[Tarikh Khulafa] Sultan Bayazid I dan Pengepungan Konstantinopel

[Tarikh Khulafa] Sultan Bayazid I dan Pengepungan Konstantinopel

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Konstantinopel adalah ibu kota Kekaisaran Romawi, kemudian Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Kaisar Konstantin Agung memindahkan ibu kota Kekaisaran Romawi dari kota Roma ke tempat ini pada tahun 330 M dan menamainya menurut namanya.

Jihad sebagai bagian dari politik luar negeri Daulah Islam sudah menargetkan Kota kontantinopel untuk ditaklukkan, karena terdapat hadis Nabi Muhammad saw. yang menyebutkan tentang penaklukannya. Hadis ini memberi semangat bagi setiap pemimpin Daulah Islam, tidak terkecuali Sultan Bayazid I sebagai kepala negara Daulah Utsmaniyah untuk merancang strategi penaklukan Konstantinopel sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah saw..

Hadis Penaklukan Konstantinopel

Di antara hadis sahih yang berhubungan dengan jihad Konstantinopel adalah hadis dari Abu Qobil, ia berkata, “Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang mana kota yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Beliau meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab, lalu berkata, ’Berkata Abdullah bin Mas’ud, ’Tatkala kami bersama Rasulullah saw. untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’ Beliau menjawab: Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius.’ Yaitu Konstantinopel.’” (HR Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Hakim).

Mulai Menekan Byzantium

Sebelum Perang Nicopolis, Sultan Bayazid I mampu menekan Kekaisaran Byzantium dan menuntut Kaisar Manuel II untuk menetapkan seorang hakim di Konstantinopel yang bertugas merumuskan perkara yang terjadi di antara kaum muslim.

Sultan Bayazid I terus mengepung ibu kota Byzantium hingga akhirnya kaisar menerima pembentukan peradilan Islam, pembangunan masjid, serta pembangunan tujuh ratus rumah khusus untuk kaum muslim di dalam kota. Kaisar Manuel II juga menyerahkan separuh wilayah Galata yang menjadi tameng Utsmani, karena di dalamnya terdapat enam ribu tentara Utsmani. Upeti yang diserahkan Byzantium juga dinaikkan. Kas negara Utsmani mewajibkan untuk menyetorkan kurma dan sayur-sayuran yang berada di luar kota. Selain itu, azan juga dikumandangkan di menara-menara ibu kota Byzantium.

Balkan Makin Lemah

Setelah pasukan Utsmani meraih kemenangan yang gemilang pada pertempuran Nicopolis, Daulah Utsmaniyah mampu mengukuhkan “kakinya” di Balkan. Rasa takut dan khawatir merebak pada rakyat Balkan.

Pascakemenangan di pertempuran Nicopolis, ribuan kaum muslim yang ingin mengabdikan dirinya kepada Daulah Utsmaniyah banyak yang berhijrah ke Anatolia. Hijrah itu dipenuhi oleh tentara dan orang-orang yang ingin memberikan sumbangsih dalam bidang ekonomi, keilmuan, dan pemerintahan. Mereka pindah dan bertempat tinggal di Iran, Irak, dan kawasan Tansoxiana. Di samping juga ada kelompok-kelompok yang melarikan diri karena serangan Timur Lenk terhadap Asia Tengah.

Di sisi lain, Kerajaan Bosnia dan Bulgaria tunduk di bawah pemerintahan Utsmaniyah. Sementara itu, pasukan Utsmani terus mengejar sisa-sisa pasukan Nasrani yang lari akibat kekalahan mereka di medan perang.

Sultan Bayazid menjatuhkan sanksi kepada para penguasa Kepulauan Peloponnese yang telah dengan sengaja memberikan bantuan militer kepada aliansi Salibis. Adapun sanksi kepada Kaisar Byzantium atas sikapnya yang menyatakan permusuhan, maka Sultan Bayazid memintanya untuk menyerahkan Kota Konstantinopel. Setelah itu Kaisar Manuel II meminta bantuan kepada beberapa pemerintahan di Eropa, tetapi tidak ada respons positif yang dia terima.

Strategi Pengepungan Sebelum Penaklukan

Sebenarnya menguasai ibu kota Byzantium, Konstantinopel adalah tujuan utama dari perencanaan jihad yang dilakukan Sultan Bayazid I. Oleh karena itu, dia bergerak sendiri memimpin pasukan Utsmaniyah serta melakukan pengepungan terhadap ibu kota Byzantium tersebut dengan sangat ketat. Pengepungan ini berlangsung dengan sangat rapi hingga membuat kota itu hampir menemui keruntuhannya. Sultan Bayazid I meyakini akan hadis Nabi Muhammad saw. tersebut dan sangat berharap dia dan pasukannya yang akan merealisasikan penaklukan Kota Konstantinopel.

Tatkala Eropa menunggu hari-hari kejatuhan ibu kota Byzantium yang sangat kokoh, tiba-tiba Sultan Bayazid I memalingkan perhatiannya dari penaklukan Kota Konstantinopel. Hal ini disebabkan oleh munculnya bahaya baru yang mengancam Daulah Utsmaniyyah, yaitu serangan dari Timur Lenk. [MNews/Rgl]

Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Share

One thought on “[Tarikh Khulafa] Sultan Bayazid I dan Pengepungan Konstantinopel”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *