Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sultan Orhan bin Utsman adalah seorang kepala negara yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam membangkitkan bangsa dan membangun negaranya. Ia juga banyak mengambil pelajaran dari bapaknya, Sultan Utsman I dalam menstabilkan kondisi dalam negeri sehingga menunjang keberhasilan berbagai penaklukan wilayah-wilayah di luar Daulah Utsmaniyyah.
Dalam Negeri Harus Kuat
Di dalam negeri, Sultan Orhan bin Utsman berusaha menguatkan pilar-pilar pemerintahannya. Untuk itu, ia membangun proyek-proyek perbaikan dan pembangunan berbagai infrastruktur sehingga rakyat seluruhnya merasakan kemaslahatannya. Sultan Orhan membangun gedung-gedung, menertibkan administrasi, menguatkan militer negara, membangun masjid-masjid dan berbagai akademi.
Akademi-akademi ini di bawah bimbingan para ulama dan guru-guru pilihan. Para ulama mendapatkan penghormatan yang besar dari pemerintah. Di setiap desa berdiri sekolah-sekolah, sedangkan di setiap kota terdapat universitas-universitas yang mengajarkan ilmu nahu, tata bahasa, logika, metafisika, balagah, arsitektur, astronomi, dan tentu saja hafalan Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, juga Sunnah, fikih dan akidah.
Sultan Orhan memandang memajukan pendidikan dengan penyediaan sarana, prasarana , tenaga pendidik yang berkualitas, serta pembelajaran ilmu-ilmu agama dan pengetahuan umum ini, akan menguatkan kondisi negara di dalam negeri. Untuk kemudian, mendukung rencana terbaik dalam penyebarluasan Islam keluar negeri.
Menguasai Asia Kecil
Semua peperangan yang terjadi pada masa Sultan Orhan tertuju kepada Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Akan tetapi, ada peristiwa yang terjadi pada 736 H, yaitu meninggalnya penguasa Qarahsi. Qarahsi adalah sebuah pemerintahan yang berdiri di atas puing-puing Kerajaan Saljuk Romawi.
Melihat kondisi pemerintahan Qarahsi yang tidak stabil, Sultan Orhan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mencampuri perselisihan itu dan akhirnya mampu menguasainya. Di antara tujuan yang ingin dicapai Daulah Utsmaniyyah yang baru tumbuh ini adalah menguasai Kerajaan Saljuk-Romawi di Asia Kecil dan wilayah-wilayah yang pernah dikuasainya. Konflik itu terus terjadi antara Daulah Utsmaniyyah dengan kerajaan-kerajaan kecil pecahan Kerajaan Saljuk-Romawi, sampai pada masa Sultan Al-Fatih yang mampu menundukkan seluruh Asia kecil di bawah Daulah Utsmaniyyah.
Demikianlah kebijakan yang diambil Sultan Orhan ketika menguasai kerajaan Qarahsi, selama dua puluh tahun tanpa melakukan peperangan apa pun. Namun, ia justru selama dua puluh tahun itu memperkuat sistem kebudayaan dan kemiliteran yang dibentuk oleh pemerintahannya. Ia juga memperkuat keamanan dalam negeri, membangun masjid-masjid, mengawasi wakaf-wakaf, serta membangun fasilitas umum yang banyak.
Ini merupakan kebesaran Sultan Orhan dan ketakwaaannya, kebijaksanaan dan wawasan yang jauh ke depan. Ia tidak selalu mengobarkan peperangan untuk tujuan memperluas wilayah. Namun, yang ia lakukan adalah agar kekuasaannya memiliki wibawa di wilayah-wilayah yang telah bergabung ke dalam pemerintahannya. Sultan Orhan berusaha memberikan warna di setiap wilayah yang baru ditaklukkan dengan ciri khas masyarakat Islam, bermiliter, berpendidikan, dan berbudaya. Ciri khas tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kekuasaannya di mana wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyyah di Asia Kecil sangat stabil dan tenteram.
Melebarkan Pengaruh ke Wilayah Eropa
Tidak lama setelah Sultan Orhan merampungkan urusan dalam negerinya, terjadi konflik perebutan kekuasaan di dalam Kekaisaran Byzantium. Kaisar Konstantinus meminta bantuan kepada Sultan Orhan untuk melawan musuh-musuhnya. Sultan Orhan pun mengirimkan pasukan Utsmani untuk memperkuat pengaruh Daulah Utsmaniyyah di Eropa.
Pada 1358 M, terjadi gempa bumi di Kota Thrace hingga meruntuhkan benteng-benteng Gallipoli dan para penduduknya berpindah darinya. Peristiwa ini memudahkan pasukan Utsmani untuk memasukinya. Kaisar Byzantium melayangkan protes terhadap apa yang dilakukan tentara Utsmani, tapi tidak ada gunanya.
Dengan demikian, maka jadilah Gallipoli sebagai basis pertama kekuatan Daulah Utsmaniyyah di Eropa. Dari tempat itulah pasukan Utsmani yang pertama mulai bergerak, yang pada akhirnya mampu menguasai Semenanjung Balkan. Ketika John V Palaiologos memisahkan diri dari pemerintahan Byzantium, maka ia mengakui seluruh kemenangan Sultan Orhan di Eropa, dengan imbalan Sultan akan memudahkan pengiriman makanan dan perbekalan ke Kota Konstantinopel.
Selanjutnya Sultan Orhan mengirimkan beberapa kabilah yang sudah masuk Islam untuk menyebarkan agama Islam dan mencegah orang-orang Nasrani mengusir kaum muslim dari Eropa.
Pasukan kaum muslim Utsmani memiliki karakteristik istimewa dalam setiap peperangan yang terjadi antara mereka dan penduduk Balkan, yaitu kesatuan barisan dan kesamaan tujuan yang telah ditanamkan Sultan Orhan bin Utsman. [MNews]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura
