[Tarikh Khulafa] Peran Besar Syekh Al-Kaurani terhadap Muhammad al-Fatih

[Tarikh Khulafa] Peran Besar Syekh Al-Kaurani terhadap Muhammad al-Fatih

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Pendidikan para ulama terhadap Muhammad al-Fatih telah membentuknya untuk tumbuh dan berkembang dalam kecintaan terhadap Islam. Keimanan yang ditanamkan kepadanya sejak kecil telah membuat Muhammad II berbuat dan bekerja sesuai dengan aturan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw..

Muhammad al-Fatih tumbuh dengan komitmen yang sangat kuat terhadap syariat Islam. Ia memiliki sifat takwa dan menjaga diri, mencintai ilmu dan para ulama, serta bersemangat untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Sifat religiusnya yang tinggi adalah manifestasi dari pendidikan Islam yang baik, yang ia pelajari sejak usia belia.

Wibawa dan Ketegasan Seorang Guru

Hal ini semuanya berkat bimbingan ayahnya dan upaya keras dari guru-guru yang telah membimbingnya. Hal ini juga diperkuat oleh kebersihan hati guru-gurunya, yaitu jauhnya mereka dari tipu muslihat dunia dan kesia-siaan. Para guru ini juga memiliki kesungguhan yang tinggi dalam mendidik Muhammad II hingga pada akhirnya melahirkan sosok Al-Fatih (sang penakluk)

Muhammad al-Fatih sangat terpengaruh dengan para ulama sejak usia kanak-kanak. Khususnya ulama yang bernama Ahmad bin Ismail Al-Kaurani, seorang ulama yang memiliki keutamaan. Ia adalah guru Muhammad al-Fatih pada masa pemerintahan ayahnya, Sultan Murad II.

Pada masa itu, Muhammad II memegang jabatan pemimpin di wilayah Magnesia. Bapaknya mengirimkan kepadanya beberapa orang syekh, tetapi ia tidak mau menuruti perintah para syekh tersebut dan tidak mau mempelajari Al-Qur’an dari mereka. Akhirnya Muhammad II tidak bisa mengkhatamkan Al-Qur’an.

Melihat kondisi seperti itu, Sultan Murad II mencari informasi tentang seorang syekh yang memiliki kewibawaan tinggi dan ketegasan. Lalu orang-orang menyebutkan seorang syekh yang bernama Al-Kaurani. Kemudian Sultan Murad II mengangkat Al-Kaurani sebagai guru bagi putranya dan memberikan kepadanya sebuah tongkat untuk memukul anaknya, jika dia tidak mau menaati perintah gurunya.

Syekh Al-Kaurani pun pergi untuk menemui Muhammad II dengan memegang tongkat di tangannya. Syekh Al-kaurani berkata, “Bapakmu mengirim aku untuk mengajarimu. Dan jika kamu tidak menaati perintahku, aku akan memukulmu.” Tak ayal, Muhammad II pun tertawa mendengar perkataan itu. Melihatnya tertawa maka Syekh Al-Kaurani memukulnya di tempat itu juga dengan pukulan yang keras. Sikap tegas yang ditunjukkan Syekh Al-Kaurani menjadikan Muhammad II takut kepadanya. Muhammad II pun mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu yang pendek.

Pendidikan Islam yang kuat dan guru dari kalangan ulama yang mulia yaitu Syekh Al-Kaurani ini akan berpengaruh besar terhadap Muhammad II setelah menjadi sultan kelak. Syekh Al-Kaurani tidak segan-segan memberikan koreksinya kepada Sultan Muhammad al-Fatih ketika menemukan ada sesuatu yang bertentangan dengan syariat pada diri dan kebijakan yang dikeluarkan sultan.

Rasulullah saw. bersabda, “Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Qur’an dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang diminta) mereka. Sedangkan kelompok yang kedua belajar mengajar, dan sesungguhnya aku diutus untuk menjadi guru.” (HR Ibnu Majah).

Memuliakan Guru

Syekh Al-Kaurani sendiri tidak pernah menundukkan kepalanya di hadapan sultan. Bahkan ia memanggil sultan dengan namanya serta berjabat tangan dengan sultan tanpa mencium tangannya. Bahkan sebaliknya, sultanlah yang mencium tangan Syekh Al-Kaurani.

“Hendaklah kamu semua memuliakan para ulama karena mereka itu adalah pewaris para nabi. Siapa yang memuliakan mereka, berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-Khatib al-Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul).

Oleh karena itu, tidak aneh lahir pemimpin yang besar seperti Muhammad al-Fatih, tetapi tidak sombong dan minta dimuliakan ketika dia telah menjadi sultan. Muhammad al-Fatih senantiasa menjadi seorang muslim dan mukmin yang komitmen memegang syariat Islam. Ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dia selalu membela syariat dan berusaha menerapkannya, untuk dirinya sendiri juga rakyatnya.

Begitu besar peran gurunya dalam membentuk Muhammad II menjadi sosok yang bertakwa hingga layak mendapat gelar Al-Fatih.

“Barang siapa menginginkan kebaikan di dunia ini, hendaklah ia mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menginginkan kebaikan di akhirat, ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah mencari ilmu.” (HR Thabrani). [MNews/Rgl]

Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Share

One thought on “[Tarikh Khulafa] Peran Besar Syekh Al-Kaurani terhadap Muhammad al-Fatih”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *