[Kabar] Caleg Minta Bantuan Dukun supaya Menang, Aktivis: Bukti Lemahnya Iman

[Kabar] Caleg Minta Bantuan Dukun supaya Menang, Aktivis: Bukti Lemahnya Iman

Muslimah News, NASIONAL — Aktivis muslimah Halima Noer menegaskan, banyaknya calon legislatif (caleg) yang pergi ke dukun atau guru spiritual supaya menang adalah bukti lemahnya iman dan kuatnya syahwat kekuasaan para calon pemimpin negeri ini.

Hal ini disampaikannya kepada MNews, Sabtu (3-2-2024), menanggapi fenomena yang disebut sebagai mistifikasi politik oleh para caleg yang melakukan berbagai cara untuk menang dengan pergi ke dukun.

“Mayoritas para caleg tersebut adalah muslim, tapi mereka mendatangi para dukun. Sementara itu, jelas bahwa mendatangi dukun adalah aktivitas yang dilarang keras dalam Islam. Termasuk dosa besar karena telah melakukan aktivitas syirik dengan meminta bantuan kepada selain Allah,” ujarnya mengutip surah An-Nisa ayat 48,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.”

Hal ini diperkuat oleh banyak hadis, tambahnya, di antaranya riwayat Muslim,

“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.”

Berkonsekuensi Berat

Jelas sekali, ungkapnya, bahwa mendatangi para dukun adalah aktivitas yang berkonsekuensi berat. “Di hadis disebutkan, ini berkonsekuensi tidak diterimanya ibadah salat seseorang hingga 40 hari. Siapa pun yang paham hadit ini, pasti tidak akan pernah mau pergi ke dukun. Rugi sekali hidupnya, salatnya sia-sia,” ucapnya.

Ia mengaku heran, sudah jelas betapa besarnya dosa syirik tersebut, tetapi caleg-caleg itu tetap saja berbondong-bondong melakukannya. “Ini semua adalah bukti nyata betapa kuatnya syahwat kekuasaan hingga sampai menghalalkan segala cara demi mendapatkan kursi di parlemen,” ujarnya.

Bahkan, ia merasa kasihan karena para pemburu kekuasaan ini sangat berambisi pada kekuasaan, padahal kekuasaan itu sangat berat pertanggungjawabannya.

“Jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah mengingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap ambisi berkuasa ini. Beliau bersabda dalam riwayat Bukhari,

 ‘Sungguh kalian akan berambisi terhadap kekuasaan, sementara kekuasaan itu berpotensi menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat.’.”

Lebih lanjut, terangnya, Rasulullah saw. mengingatkan kaum muslim akan bahaya hubb ar-ri’âsah (cinta kekuasaan-penj.). “Apalagi, jika kekuasaan itu ternyata diraih dengan jalan melanggar syariat. Di antara bahaya tersebut adalah bisa mendatangkan kerusakan pada agama para pelakunya sebagaimana hadis yang diriwayatkan Tirmidzi,

‘Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor domba tidak lebih berbahaya bagi domba itu dibandingkan dengan ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya.’.”

Berkaitan dengan hadis di atas, lanjutnya, Ibnu Rajab antara lain menjelaskan, “Sabda Nabi saw. ini mengisyaratkan bahwa tidak akan selamat agama seseorang jika ia tamak terhadap harta dan kedudukan dunia.”

Ambisi Kekuasaan

Faktanya memang demikian, tegasnya, karena ambisi terhadap jabatan dan kekuasaan, tidak sedikit orang menghalalkan segala cara.

“Di antaranya dengan melakukan kesyirikan, yakni dengan pergi ke dukun atau paranormal ataupun dengan melakukan hal-hal buruk lainnya, seperti manipulasi, curang, menipu rakyat dengan pencitraan yang penuh kepura-puraan, janji-janji palsu, dll.,” imbuhnya.

Kondisi ini, disebut Halima, hanya terjadi dalam sistem politik demokrasi ketika kekuasaan diburu demi kepentingan duniawi.

“Mereka berburu kekuasan agar bisa mendapatkan uang, hidup enak, dan tentu saja terhormat. Ya setidaknya, cara berpikir logisnya, ‘Toh saya sudah keluar biaya yang tidak sedikit untuk bisa jadi caleg, maka wajar kan kalau melakukan segala cara untuk menang—sekalipun itu harus dengan menabrak ketentuan agama—agar semua biaya itu terbayar lunas dan bisa mendapat “untung” dua atau tiga kali lipat atau bahkan berlipat-lipat.’,” ungkapnya.

Hitung-hitungan seperti itu, lanjutnya, hanya ada di benak para penganut demokrasi, tidak seharusnya muslim punya cara berpikir demikian.

Sistem Islam

Namun yang jelas, urainya, semua itu tidak akan terjadi dalam sistem Islam. “Dalam sistem Islam, kekuasaan diberikan bukan kepada orang orang yang berambisi akan harta dan jabatan, melainkan akan diberikan kepada orang yang paling layak mengemban beban berat mengurus seluruh urusan umat dengan hukum atau aturan Allah,” jabarnya.

Ia mengingatkan, ini karena kekuasaan adalah amanah, yakni amanah untuk menerapkan hukum Allah. “Siapa pun yang berkuasa, tetapi tidak menerapkan hukum Allah, maka Allah menyebut mereka sebagai orang yang zalim dan fasik seperti disebutkan dalam Al-Maidah ayat 45 dan 47,” urainya.

Oleh karena itu, tuturnya, siapa pun yang diberi amanah kekuasaan tersebut, hakikatnya ia telah memikul beban dan tanggung jawab yang sangat berat yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt..

“Yakni beban melaksanakan dua kewajiban sekaligus. Kewajiban untuk terikat dengan syariat Islam secara kafah serta kewajiban mengurus rakyatnya dengan syariat Islam secara kafah. Maka, tidak mungkin ia melanggar syariat Islam untuk meraih kekuasaan,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *