Apakah Perang di Timur Tengah dan Gaza Lebih Hebat dari Perang Ukraina?

Apakah Perang di Timur Tengah dan Gaza Lebih Hebat dari Perang Ukraina?

Penulis: Prof. Asad Mansour

Muslimah News, ANALISIS INTERNASIONAL — Keberangkatan sekelompok pemuda muslim di Gaza untuk menyerbu tanah-tanah pendudukan; invasi mereka ke dalam tembok benteng musuh; serta pembunuhan dan penahanan ratusan tentaranya, merupakan lembaran baru yang tercatat dalam sejarah umat yang mulia.

Umat ini telah menghidupkan dan mengembalikan rasa percaya diri mereka karena terbukti bahwa sejumlah kecil dari generasi umat ini mampu melancarkan serangan mematikan kepada si kuat (entitas Yahudi) yang konon katanya tidak terkalahkan dan di belakangnya terdapat negara terkuat (Amerika).

Lalu, bagaimana jika salah satu pasukan dari pasukan militer umat Islam yang banyak itu mulai bergerak? Sungguh, hal ini telah membuat para antek ketakutan dan melepaskan topeng dari wajah palsu mereka. Hal ini juga mengingatkan mereka bahwa revolusi yang mereka upayakan untuk padam, kini nyaris meledak. 

Mereka mulai mengadakan berbagai pertemuan dan konferensi tingkat tinggi. Terbaru adalah KTT Darurat Luar Biasa Arab-Islam di Riyadh, pada Sabtu (11-11-2023). Saat itu, mereka memohon kepada Amerika dan entitas Yahudi untuk segera melakukan gencatan senjata karena bisa saja wajah mereka hangus dan terbakar di dunia terlebih dahulu sebelum terbakar di akhirat.

Musuh pun menjawabnya dengan serangan brutal yang didorong oleh “naluri” balas dendam. Musuh tidak puas dengan darah anak-anak dan perempuan sebelum tertumpahnya darah laki-laki karena mereka terlena dalam arogansi yang menipu dan berpikir bahwa tidak ada yang bisa menguasai mereka. 

Topeng telah luntur dari wajah “dunia yang bebas dan beradab”, yang merupakan sebuah kebohongan dan kepalsuan. Topeng yang awalnya mengoceh tentang hak-hak perempuan, anak-anak, dan umat manusia, kini membenarkan pembunuhan dengan mengatakan bahwa entitas Yahudi mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut dalam rangka membela diri. 

Sebaliknya, penduduk pribumi tidak mempunyai hak untuk membela diri karena mereka adalah ter*ris. Penduduk pribumi juga tidak mempunyai hak untuk melawan penjajah (padahal yang telah disepakati dalam undang-undang PBB adalah hak melawan penjajah) sebagaimana yang diterapkan pada Ukraina yang melawan Rusia. Namun, mereka tidak menerapkannya di Palestina dan Timur Tengah karena Isr*el adalah—diklaim—satu-satunya “negara” demokratis di wilayah tersebut sehingga tidak diperbolehkan untuk melawannya ataupun berupaya menghancurkannya. 

Amerika mengirimkan sebelas kapal perangnya sebagai persiapan untuk menghadapi gerakan pembebasan, jika umat ingin melenyapkan entitas Yahudi dan keberadaan mereka. Sedangkan para pemimpin mereka berbondong-bondong ke wilayah tersebut, memperingatkan agar tidak memperluas cakupan perang (segera melakukan gencatan senjata, ed.); yang berarti mereka mencegah dukungan militer untuk Gaza, sekaligus mencegah serangan (bantuan dari Yaman, Iran, dll.) terhadap musuh yang brutal.

Ada fakta sejarah bahwa negara mana pun yang mampu menguasai Timur Tengah akan menjadi negara adidaya di dunia. Ini karena Timur Tengah adalah pusat dunia, posisi yang strategis (dilewati setiap jalur laut, darat, dan udara antarbenua), dan memiliki kekayaan yang melimpah. Juga fakta bahwa masyarakatnya yang beragama Islam makin membuat Timur Tengah memiliki keistimewaan yang sangat penting. 

Kemudian, negara-negara Barat menyadari keistimewaan ini. Terlebih Timur Tengah berdiri di atas reruntuhan Kekaisaran Romawi yang dulu pernah menjadi negara adidaya di dunia, walaupun setelah berkuasa, ia dikalahkan oleh negara saingannya, Persia. Kemudian negara-negara Barat mulai menginvasi Timur Tengah pada Perang Salib, tetapi mereka kalah telak. 

Lalu, umat Islam kembali memulihkan negaranya sebagai negara terbesar di dunia. Dimulai dari Timur Tengah, umat Islam menyerang tanah air negara-negara Barat, lalu meruntuhkan ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, Konstantinopel, sebagai tanda peringatan untuk mencapai ibu kota Kekaisaran Romawi Barat, Roma.

Ketika negara-negara Barat menganut ideologi kapitalisme, mereka menambahkan gagasan kolonialisme di Perang Salib untuk menguasai masyarakat, menghisap darah, dan menjarah kekayaan mereka. Alhasil, penyerangan mereka terhadap suatu wilayah dibangun atas dasar ideologi. Mereka mengambil pelajaran dari kekalahan mereka di Perang Salib dan memutuskan untuk menanam entitas Yahudi di Palestina (jantung Timur Tengah dan dunia Islam) untuk dijadikan pangkal intervensi bagi Barat dengan dalih melindunginya.

Hal tersebut juga ditujukan agar para penduduknya disibukkan dengan konflik Palestina, mencegah kebangkitan dan tegaknya Khilafah, juga untuk mencegah persatuan umat Islam dalam satu negara, untuk menjadi negara adidaya di dunia. Ini karena Khilafah akan mengakhiri kekuasaan Barat dan memotong tangan mereka sehingga menahan mereka mencuri kekayaan kaum muslimin dan bangsa lain.

Demikianlah rencana jahat yang Barat susun dengan tipu daya Inggris untuk memerangi umat Islam, yaitu dengan memanfaatkan entitas Yahudi dan memfasilitasi mereka dengan segala sarana-prasarana. Pemasokan sarana-prasarana ini mengantarkan Barat pada kekuasaan tanpa menumpahkan setetes pun darah ras kulit putih yang “unggul” sesuai dengan klaim palsu mereka; dan tanpa membuat mereka merasa malu atas kekalahan yang sudah pasti, sebagaimana yang pertama kali terjadi di Palestina dan Timur Tengah.

Demikianlah metode Barat agar terbebas dari musuh mereka (entitas Yahudi); sekaligus melenyapkan umat Islam yang juga merupakan musuh mereka, dengan memanfaatkan entitas Yahudi. 

Inilah sebabnya, ketika sumbu perang di Timur Tengah menyala atau terjadi ledakan di dalamnya, seolah-olah jarum jam berhenti dan perhitungan dimulai. Perhatian dunia beralih kepadanya dan mereka mulai disibukkan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ketika revolusi dan pemberontakan muncul di dunia Arab; Amerika, Barat, dan Timur juga sibuk atas peristiwa tersebut. Mereka merasa terganggu. 

Hingga pada 4 Agustus 2016, Mantan Presiden AS Obama mengatakan, “Saya yakin bahwa sebagian besar uban di kepala saya berasal dari pertemuan saya mengenai perang saudara di Suriah.”

Ia juga menambahkan bahwa seusai pertemuan, dirinya selalu memikirkan rencana cadangan. Pemikiran mereka telah dibuat bercabang demi menangani hal ini, baik pendayagunaan antek mereka, Iran beserta partai dan kelompoknya, hingga Rusia yang dengki. Mereka juga harus memikirkan koordinasi dengan sistem keluarga Su’ud yang mempunyai ciri khas pengkhianat dan penista, serta menjalin hubungan dengan Erdogan dari Turki yang telah memainkan peran paling busuk ketika menggempur revolusi ini.

Tersebab peristiwa yang terjadi di Timur Tengah inilah, Obama menghentikan strategi Amerika di wilayah Asia dan Samudera Pasifik yang diumumkan awal 2021. Disampaikan di dalamnya mengenai penarikan 60% kapal induk Amerika dari berbagai penjuru dunia hingga Samudra Pasifik untuk menghadapi Cina dan segala hal yang dibawanya.

Dahulu, hal tersebut adalah salah satu prioritas utama Amerika. Namun, peristiwa yang terjadi di Timur Tengah mengambil posisi prioritas paling utama. Bahkan, revolusi ini telah memberikan efek pada internal Amerika sendiri hingga berkobar pemberontakan hebat untuk menghancurkan kapitalisme yang berdiri di bawah slogan “Occupy Wall Street“.

Ukraina penting secara regional bagi Rusia dan Eropa, tetapi tidak secara global sebagaimana Timur Tengah. Rusia ingin menjadikan Ukraina sebagai penyangga antara Rusia dari ancaman Barat dan penggunaan Amerika atas wilayah tersebut yang menjadikannya sabuk pengaman di sekeliling Rusia untuk membatasi kemampuan Rusia dan menjadikannya tunduk terhadap Amerika.

Namun, yang terpenting bagi Eropa hanyalah keamanan Ukraina agar dapat mengembangkan hubungannya dengan Rusia, mengambil keuntungan dari sumber daya alamnya yang murah, dan mendapat keuntungan dari pasar-pasarnya yang telah terbuka untuk menjual komoditas sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini juga tidak disukai Amerika. Amerika ingin mencegah Eropa agar tidak keluar dari bawah kendalinya dan muncul sebagai kompetitor.

Konflik di Ukraina bukanlah konflik ideologis, melainkan konflik antara saudara seiman dan seideologi. Konflik di Timur Tengahlah yang justru konflik ideologis, meskipun negaranya (Khilafah, pen.) belum ada. Ideologi ini adalah Islam, satu-satunya ideologi di dunia yang menerobos dan melawan prinsip kapitalisme. Islam adalah ideologi hidup yang terus tumbuh dan berkembang; ideologi yang penganutnya berjumlah sekitar dua miliar muslim di dunia, dan akan terus meningkat dan menyebar bahkan di negara-negara kapitalis.

Oleh karena itu, bukan hal aneh jika semua pandangan dan perhatian dunia teralihkan pada konflik yang terjadi antarkelompok kecil kaum muslim di Gaza; tidak ada lagi yang peduli pada Ukraina dan perangnya, ataupun di Taiwan dan tempat lainnya. 

Diketahui bahwa di Timur Tengah inilah lahir sebuah partai ideologis, yaitu “partai ideologis internasional” yang menyebar ke seantero seluruh dunia. Partai ini mulai memimpin kaum muslim di seluruh tempat dan idenya ‘Khilafah’ menjadi pembicaraan semua orang dengan kurun waktu yang sangat cepat. Di tangan partai inilah janji Allah kepada umat Islam untuk mengangkat seorang khalifah dan mengukuhkan agama ini akan terealisasi, dengan izin Allah. [MNews]

Sumber: Media Muslim Timur Tengah, 27 November 2023

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *