Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Masalah yang ada sekarang adalah cara mewujudkan proses berpikir karena sesungguhnya proses berpikir telah ada secara fitrah pada manusia. Manusia diciptakan memiliki otak, juga memiliki indra yang dapat digunakan untuk memindahkan waqi’ (fakta) ke otak dan ini adalah perkara yang alami. Tinggal pembahasan maklumat sabiqah (informasi sebelumnya) dan adanya waqi’ (fakta) yang akan dipindahkan ke otak.
Otak dan pengindraan ada pada manusia sejak ia lahir, keduanya ada sejak penciptaan dan merupakan fitrah. Oleh karena itu, mengadakan keduanya tidak membutuhkan usaha dan kerja keras karena keduanya ada pada manusia secara fitrah, yaitu ada sejak diciptakan. Dengan demikian, tidak tersisa, kecuali fakta-fakta yang akan dipindahkan oleh pengindraan ke otak dan maklumat sabiqah (informasi sebelumnya) yang akan menafsirkan fakta ini.
Adapun fakta-fakta, maka jumlahnya sangat banyak dan bermacam-macam. Karena manusia hidup di dunia ini, maka ia mengindra banyak fakta. Karena peristiwa-peristiwa yang banyak dan terjadi secara terus-menerus akan menciptakan fakta-fakta harian dan fakta-fakta yang baru, maka tidak ada yang dilakukan oleh indra, kecuali memindahkan fakta. Bagaimanapun banyaknya pemindahan itu, maka sesungguhnya fakta-fakta ini dibutuhkan untuk mewujudkan berpikir.
Yang demikian itu karena maklumat sabiqah (informasi sebelumnya) yang menafsirkan realitas ini sangat melimpah dan banyak dan penggunaannya terjamin dan mudah. Oleh karena itu, tidak terdapat masalah dalam berpikir dan berpikir tidak membentuk masalah apa pun. Proses berpikir itu terwujud dan tidak menyebabkan adanya masalah apa pun, maka bagaimana kita dapat mewujudkan berpikir yang tidak menyebabkan adanya suatu masalah?
Masalahnya adalah penjajahan Barat atau Barat yang kafir, termasuk Rusia. Yang demikian itu karena Barat telah mengetahui dari penelitian dan kesadarannya bahwa berpikir itu dapat terwujud sehingga Barat berusaha untuk membuatnya menganggur atau menjadikannya tidak produktif atau tidak bekerja.
Selanjutnya menganggapnya sebagai bahaya jika tidak mampu menganggurkannya, padahal berpikir tidak dapat dianggurkan karena makhluk hidup adalah hidup dan karena manusia adalah makhluk yang berpikir. Oleh karena itu, eksisnya kehidupan merupakan perkara yang alami dan keadaan manusia yang dapat berpikir juga merupakan sesuatu yang alami. Oleh karena itu, tidak mungkin menjadikan berpikir pada manusia tidak bekerja selama manusia itu ada dan selama kehidupan masih berdenyut di dalamnya.
Barat berusaha mengalihkan perhatiannya untuk menjadikan berpikir ini merugikan. Dari sinilah muncul masalah. Masalah yang muncul adalah bahwa berpikir merupakan sesuatu yang merugikan, maka kita dapat menghilangkan kerugian darinya dan menjadikannya bermanfaat.
Jawaban atas pertanyaan ini dimungkinkan dengan melihat pemikiran sekarang ini. Manusia selain Barat juga berpikir, tetapi ia berpikir terlalu berlebihan. Ia berpikir dan meneliti segala sesuatu dan memberikan filosofi kepada segala sesuatu. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 2/3
