Peran Shahabiyah dalam Proses Tegaknya Islam

Peran Shahabiyah dalam Proses Tegaknya Islam

Penulis: Arini Retnaningsih

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Sejarah Islam telah menorehkan masa-masa emas dari kejayaannya yang berlangsung hingga ratusan tahun. Selama masa itu, Islam melahirkan peradaban besar yang mampu mengubah dunia. Dari gelap menjadi terang. Dari kejumudan berpikir menjadi abad penemuan ilmu dan teknologi. Dari kejahiliahan menjadi kemajuan. Semua itu diawali oleh langkah seorang laki-laki yang memperoleh kemuliaan wahyu, Nabi Muhammad ﷺ

Beliau ﷺ menegakkan Islam sebagai sebuah sistem kehidupan setelah perjuangan panjang selama 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. Dalam perjuangan panjang tersebut, beliau disertai sahabat-sahabat yang mendukung beliau, bersama menapaki jalan beronak duri dengan penuh keikhlasan sampai rela menyerahkan diri dan jiwa mereka di jalan Allah. Di antara mereka, ada juga perempuan-perempuan tangguh, para shahabiyah, yang memberikan teladan bagi kita dengan perjuangan mereka.

Para shahabiyah memahami bahwa agama yang baru lahir ini membutuhkan tangan-tangan yang akan membesarkannya. Mereka, sebagaimana para sahabat, juga memiliki kewajiban yang sama seperti yang Allah perintahkan.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah: 71).

Merupakan fakta yang tidak bisa dimungkiri bahwa shahabiyah memiliki peran yang tidak kecil dalam menegakkan Islam. Memahami aktivitas dan peran mereka akan memberikan gambaran bagi muslimah saat ini tentang bentuk perjuangan yang harus dilakukan dalam upaya menegakkan kembali sistem Islam.

Peran Sempurna Bunda Khadijah

Khadijah adalah istri dan ibu terbaik, mendukung dan menguatkan dakwah Rasulullah ﷺ. Khadijah rela menyerahkan seluruh yang dimilikinya kepada Allah dan Rasul-Nya. Khadijah tidak ragu mendukung Rasulullah ﷺ, menyiapkan bekal beliau ﷺ selama tahanut ke Gua Hira. Khadijah tidak pernah bertanya mengapa Rasulullah ﷺ melakukannya, tidak mengeluh ketika Rasulullah ﷺ tidak sempat mencarikan nafkah untuknya. Bahkan, seluruh harta kekayaan yang dikumpulkannya bertahun-tahun sebagai saudagar, Khadijah serahkan sampai habis untuk mendukung dakwah Rasulullah ﷺ.

Khadijah percaya sepenuhnya pada Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Gua Hira dalam keadaan ketakutan, Khadijah menyelimuti dan menenangkan dan membesarkan hatinya. Khadijah berkata, “Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakan engkau selama-lamanya. Sungguh engkau selalu menyambung hubungan keluarga. Engkau biasa memikul beban orang lain. Engkau biasa membantu orang yang memerlukan. Engkau biasa menjamu tamu. Engkau pun biasa membantu pelaku kebaikan.” (HR Bukhari).

Ketika Rasulullah ﷺ mulai merasakan penderitaan dalam dakwah, Khadijah tidak mundur selangkah pun dari sisi Rasulullah ﷺ Bahkan, ketika Rasulullah ﷺ mengalami beratnya pemboikotan oleh kaum Quraisy, Khadijah tetap setia mendampingi sampai akhir, sampai raganya tidak bisa lagi bertahan.

Beliaulah cermin istri pengemban dakwah yang memberikan dukungan penuh pada suami sehingga suami mampu beraktivitas maksimal dalam dakwah menegakkan Islam. Mereka ini, terkadang jasanya tidak tampak oleh pandangan manusia, tetapi semerbak wangi di sisi Allah Taala.

Keteguhan Mempertahankan Iman

Awal Islam berkembang di Makkah, para pemeluknya menghadapi berbagai ujian berat, tidak terkecuali para shahabiyah. Namun, mereka tetap teguh menjaga Islam. Sejarah juga mencatat Sumayyah, istri Yasir, sebagai syahidah pertama dalam Islam. Berbagai siksaan kaum kafir tidak mampu melunturkan iman dari hatinya walau seujung kuku pun. Pengorbanannya menjadi sumber inspirasi bagi muslimah lain untuk senantiasa isitkamah dalam perjuangan.

Saat itu, memeluk Islam dianggap sebagai kedurhakaan atas ajaran nenek moyang kaum Quraisy. Untuk menghindarkan jatuhnya korban lebih banyak lagi di kalangan kaum muslim, Rasulullah ﷺ menganjurkan mereka berhijrah ke Habasyah.

Berangkatlah sebagian kaum muslim ke Habsyah, meninggalkan rumah dan keluarga yang mereka cintai untuk mempertahankan iman. Di antara mereka terdapat juga para shahabiyah yang mengikuti suaminya, seperti Asma binti Umais, Sahlah binti Suhail, Ummu Salamah, Laila binti Abu Hatsamah, dan Ummu Habibah.

Keberangkatan ke Habasyah ini merupakan upaya Rasulullah ﷺ untuk menjaga agar tunas-tunas Islam tidak gugur sebelum waktunya; agar kelak tunas-tunas itu bisa berkembang sempurna menyebarkan Islam ke seluruh dunia.

Ketika kemudian turun perintah untuk berhijrah ke Yatsrib, para shahabiyah juga tidak ketinggalan. Mereka menempuh perjalanan jauh, meninggalkan negeri berikut keluarga dan harta benda. Para shahabiyah juga pantang menyerah. Asma’ binti Abu Bakar bahkan sedang hamil saat itu.

Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Muaith dengan kebulatan tekadnya untuk melindungi iman, menempuh perjalanan hijrahnya sendirian. Ia yakin dengan pertolongan Allah, sekalipun terancam dikembalikan ke Makkah karena ia berhijrah setelah Perjanjian Hudaibiyah. Buah keyakinannya, Allah menurunkan ayat QS Al-Mumtahanah: 10, “Hai, orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka…”

Hijrah adalah bentuk ketaatan kaum muslim terhadap metode dakwah Rasulullah ﷺ. Ketika kaum muslim saat itu menepatinya, membuktikan imannya, Allah pun menurunkan pertolongan dan kemenangan.

Peran Menegakkan Daulah Islam di Madinah

Awal tegaknya sistem Islam di Madinah dimulai dengan disambutnya dakwah Islam oleh kabilah haji yang datang dari Yatsrib. Pada 621, terjadilah Baiat Aqabah I oleh 12 orang penduduk Yatsrib. Disusul Baiat Aqabah II pada 622. Baiat Aqabah II inilah yang menjadi tonggak berdirinya Negara Islam di Yatsrib, atau disebut Madinah setelahnya.

Pada Baiat Aqabah II, hadir dua shahabiyah beserta 73 laki-laki, yaitu Nusaibah binti Ka’ab (Ummu Imarah) dan Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy (Ummu Mani’). Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan memegang tampuk kekuasaan, kaum perempuan saat itu tidak ketinggalan ikut membaiat beliau, yaitu baiat taat kepada kepemimpinan Rasulullah ﷺ.

Tidak hanya itu, para shahabiyah juga ikut mempertahankan negara Islam yang terbentuk dan aktif berjihad untuk menyebarkan Islam. Mereka ikut serta dalam berbagai peperangan. Bahkan dalam Perang Uhud, Umar ra. menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berkata, “Aku tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, kecuali aku melihat Ummu Imarah berperang untuk melindungiku.”

Dalam Perang Khaibar, 15 shahabiyah ikut serta, baik sebagai perawat, pengurus logistik, bahkan mereka juga terjun langsung dalam pertempuran. Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, jihad untuk memperluas dakwah Islam terus berlangsung dan para shahabiyah juga mengambil bagian, sebagaimana Ummu Haram binti Milhan yang syahid dalam ekspedisi laut yang dikirimkan Khalifah Utsman bin Affan ke Qibris (Siprus).

Untuk menjaga Daulah tetap berada dalam koridor syariat, para shahabiyah juga turut melakukan muhasabah lil hukkam, koreksi terhadap penguasa. Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menerima kritik seorang perempuan tentang mahar. Aisyah juga mengkritik Ali bin Abi Thalib dalam persoalan pembunuhan Utsman bin Affan. Semua peran ini memperlihatkan bahwa perempuan juga memiliki hak dan kewajiban untuk terlibat dalam perkara-perkara politik dan pemerintahan.

Membina Tsaqafah Diri dan Umat

Para shahabiyah sangat aktif dalam proses pembinaan diri dan berdakwah kepada umat. Ketika awal Islam, mereka belajar Al-Qur’an dari suami atau sahabat yang telah lebih dahulu belajar dari Rasulullah ﷺ. Selanjutnya, mereka mengikuti langsung pembinaan dari Rasulullah ﷺ, bahkan akhirnya mereka meminta waktu khusus dari Rasulullah ﷺ untuk belajar Islam agar lebih paham dan leluasa bertanya.

Kita bisa melihat, banyak di antara para shahabiyah yang menjadi perawi hadis Rasulullah ﷺ dan aktif menyampaikannya, baik kepada kaum perempuan khususnya maupun kepada kaum muslim secara umum. Aisyah ra. adalah yang terbaik dan terbanyak dalam meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ, disusul beberapa ummul mukminin lainnya, seperti Hafsah, Ummu Salamah, dan sebagainya, serta para shahabiyah lainnya.

Mengambil Ibrah dari Peran Shahabiyah

Muslimah yang beriman selayaknya menyadari bahwa tidak mungkin masyarakat Islam tegak bangkit kembali jika mereka tidak memahami, mengamalkan, sekaligus turut mendakwahkan Islam ke masyarakat.

Untuk dapat bangkit, umat Islam harus menjadikan akidah Islam sebagai asas bagi kehidupannya; menegakkan pemerintahan dan kekuasaan berdasarkan fondasi tersebut sehingga terwujud kebangkitan hakiki. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan pembinaan di tengah umat dengan tsaqafah politik ideologis. Kewajiban ini harus diemban kaum muslim seluruhnya, termasuk para muslimah.

Perjuangan para shahabiyah selayaknya menjadi inspirasi bagi kita, muslimah masa kini, untuk turut terlibat dalam perjuangan menegakkan kembali Islam, melangsungkan kembali kehidupan yang berdasarkan aturan-aturan Allah Taala. Perjuangan ini berlangsung mulai dari rumah sebagai istri dan ibu yang mencetak generasi pengemban dakwah, meluas ke masyarakat dengan membina tsaqafah dan kesadaran politik para perempuan, serta menyebarkan opini umum di tengah umat.

Begitu juga, mereka harus terus aktif dalam beramar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dan melakukan aktivitas politik lainnya dalam rangka menegakkan kembali sistem Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. [MNews/Gz]

#KapitalismeSengsarakanUmat #KhilafahPerisaiHakiki #IslamSolusi #Khilafah

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *