Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Buya Hamka pernah menulis khusus tentang keunikan Pulau Garam, sebutan lain untuk Pulau Madura, pascakunjungan keduanya pada tahun 1959. Beliau menyebut pulau ini sebagai pulau yang mempunyai “pribadi” sendiri yang tidak dapat dipisahkan dari Islam. Tradisi-tradisinya tidak tercampur oleh pengaruh Barat, padahal di daerah lain sudah banyak yang luntur.
Beliau juga mengutip kata-kata kawannya saat itu bahwa Pulau Madura adalah satu-satunya pulau di Indonesia yang agamanya tidak bercampur. Terbukti, jika Pulau Sumatra masih mempunyai daerah Kristen, yaitu di Batak; Pulau Sulawesi punya daerah Kristen, yaitu di Minahasa dan Toraja; bahkan Pulau Kalimantan bagian pedalaman (Dayak) telah menjadi Kristen, tetapi Pulau Madura 100% Islam!
Beliau juga menggambarkan, penduduk Madura kala itu kukuh memegang tradisi yang sejalan dengan Islam. Mereka tak sungkan menegur, bahkan melempar seseorang hanya gegara ia tidak berkopiah saat datang ke masjid. Di samping itu, nyaris semua keluarga di sana rata-rata memiliki langgar, sekalipun rumahnya berada dekat masjid. Selain sebagai tempat salat keluarga, langgar ini juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan penginapan saat ada keluarga jauh datang berkunjung.
Persentuhan dengan Islam
Hingga saat ini, Pulau Madura memang nyaris identik dengan Islam, sekalipun penduduknya tidak lagi 100% muslim. Ini menunjukkan bahwa islamisasi di Pulau Madura terbilang sukses.
Sebelum Islam datang, Madura dalam kurun waktu yang lama berada di bawah kekuasaan tiga kerajaan besar di Jawa yang bercorak Hindu-Buddha, yakni Kerajaan Kediri yang dikenal dengan sebutan Kerajaan Daha atau Panjalu (1042—1222), Kerajaan Singosari atau Tumapel (1222—1292), dan Majapahit (1293—1527).
Pada era Majapahit inilah dakwah Islam mulai berkembang pesat di Pulau Jawa. Terutama ketika misi dakwah di Nusantara berjalan masif atas inisiatif kekuasaan politik Islam Khilafah Utsmaniyah, termasuk melalui program pengiriman para dai, khususnya wali sanga ke Pulau Jawa.
Sejalan dengan masifnya dakwah wali sanga di Jawa, Pulau Madura pun mendapatkan imbasnya. Sampai-sampai Buya Hamka pun berkata, usia Islam di Madura sudah setua masuknya Islam ke Jawa! Kala itu penduduk Madura bukan hanya menerima Islam, tetapi mereka turut serta menjadi penjaga dan terlibat dalam penyebarannya.
Posisi politik Madura saat itu adalah vasal dari Kerajaan Majapahit. Raja Majapahit sempat mengangkat Ario Lembu Peteng (cucu Brawijaya V) sebagai wakil pemerintahannya di Madura yang berpusat di Madegan, Sampang. Ketika terjadi kisruh di Majapahit, termasuk antara Majapahit dan kekuatan-kekuatan Islam yang benih kekuasaannya berpusat di pesisir utara Jawa, Lembu Peteng memihak penganut Islam. Lalu ketika kerajaan Majapahit runtuh, ia pun mendirikan pusat kekuasaannya di Pamekasan.
Meski demikian, ia tak serta merta masuk ke dalam agama Islam. Kalangan bangsawan yang diketahui pertama masuk Islam adalah Empu Bageno, patih kerajaan di Madura Barat pada masa kepemimpinan Raja Ki Pragalba alias Pangeran Plakaran alias Ki Gede Sampang (memerintah tahun 1500—1530).
Konon Ki Pragalba diminta anaknya, yakni Pangeran Pratanu alias Lemahduwur yang bercerita bahwa ia bermimpi masuk Islam, agar mengirimkan utusan demi mempelajari ajaran tersebut kepada Sunan Kudus di Pulau Jawa. Dipilihlah Empu Bageno untuk menghadap Sunan Kudus dan mempelajari ajaran Islam hingga akhirnya ia menjadi muslim. Saat sang patih kembali ke Sampang, masuk pulalah Pangeran Pratanu ke dalam agama Islam.
Para sejarawan menyebut, masa pemerintahan Ki Pragalba ini adalah masa transisi saat agama Islam mulai dipeluk oleh penduduk Madura. Tomé Pires mencatat, sekitar kurun 1512—1515 penduduk Madura belum memeluk Islam. Namun, setelah runtuhnya Majapahit di Jawa tahun 1527, mulai banyak kaum elite yang mulai memeluk ajaran Islam.
Ki Pragalba sendiri diketahui baru menerima Islam pada akhir hayatnya. Cerita rakyat Madura menyebutkan, saat ajal akan menjemputnya, ia bersedia menerima agama Islam dengan menganggukkan kepalanya. Itulah kenapa rakyat Madura menyebut Ki Pragalba dengan julukan Pangeran Ongguq (bahasa Madura: ongguq = mengangguk).
Darah Pejuang
Pengaruh Islam dalam kekuasaan politik Madura makin kuat ketika anak Ki Pragalba yang lain, bernama Pangeran Langgar yang menjabat sebagai Adipati Sampang Madura, menikah dengan Ratu Mas, salah seorang putri dari Sultan Trenggono. Sultan Trenggono ini adalah menantu Sunan Kalijaga sekaligus sultan ketiga dari Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1505—1513 dan 1521—1546. Di kalangan masyarakat Madura, Pangeran Langgar dikenal sebagai adipati yang sangat saleh, beliau wafat dalam keadaan sujud ketika sedang mengimami salat berjemaah.
Pernikahan Pangeran Langgar dengan putri Sultan Trenggono ini diketahui merupakan salah satu strategi sultan untuk meningkatkan kekuatan politik Islam Demak pascakeruntuhan Majapahit. Di pihak lain, wilayah Nusantara kala itu sedang intens menghadapi upaya aneksasi Portugis yang sudah berhasil menaklukkan Malaka dan Sunda Kelapa.
Sejak berdirinya, Kesultanan Demak sudah berkali-kali berupaya mengusir Portugis dari Malaka dan Sunda Kelapa. Namun, upaya tersebut selalu gagal. Bahkan Pati Unus alias Pangeran Sabrang Lor alias Raden Abdul Qadir, Sultan Demak kedua anak Raden Patah yang memerintah dari tahun 1518—1521 menemui syahid ketika memimpin penyerangan atas Malaka.
Upaya ini kemudian dilanjutkan oleh Sultan Trenggono. Ia pun memobilisasi semua kekuatan, termasuk sumber daya yang ada di Kadipaten Sampang, Madura. Buya Hamka dalam tulisannya menyebut, karakter muslim Madura tak beda dengan masyarakat Bugis yang tangguh di lautan. Dengan karakternya tersebut, mereka turut serta melawan penjajah Portugis melalui ekspedisi merebut Malaka. Pada masa Sultan Trenggono inilah pasukan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah (Sunan Gunung Jati), bersama vasalnya, yakni Kesultanan Cirebon dan Banten, berhasil mengusir Portugis dari pusat kekuasaannya di Sunda Kelapa (Jayakarta/Batavia/Jakarta).
Pada masa selanjutnya, setelah keruntuhan Kesultanan Demak sekira tahun 1556, wilayah Madura jatuh ke tangan penguasa Mataram. Kesultanan Mataram ini awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Pajang, tetapi kemudian berhasil memisahkan diri. Sementara itu, Kesultanan Pajang awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Demak, tetapi kemudian Raja Pajang pun melakukan pemberontakan kepada Kesultanan Demak hingga Demak akhirnya runtuh.
Kesultanan Mataram di bawah kepemimpinan sultannya yang kedua, yakni Panembahan Senapati, berhasil meraih kejayaannya hingga wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan bagian kekuasaan Demak satu demi satu berhasil dikuasai. Hanya saja penguasaan Pulau Madura sendiri baru tercapai ketika kesultanan Mataram ada di tangan Sultan Agung.
Sejarah mencatat, politik ekspansif Sultan Agung untuk menguasai Madura ini diperkirakan terjadi pada 1624, di tengah-tengah invasi serangan Mataram ke Surabaya. Ketika misi ini berhasil, Sultan Agung akhirnya mengangkat Raden Prasena, buhul dinasti Cakraningrat dari Kadipaten Arosbaya Madura sebagai adipatinya.
Pengukuhan itu terjadi pada 23 Desember 1624. Raden Prasena resmi dinobatkan sebagai penguasa Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat I. Untuk diketahui, Raden Prasena ini adalah cucu Pangeran Pratanu atau Lemahduwur sekaligus cicit dari Ki Prabalga, salah satu raja Madura yang berjasa membuka pintu Islam di Madura.
Sayangnya, Kesultanan Mataram ini dikenal sangat terbuka terhadap intervensi penjajah Belanda. Terlebih ketika Sultan Agung mangkat dan kepemimpinan Mataram dipegang oleh Amangkurat I. Ia dikenal sangat loyal dan rela menjadi tameng pelindung bagi kepentingan Belanda yang menerapkan berbagai kebijakan zalim atas rakyat Nusantara, termasuk Jawa dan Madura.
Keturunan Pangeran Prasena dari Madura itulah yang kelak akan tampil sebagai pemimpin perjuangan melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Di antaranya adalah Raden Trunojoyo, anak Raden Demang Molojo dari istri yang masih keturunan Joko Tole. Raden Demang Molojo ini adalah salah satu putra Pangeran Prasena sehingga Pangeran Trunojoyo memiliki trah Madura dari Pangeran Prasena dan ke atasnya, yakni Ki Prabalga.
Kegigihan Pangeran Trunojoyo dalam melawan kezaliman dan penjajahan tercatat oleh tinta emas sejarah. Meskipun berakhir dengan kegagalan, pemberontakan Trunojoyo yang berlangsung mulai 1674 dan berakhir pada 1680 dikenang sejarah sebagai salah satu perlawanan terbesar orang pribumi terhadap bangsa Eropa.
Untuk selanjutnya dinasti Cakraningrat inilah yang dikenal konsisten melawan penjajahan. Bahkan salah satu keturunan Raden Prasena berikutnya menjadi legenda tanah air. Ia adalah Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa yang fenomenal pada tahun 1825-1830.
Mengembalikan Spirit Perjuangan
Hingga saat ini, kaum muslim Madura dikenal dengan ketegasannya. Namun, sayangnya yang muncul ke permukaan justru adalah kesan keras dan tidak mau kalahnya. Terlebih jika sudah menyangkut harga diri dan keluarganya, tradisi carok menjadi cara mengekspresikan pembelaan terhadap kehormatan orang Madura.
Sayangnya, potensi ini malah terkesan menakutkan, padahal jika potensi ini disandingkan dengan ruh Islam, kondisi umat yang hari ini meredup dan terjajah akan kembali memancar dan mulia. Bukankah sejarah kehidupan mereka begitu sarat dengan perjuangan?
Sungguh umat Islam saat ini sangat butuh orang-orang yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam. Dengan demikian, kaum muslim di Pulau Garam sejatinya layak diharapkan berdiri di barisan paling depan. [MNews/Rgl]
*) Dinarasi ulang dari berbagai sumber tulisan.
