan tetapi, kita harus naik level. Yuk, simak hadis Rasulullah saw. berikut.

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath-Thabrani).

Mungkin selama ini kita sering bertanya kepada para ustaz atau guru, “Menelan ludah itu batal enggak, sih?” “Bergosip itu bikin puasa batal, enggak sih?” dan pertanyan serupa lainnya. Bukan berarti enggak boleh bertanya seperti itu, ya. Akan tetapi, sudah saatnya kita paham jawabannya karena sudah sering diulang-ulang.

Nah, sekarang saatnya pemikiran kita “naik level” alias agak keren sedikit dengan memperhatikan sekitar kita. Ternyata banyak remaja yang menjadikan Ramadan sebagai momen taat sesaat saja. Misalnya, mereka puasa, tetapi tetap pacaran, dan lainnya. Duh..duh.., inilah yang mewakili “puasa setengah level”. Kalau selama Ramadan masih seperti itu perilaku kita, wajar jika puasanya enggak membekas setelah Ramadan kelar.

So, ini menunjukkan bahwa ada yang enggak benar dalam pola pikir kita tentang ibadah, khususnya puasa. Seakan-akan saleh, menjadi baik, hijrah, dan bertakwa hanya khusus saat Ramadan, tetapi pada 11 bulan lainnya justru bersikap sebaliknya. Itu salah besar, Sob. Justru ini menunjukkan bahwa pola pikir atau pemahaman kita masih sekuler, bukan Islam kafah.

Biar Enggak “Setengah Level”

Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar pemikiran kita enggak “setengah level”. Pertama, kita harus berusaha keras dan serius untuk memperbaiki pola pikir dan pemahaman kita selama ini tentang Islam. Kalau selama ini kita memahami Islam hanya “kulit luarnya” saja, kini saatnya kita bongkar semua itu. Pahamilah bahwa Islam adalah way of life. Islam itu ideologi kehidupan. Islam begitu lengkap dan sempurna karena mengatur hubungan kita dengan Allah, dengan manusia lain, dan dengan diri kita sendiri.

Jadi, jika kita meneliti Al-Qur’an dan hadis, ternyata Islam tidak mengatur ibadah ritual saja. Ada juga nas-nas tentang haramnya riba, hukum potong tangan untuk pencuri, larangan berzina, dan lain sebagainya. Nah, sudahkah kita memahami semua itu? Kalau belum, sekaranglah saatnya. Jadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri agar menjadi pribadi baru dengan pola pikir yang benar tentang Islam.

Kedua, giat mengaji untuk mendapatkan pola pikir baru yang sesuai Islam tersebut. Jangan merasa cukup hanya belajar dari buku, googling di internet, atau nonton YouTube. Ngaji yang benar adalah ngaji dengan sistem talaqiyan melalui halaqah dari seorang guru. Rutinkan minimal seminggu sekali untuk mengkaji kitab tertentu yang terstruktur dan revolusioner secara pemikiran.

Melalui halaqah, kita tidak hanya mendapat ilmu, tetapi juga akan dibina (tasqif). Ini seperti pembinaan para sahabat kala itu di rumah Al-Arqam di Makkah bersama Rasulullah. Ngaji seperti ini harus diniatkan untuk ibadah, bukan untuk adu pintar, atau untuk kepuasan intelektualitas saja. Kalau sekadar untuk kepuasan intelektualitas, ngaji akan menjadi formalitas layaknya sekolah. Sesungguhnya ngaji melalui halaqah bukan sekolah, tetapi pembinaan (tasqif).

Ketiga, sebagai bentuk keseriusan dan implementasi ngaji kita. Oleh karenanya, ilmu yang didapat saat mengaji harus didakwahkan atau disampaikan kepada muslim lainnya. Seperti itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Lihat dan bacalah sirah perjuangan Rasulullah saw., khususnya saat di Makkah hingga turun perintah-Nya untuk berdakwah secara terang-terangan. Allah Swt. berfirman,

“Sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS Al-Hijr: 94).

 “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS Al-Mudatsir: 1–2).

Jadi, dakwah adalah implementasi dari ngaji kita. Kalau ngaji kita mengikuti metode Rasulullah saw. berupa pembinaan (tasqif), tentu akan berefek baik pada perilaku dan dakwah kita. Pembinaan yang kita ikuti akan mengubah pemikiran menjadi revolusioner. Kemudian, dakwah kita ke masyarakat juga akan mengubah pemikiran masyarakat.

Tentu ini bukan dakwah yang sesuai selera masyarakat saja, asalkan mendapat tepuk tangan semata, atau hanya bikin jamaah tertawa aja. Akan tetapi, dakwah yang mengubah pemikiran masyarakat dari pemikiran sekuler yang jauh dari Islam, menjadi pemikiran terhadap Islam yang benar, sempurna, dan menyeluruh. [MNews/YG]

Sumber: Buletin Teman Surga, Edisi 157

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *