Muslimah News, NASIONAL — Pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menilai, bangunan keluarga dan kekerabatan telah rusak, bahkan hancur, dengan terjadinya kasus kekerasan keji terhadap anak oleh anggota keluarga inti dan kerabat dekat.
“Makin miris karena kejahatan yang dilakukan merupakan kejahatan luar biasa, berupa kekerasan seksual dan mutilasi,” ungkapnya kepada MNews, Rabu (24-1-2024).
Fenomena Buruk
Menurutnya, peristiwa memilukan ini telah menjadi fenomena buruk hari ini. “Ini karena jika kita detili, sebelumnya kasus serupa telah terjadi di berbagai pelosok negeri ini dalam beragam bentuk kejahatan yang memprihatinkan,” ujarnya prihatin.
Ia menuturkan, sejatinya keluarga merupakan bangunan mulia yang menjadi tempat berlindung individu-individu yang memiliki pertalian darah dekat maupun jauh.
“Pertalian darah inilah yang kemudian melahirkan berbagai konsekuensi hukum dalam pandangan Islam, misalnya hubungan mahram, perwalian, perlindungan, juga pengasuhan, imbuhnya.
Semuanya, jelasnya, meniscayakan adanya tanggung jawab terhadap anggota keluarga atau kerabat.
“Merekalah pihak utama yang seharusnya menjadi prioritas utama. Bahkan Rasulullah saw. menegaskan orang terbaik adalah orang yang paling baik mengurus keluarganya. Rasulullah juga menyifati keluarga ideal ibarat surga, ‘baiti jannati’,” urainya.
Sayangnya, ia menerangkan, kejahatan yang terjadi hari ini telah mengoyak bangunan keluarga yang mulia.
“Betapa tidak, dorongan syahwat telah membuat lupa adanya hubungan mahram—yang mengharamkan adanya pernikahan, bahkan mewajibkannya sebagai pelindung—, tetapi justru membuat seorang ayah tega menghancurkan masa depan anak kandungnya sendiri. Kemudian hanya demi perhiasan yang tidak seberapa, seorang tante tega memutilasi keponakannya,” ucapnya.
Ia memandang, ini hal yang amat memprihatinkan. “Sungguh miris, nikmat dunia yang hanya sedikit, mampu merobohkan kemuliaan keluarga yang Allah perintahkan untuk menjaganya,” cetusnya.
Semua ini, sambungnya, bisa terjadi karena hidup hanya berorientasi duniawi semata, terpenuhinya kebutuhan fisik menjadi sesuatu yang harus dipenuhi apa pun caranya. “Halal dan haram tidak lagi menjadi pedoman. Terpuji dan tercela tidak lagi menjadi nilai yang harus dijaga, maka tidak heran keluarga pun tidak lagi menjadi kemuliaan yang harus dijaga,” tuturnya.
Pandangan inilah, jelasnya, yang disebut sekularisme kapitalisme, cara pandang yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan dan menjadikan materi sebagai tujuan yang harus diwujudkan.
“Inilah pangkal rusaknya bangunan keluarga, yang sekaligus juga merusak bangunan masyarakat. Hawa nafsu individu menjadi penguasa dan pemutus segala perbuatan manusia, maka tidak heran perilaku manusia hari ini ibarat binatang, bahkan lebih sesat lagi,” sesalnya.
Naungan Islam
Namun, ia menekankan, kerusakan hidup ini tidak mungkin terjadi apabila umat manusia hidup di bawah naungan Islam.
“Islam memiliki seperangkat aturan yang menjaga kemuliaan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan Allah. Penerapan Islam secara kafah oleh negara akan mewujudkan individu-individu yang bertakwa, masyarakat yang saling melakukan amar makruf nahi munkar, dan negara yang menerapkan Islam akan mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang penuh keimanan dan ketaatan pada Allah,” paparnya.
Baiti jannati, lanjutnya, akan terwujud nyata. “Sistem sanksi yang tegas dan membuat jera juga akan menjaga kehidupan umat dalam ketenteraman dan ketenangan. Semua ini akan terwujud nyata dalam bangunan Khilafah Islamiah karena hanya dengan Khilafahlah aturan Islam akan dapat diterapkan secara kafah,” ungkapnya. [MNews/Ruh]
