Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq
Muslimah News, OPINI — Banyak survei mengungkapkan bahwa Gen Z memilih menjadi pengusaha. Alasan utamanya adalah demi work life balance, yaitu keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan akan cepat tercapai dengan berwirausaha. Sebagai generasi yang lahir pada 1997—2012, mereka sangat mengenal teknologi informasi (internet) serta media sosial. Alat informasi itulah yang menjadi wilayah bisnisnya. Mereka mempunyai obsesi besar untuk hidup yang nyaman, tetapi pekerjaan tidak perlu berat seperti para pesohor di YouTube atau Instagram.
Lebih Suka Wirausaha
Penelitian dari ZenBusiness, platform pelatihan bisnis di Austin, Texas, Amerika Serikat menunjukkan 93% Gen Z memilih untuk berbisnis. Senada dengan ZenBusiness, Herbalife Nutrition juga melaporkan fakta bahwa 72% Gen Z dan milenial di Asia Pasifik memiliki cita-cita sebagai pengusaha atau memiliki bisnis sendiri. Mereka menginginkan punya bisnis sendiri agar mempunyai waktu yang fleksibel, lebih bebas, dan mudah menjadi sukses (Tirto, 2-11-2023).
Gen Z yang terkenal memiliki kualitas, kapasitas, dan etos kerja yang rendah, tidak suka hidup dalam pekerjaan yang menurut mereka sangat keras (ketat). Mereka lebih suka hidup tanpa tekanan. Dengan begitu, kehidupan mereka akan menjadi tenang. Oleh karena itu, wajar saja jika mereka beranggapan lebih enak wirausaha sendiri karena dapat mengatur kehidupan pribadi (Detik, 24-1-2024).
Gagal Paham Istilah Work Life Balance
Istilah work life balance diartikan sebagai keadaan seseorang yang bisa mengatur dan membagi waktu dan energi untuk kehidupan pekerjaan dan pribadi dengan baik. Intinya, dapat mengatur dan membagi waktu dengan seimbang dalam urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi, seperti rekreasi, hobi, keluarga, dan urusan lainnya.
Namun, mayoritas Gen Z menganggap bahwa work life balance itu sebagai hidup tanpa tekanan, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan pribadinya. Pada kenyataannya, mereka tepat waktu dalam bekerja, hari libur, dan batasan kerjanya. Namun, etos kerja atau tanggung jawabnya kurang. Gen Z terkesan tidak sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tanggung jawab kerjanya. Jika dinasihati, mereka berdalih work life balance.
Pengaruh Gaya Hidup Sekularisme
Sejatinya, istilah yang dianggap keren ini lahir karena kondisi saat ini yang serba keras, terutama dalam bidang pekerjaan. Pekerjaan yang sulit didapat dan beban kerja yang besar dengan gaji yang tidak seberapa dipakai untuk membiayai hidup. Apalagi beban hidup makin bertambah, pendidikan berkualitas yang mahal, layanan kesehatan juga mahal, hingga keamanan memberikan tekanan hidup yang luar biasa. Namanya manusia, secara fitrah ingin memiliki hidup yang tenang sehingga ketika beban hidup tambah banyak, mereka akan mencari cara untuk menjadikannya seimbang, yaitu dengan istilah work life balance.
Tuntutan hidup yang keras ini sebenarnya disebabkan oleh anggapan bahwa kebahagiaan itu adalah mencari materi sebanyak-banyaknya. Perusahaan-perusahaan hanya menginginkan laba banyak. Mereka pun memberikan beban kerja yang besar bagi pegawai. Tidak hanya itu, mereka juga memanfaatkan UU pekerja seperti Omnibus Law untuk memudahkan kerjanya. Bagi mereka itu menguntungkan, tetapi bagi pekerja tentu merugikan. Banyak aturan dari UU tersebut yang merugikan pekerja.
Di sisi lain, para Gen Z yang juga sudah terpengaruh dengan gaya hidup enak, inginnya enaknya saja. Mereka ingin dapat uang banyak, ketenaran, dan kenyamanan hidup, tetapi tidak mau kerja keras. Menurut mereka, gaya hidup para selebriti, youtuber dll. itu yang perlu dicontoh. Kerjanya enak, tetapi dapat uang melimpah.
Kondisi semacam ini diperparah dengan sekularisme yang memengaruhi pandangan hidup. Keinginan hidup enak itu dipraktikkan dengan hal-hal yang tidak tepat, bahkan jauh dari agama. Alhasil mereka memilih dapat uang dengan menjadi youtuber, konten kreator, main saham, “main” kripto, atau pinjam modal di bank demi membuka usaha. Semuanya mereka lakukan tanpa memandang boleh atau tidak dalam agama.
Sangat Berbahaya
Apabila pola pikir yang salah dari work life balance ini dibiarkan begitu saja, tentu hasilnya akan membahayakan. Gen Z akan jauh dari agama, mereka akan bekerja apa saja meski itu hal yang dilarang. Kalau sudah begini, pola hidup hedonis, materialistik, hingga serba bebas yang akan menggelayuti mereka. Mereka akan hidup sesukanya yang penting hidup mereka sudah terjamin. Jadinya, mereka akan cenderung minim empati, terkesan egois, hingga tidak peduli dengan yang lain.
Sikap ini akan menjauhkan perhatian mereka dari kesulitan yang dihadapi masyarakat, bahkan kaum muslim di dunia. Ketika Gen Z cenderung hidup dalam dunianya, mereka akan abai dengan masalah kemiskinan, kejahatan, hingga penjajahan di dunia. Sikap seperti tentu tidak bisa dibiarkan.
Gen Z Mesti Memahami Islam
Sejatinya kehidupan yang tenang itu hanya akan dicapai jika Gen Z mau mengambil Islam. Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem kehidupan. Dengan penanaman akidah Islam, Gen Z akan mengerti bahwa hakikat tenang itu bukan karena pekerjaan atau uang yang banyak. Ketenangan seorang muslim itu diperoleh ketika mendapatkan rida-Nya dalam hal apa saja, seperti dalam bekerja, bersosial media, maupun bersosialisasi dengan lingkungan. Semua dilakukan atas dorongan iman.
Pola pikir seperti ini hanya akan tercapai jika Gen Z hidup dalam sistem yang mendukung, yaitu sistem Islam. Penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan akan memudahkan Gen Z memahami makna hidup yang sesungguhnya. Apalagi, negara dalam sistem Islam itu mempunyai peran bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan rakyat. Hasilnya, masyarakat tidak perlu pusing dengan beban hidup yang banyak. Kalau sudah demikian, istilah work life balance tidak perlu dipakai lagi. Wallahualam. [MNews]
