Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sejak memegang kekuasaan pada 855 H, Sultan Muhammad al-Fatih bercita-cita untuk dapat menaklukkan Konstantinopel dan senantiasa berpikir tentang cara untuk menguasai ibu kota Kekaisaran Byzantium tersebut. Ia mengerahkan segenap kemampuannya dalam membuat perencanaan dan strategi untuk menaklukkan Kota Konstantinopel.
Allah Swt. berfirman,
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya.” (QS Al-Anfal: 60)
Memperkuat Fisik dan Ruhiyah Pasukan
Ia berusaha keras memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi personel hingga jumlah pasukannya mencapai dua ratus lima puluh ribu pejuang. Ini adalah sebuah jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah tentara negara-negara lain pada masa itu. Ia juga memperhatikan pelatihan pasukannya dengan berbagai macam keterampilan perang dan penggunaan persenjataan yang membuat mereka ahli untuk melakukan operasi jihad yang sudah ditunggu-tunggu.
Selain memperhatikan aspek lahiriah pasukannya, Sultan Muhammad al-Fatih juga menyiapkan mereka secara ruhiyah, menanamkan semangat jihad pada diri mereka serta mengingatkan mereka tentang pujian Rasululllah saw. terhadap pasukan yang menaklukkan Konstantinopel dan boleh jadi merekalah pasukan yang dimaksud dalam hadis itu. Ini merupakan suntikan ruhiyah yang mampu memberikan kekuatan yang berpengaruh dan keberanian yang tiada tara. Selain itu, kehadiran para ulama di tengah pasukan Islam memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menguatkan tekad pasukan dan semangat jihad mereka sesuai dengan perintah Allah Swt..
Membangun Benteng Strategis
Sultan Muhammad al-Fatih berusaha mendirikan Benteng Rumeli Hishar yang terletak di sisi daratan Eropa, di Selat Bhosporus. Sebuah lokasi yang paling strategis yang berhadapan dengan Benteng Anatholia Hishar yang sudah dibangun pada masa Sultan Bayazid yang terletak di sisi Asia.
Sultan Muhammad al-Fatih sendiri yang membuat desain benteng, merancangnya, dan memilih posisinya. Kemudian desain benteng ini diterapkan seorang arsitek bangunan, Muslihuddin Anma. Untuk penggarapan proyek ini, ia melibatkan tujuh ribu pekerja hingga menyelesaikan pembangunan benteng dalam waktu empat bulan.
Kaisar Byzantium berusaha membujuk Sultan Muhammad al-Fatih agar tidak membangun benteng itu, dengan ganti akan dipenuhi kebutuhan-kebutuhan materi yang akan senantiasa dibayarkan kepada Sultan Muhammad al-Fatih. Akan tetapi, sultan tetap bersikeras untuk membangunnya karena ia benar-benar mengetahui urgensi tempat ini dari sisi militer hingga akhirnya pembangunan benteng itu selesai. Benteng itu berdiri sempurna, menjulang tinggi, dan kokoh. Tingginya mencapai 82 meter maka jadilah kedua benteng ini saling berhadapan dan jarak keduanya hanya 660 meter.
Setelah selesai dibangun, benteng diisi prajurit serta persenjataan, sebagian dari mereka keluar untuk melihat Konstantinopel dari dekat. Penguasa Byzantium akhirnya memerintahkan penduduknya yang tinggal di dekat benteng tersebut untuk mengosongkan tempat itu dan berpindah ke wilayah Konstantinopel dan menutup pintu-pintu gerbangnya.
Keberadaaan dua benteng yang saling berhadapan itu memungkinkan untuk mengontrol penyeberangan kapal-kapal dari arah timur Selat Bhosporus menuju ke sisi barat. Selain itu, meriam-meriam milik tentara Utsmani juga bisa mencegah kapal-kapal untuk sampai ke Konstantinopel dari wilayah-wilayah yang terletak di sisi timurnya, seperti Kerajaan Trabzon dan wilayah-wilayah lainnya yang dapat memberikan bantuan ke Kota konstantinopel ketika dibutuhkan.
Memperkuat Persenjataan
Sultan Muhammad al-Fatih menaruh perhatian khusus untuk mengumpulkan senjata-senjata yang dibutuhkan, dalam rangka menaklukkan Konstantinopel. Salah satu persenjataan yang paling penting adalah meriam, sultan memperhatikan pengadaan senjata tersebut secara intensif.
Sultan Muhammad al-Fatih mendatangkan seorang insinyur dari Hungaria yang bernama Orban. Dia sangat mumpuni dalam membuat meriam. Sultan menyambut kedatangan orban dengan sangat baik, serta memenuhi semua fasilitas yang dibutuhkan baik berupa harta, bahan baku, dan pekerja.
Insinyur ini mampu mendesain dan membuat meriam yang sangat besar, salah satu meriam buatannya yang paling penting adalah meriam sultan yang terkenal itu. Bobot meriam itu mencapai ratusan ton, dan dibutuhkan ratusan sapi untuk menariknya. Sultan Muhammad al-Fatih mengawasi secara langsung pembuatan meriam ini, serta melihat sendiri proses uji cobanya.
Memperkuat Angkatan Laut
Dalam mempersiapkan penaklukan Kota Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih juga memperhatikan secara khusus terhadap penguatan angkatan laut Utsmani. Ia berusaha memperkuat armada lautnya, serta memperbanyak jumlahnya dengan mendatangkan kapal-kapal perang yang beraneka macam, agar mampu melakukan tugasnya dalam melakukan serangan terhadap Konstantinopel. Hal ini karena Konstantinopel adalah sebuah kota maritim yang tidak mungkin bisa dikepung tanpa adanya kekuatan angkatan laut yang akan melakukan tugas ini. Kapal yang dipersiapkan untuk mengepung Konstantinopel berjumlah lebih dari empat ratus kapal.[MNews/Rgl]
Sumber:
- Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura.
- Muhammad Ali, Para Panglima Islam Penakluk Dunia, Ummul Qura.

Alhamdulillah