[Kabar] UIY: Etika! Itu Basis dalam Berpolitik

[Kabar] UIY: Etika! Itu Basis dalam Berpolitik

Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan bahwa etika itu basis dalam berpolitik.

“Etika itu basis! Artinya, kalau politik diartikan sebagai cara mengatur masyarakat, maka politik akan menghasilkan kebaikan atau sebaliknya itu berawal dari intensi atau tujuan yang dimiliki oleh para politikus,” tuturnya di Focus to the Point: “Buat Apa Bermain Cantik Kalok Kalah”, melalui kanal UIY Official, Jumat (16-2-2024).

Intensi itu, lanjutnya, akan menggerakkan langkah para politikus. “Para politikus yang memiliki intensi buruk, sementara di tangannya ada kekuasaan dan kewenangan, maka kekuasaan dan kewenangannya itu akan digunakan untuk mewujudkan intensi buruk itu,” bebernya.

Artinya, ia menjelaskan, justru kalau bicara tentang perlukah ada etika dalam politik? Etika itulah pangkalnya.

“Jadi kalau ini hari kita melihat begitu keruhnya suasana politik, itu karena memang intensinya sudah intensi jahat, intensi yang tidak baik,” tandasnya.

Ia mencontohkan, intensi kekuasaan itu apakah digunakan untuk memberantas korupsi atau memainkan korupsi untuk kekuasaan?

“Kalau intensinya memberantas maka kita akan melihat langkah-langkahnya menuju kepada pemberantasan, lembaga pemberantas korupi diperkuat, kemudian orang yang korup ditindak, tidak ada perlindungan terhadap mereka yang melakukan korupsi. Tapi, ketika yang terjadi sebaliknya, lembaga anti korupsi diperlemah, kemudian mereka yang jelas-jelas korupsi malah dilindungi, kalaupun ada tindakan itu kepada mereka yang menjadi lawan dari kekuasaan. Maka, jelas intensinya itu bukan pemberantasan korupsi, tapi memainkan korupsi itu sebagai alat politik. Kita melihat, ini hari itu yang terjadi,” ucapnya mencontohkan.

UIY menilai, intensi jahat yang terjadi saat ini sudah sangat keterlaluan sehingga mendorong para guru besar dari berbagai kampus mengkritik politik kekuasaan yang tidak beretika ini.

“Jadi saya kira fenomena ini bukan sekadar tidak adanya etika dalam politik, tapi bahkan mungkin kita boleh mengatakan kejahatan di dalam politik,” simpulnya.

Membahayakan

UIY mengulas, jika pernyataan “apa gunanya bermain cantik kalau kalah” benar benar dianut oleh suatu negara, maka itu tanda bahwa negara sedang menuju arah yang membahayakan.

“Kita mendengar ada adagium di satu kubu yang mengatakan lebih baik menang curang daripada kalah terhormat. Ini betul-betul politik Machiavelli. Kalau tidak ada punishment terhadap gejala-gejala yang sangat buruk ini, maka ini akan menjadi preseden di masa yang akan datang,” khawatirnya.

Kalau yang bermain curang itu menjadi pemenang, kemudian dibiarkan, terangnya, artinya permainan curang itu akan tetap dipertahankan dengan lebih parah lagi karena mereka memiliki kekuasaan.

Aspek Keruhanian

UIY lalu membandingkan dengan politik dalam Islam. “Islam telah memberikan satu basis yang sangat penting di dalam politik. Bukan hanya politik, tapi dalam seluruh aspek kehidupan, yaitu basis yang disebut dengan aspek keruhanian. Aspek keruhanian adalah di dalam kita melakukan berbagai kegiatan, di situ ada kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt.,” jelasnya.

Ini, ucapnya, berbeda dengan politik sekuler yang tidak ada kaitannya dengan spiritual, tidak ada kaitan dengan pahala-dosa, halal-haram. “Maka keluarlah adagium tadi, lebih baik menang curang ketimbang kalah terhormat,” tegasnya.

Dalam politik Islam, ia menegaskan, urusannya bukan sekadar di dunia, tetapi juga di akhirat, ada pahala-dosa, ada halal-haram. “Dengan standar itu orang akan mengatakan kalah tidak apa-apa yang penting berpahala,” imbuhnya.

Terakhir UIY mengingatkan, realitas perpolitikan yang terjadi saat ini memberikan pelajaran penting bahwa politik sekuler, ekonomi sekuler, budaya sekuler itu sangat berbahaya.

“Sekali lagi, ini memberikan pelajaran kepada umat Islam bahwa sesungguhnya kita tidak punya harapan sama sekali terhadap sekularisme. Karena itu, aneh kalau sudah begitu rupa bukti-bukti nyata kerusakan ekonomi sekuler, kapitalisme, politik sekuler, budaya sekuler, hedonistik, segala macam itu, masih juga umat Islam itu tidak juga segera beranjak dari itu semua untuk mengambil Islam sepenuhnya. Itu aneh!” ucapnya heran.

Padahal, lanjutnya, Islam adalah agamanya. Ia mempertanyakan, “Apakah harus menunggu kerusakan lebih besar?”

“Oleh karena itu, bergegaslah kepada jalan Islam sebagaimana Al-Qur’an menyebutkan, bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu. Ini demi kepentingan kita, bukan kepentingan siapa-siapa. Ke sana mestinya kita melangkah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *