Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KELUARGA — Tidak semua pasutri langsung dikaruniai keturunan setelah menikah. Terkadang setahun atau dua tahun terlewati tetapi Allah belum mengaruniakan anak kepada keluarga kita, bahkan hingga bertahun-tahun berlalu. Tidak sedikit orang mengira bahwa memiliki anak adalah hal mudah. Seakan setiap pasangan yang telah menikah pasti akan mempunyai anak. Namun faktanya, tidak sedikit pasutri yang harus jatuh-bangun demi memiliki keturunan. Wajar jika kemudian muncul perasaan kecewa dan sedih yang mendalam. Berbagai upaya pun dilakukan, tetapi “sosok malaikat mungil” yang diharapkan belum juga hadir.
Kehadiran Anak Adalah Rezeki dari Allah Taala
Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Pemberi Rezeki, dan Maha Bijaksana. Dia yang berkuasa menganugerahkan anak kepada pasutri yang satu atau sebaliknya, tidak memberikan anak kepada pasangan lainnya. Allah Swt. berfirman,
لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَ ۙ
اَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَّاِنَاثًا ۚوَيَجْعَلُ مَنْ يَّشَاۤءُ عَقِيْمًا ۗاِنَّهٗ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha.Kuasa.” (QS Asy-Syuuraa: 49—50).
Ayat ini memberikan penjelasan dengan sangat jelas bahwa keberadaan atau hadirnya anak di tengah keluarga kita adalah kehendak atau ketetapan Allah Taala. Manusia wajib terus berusaha dan berikhtiar semaksimal kemampuannya. Bagaimanapun, hal ini menjadi rahasia bagi manusia.
Hendaknya kita selalu berbaik sangka terhadap takdir Allah Taala. Yakinlah, segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah pasti mengandung banyak hikmah, meskipun kita tidak menyadarinya. Setiap manusia telah dituliskan tentang nasibnya di Lauhil Mahfuzh. Begitu pula rezekitelah ditetapkan, manusia tidak akan meninggal sebelum jatah rezeki yang Allah tetapkan baginya habis. Oleh karenanya, ketika Allah belum menganugerahkan anak kepada kita, janganlah berkecil hati. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan sehingga tetap bisa meraih pahala, sambil terus berharap Allah memberi anugerah-Nya untuk kita.
Saat Buah Hati Tidak Kunjung Hadir
Tidak sedikit pasutri yang telah bertahun-tahun mengarungi kehidupan rumah tangga, tetapi belum juga dikaruniai momongan. Tentu saja ini bukan akhir segalanya sehingga tidak bisa melakukan aktivitas apa pun. Kita tidak memungkiri bahwa naluri melestarikan keturunan (gharizatun na’u) ingin dipenuhi. Hal ini merupakan fitrah manusia. Akan tetapi, kehidupan harus terus berlangsung dan kita harus mengisinya dengan baik. Lalu, apa yang bisa dilakukan?
1. Selalu bersandar dan berhusnuzan kepada Allah Taala.
Apa pun yang menimpa rumah tangga kita, tentu bukan hal yang ringan dan mudah untuk dihadapi dan dilalui. Butuh kekuatan hati dan tawakal kepada Allah. Terimalah semua ini sebagai ketetapan Allah, serta cobaan dan ujian bagi kita dan keluarga. Walaupun terasa berat, yakinlah bahwa apa pun yang menimpa, dengan izin Allah, kita dan pasangan akan mampu memikulnya. Ini sebagaimana janji Allah Swt.,
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.“ (QS Al-Baqarah: 286).
Hanya Allah tempat bergantung dan bersandar atas segala yang terjadi. Kita harus ikhlas menerima ketentuan-Nya dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah, Ar-Razzaq, Yang Maha Pemberi rezeki. Semua yang Allah takdirkan untuk kita dan keluarga pastilah yang terbaik. Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Dia juga Maha Bijaksana dan Maha Adil.
2. Meyakininya sebagai ujian dari Allah Taala.
Setiap insan tidak akan lepas dari ujian Allah Swt., termasuk pasutri yang belum mendapatkan momongan meskipun telah lama mengarungi bahtera rumah tangga. Sesungguhnya, ujian ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah agar kita makin dekat dengan-Nya. Allah ingin kita makin kuat menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155).
Kebanyakan orang mengira bahwa cobaan hanya datang dalam bentuk kesulitan saja. Sesungguhnya, melimpahnya nikmat juga merupakan ujian yang diberikan Allah. Banyak orang bersabar ketika mendapatkan kesulitan. Namun, sangat sedikit orang yang mampu melampaui ujian berupa kenikmatan dunia. Mereka lalai saat memperoleh kesenangan hidup. Dalam QS Al-Anbiya: 35, Allah Swt. berfirman, “Sungguh, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kami, kamu akan kembali.”
Menghadapi ujian ini, pasutri harus berusaha ikhlas dan sabar agar datang pertolongan Allah Taala. Ini dinyatakan dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 153).
3. Terus berusaha secara maksimal.
Saat seorang mukmin menghadapi kesulitan dalam hidupnya, ia tidak boleh berpangku tangan. Akan tetapi, ia harus tetap berusaha semaksimal yang mampu dilakukannya. Ia harus menempuh berbagai cara yang bisa menghilangkan kesulitannya, selama ikhtiar tersebut dibolehkan syariat.
Pasutri yang belum dikaruniai anak dapat berikhtiar dengan banyak cara, seperti berkonsultasi dengan dokter, para ahli lainnya, atau orang yang berpengalaman dalam masalah ini. Selain itu, bisa mengonsumsi obat-obatan, ramuan herbal, dan beragam makanan yang dipercaya mampu meningkatkan kesuburan. Tidak ada salahnya memperkaya ilmu pengetahuan terkait reproduksi.
Bentuk usaha lainnya adalah dengan memperbanyak tobat dan beristigfar. Allah Swt. berfirman, “Beristigfarlah kepada Rabb-mu. Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun. (Jika kalian beristigfar), niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat atas kalian, juga memberi banyak harta dan anak keturunan.” (QS Nuh: 10–12).
4. Pasutri tidak saling menyalahkan.
Setiap manusia secara fitrahnya memiliki naluri, salah satunya adalah naluri melestarikan keturunan. Oleh karenanya, setiap pasangan yang menikah tentu sangat ingin memiliki keturunan. Itulah sebabnya anak menjadi dambaan setiap keluarga. Anak bagaikan permata dalam kehidupan mereka. Penyejuk mata ketika keletihan menyapa dan menjadi tempat berteduh ketika usia senja mulai tiba.
Wajar jika kemudian setelah sekian lama menikah belum dikarunia anak, pasutri akan risau dan gelisah. Dalam kondisi ini, seringkali istri yang disudutkan oleh banyak pihak sehingga ia akan merasakan beban yang paling berat. Oleh karena itu, suami harus siap siaga berada di pihak istri, membela, dan mendukung. Sudah seharusnya pasutri tetap rukun dan tidak saling menyalahkan. Dengan demikian, meskipun Allah belum mengaruniakan anak, rumah tangga tetap sakinah, mawadah, wa rahmah. Dengan sikap seperti ini, diharapkan pasutri dapat saling menguatkan di tengah badai ujian Allah Taala.
5. Berkegiatan bersama dengan pasangan.
Berkegiatan bersama pasangan dapat mendekatkan hubungan dan menjalin komunikasi. Dengan demikian, keharmonisan pasutri akan meningkat. Akhir pekan bisa menjadi momen menyenangkan bagi pasutri untuk berkegiatan bersama. Ini akan membangkitkan semangat baru dan bisa sejenak mengalihkan pikiran kepada hal-hal yang positif. Jika biasanya istri berkebun atau merawat tanaman sendiri, ketika suami libur bisa diajak berkebun atau merawat tanaman bersama.
Ajak pasangan membersihkan rumah bersama. Kita bisa membereskan tumpukkan surat-surat atau album foto lama. Kita bisa mengingat berbagai hal menyenangkan yang telah dilalui bersama selama ini. Mungkin saat itu kita menemukan foto-foto pernikahan atau kartu-kartu ucapan dari pasangan pada saat-saat istimewa. Bisa juga menghadiri majelis ilmu bersama pasangan. Tidak hanya pemahaman dan wawasan Islam kita makin bertambah. Akan tetapi, pada momen ini pasutri bisa saling menguatkan.
Kita memang harus terus berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya hubungan pasutri yang sehat. Waktu yang berkualitas dan komunikasi yang intens di antara pasutri menjadi syarat utama terwujudnya hubungan yang sehat. Sikap saling menghormati dan menjaga adab pada pasangan tidak boleh ditanggalkan.
6. Selalu berdoa dan bersabar.
Seorang muslim tidak sepantasnya hanya menyandarkan terwujudnya harapannya pada sebab dan usaha. Ini karena penentu segalanya adalah Allah, Sang Pencipta alam raya. Giatlah berdoa dan selalu berserah diri kepada Allah agar Dia memberikan anugerah-Nya berupa anak yang mampu menyejukkan mata dan hati kita. Sebagaimana Nabi Zakaria as. yang saat berusia lanjut belum juga mendapatkan keturunan, tetapi ia giat berdoa,
“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Permohonanku terhadapmu, ya Rabb, belum pernah tidak terkabulkan. Sesungguhnya, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedangkan isteriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi kenabianku dan mewarisi kenabian keluarga Yakub. Jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.” (QS Maryam: 4—6).
Apabila kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh tetapi Allah belum berkenan mengabulkannya, langkah selanjutnya adalah bersabar atas ketetapan Allah. Yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik untuk kita.
Demikianlah, kita harus senantiasa bersandar kepada Allah, ikhlas, berdoa, dan bersabar atas semua kehendak-Nya. Semoga kita mampu bertawakal kepada Allah dan semoga Allah berkenan menganugerahkan kepada kita kesabaran dan rasa syukur. Dengan demikian, kita mampu menjadi orang yang bersyukur ketika kelak dikaruniai anak. Walau akhirnya masih sulit mendapat anak, kita tetap bersabar dan tetap berhusnuzan kepada Al-Khaliq Ar-Razzaq, Yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi rezeki. Yakinlah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Alhamdulillah