Muslimah News, INTERNASIONAL —Wakil Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) M. Najih Arromadloni mengatakan, adanya perang Palestina-Zionis Yahudi banyak digunakan untuk menyebarkan narasi-narasi propaganda pentingnya sistem Khilafah dalam memperjuangkan Palestina.
Menurutnya, ini tidak lepas dari politisasi kaum radikal dan isu penegakan Khilafah yang menungganginya membuat situasi makin kontraproduktif. Pembajakan isu ini hanya akan menyelewengkan atau bahkan menghilangkan fokus dari masalah yang sebenarnya.
“Sebetulnya masalah Palestina ini kan sederhana, ini persoalan kemanusiaan. Makanya, beberapa tokoh dunia pernah mengatakan, ‘Anda tidak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina, Anda hanya perlu menjadi manusia’. Ini persoalan kemanusiaan,” katanya, Senin (23-10-2023).
Tuduhan Keji
Aktivis muslimah Wiwing Noeraini kepada MNews, Rabu (8-11-2023), menyatakan, isu penegakan Khilafah menunggangi penyelesaian masalah Palestina-Zionis Yahudi merupakan tuduhan keji.
“Jelas ini tuduhan yang sangat menyakitkan bagi umat Islam. Ini adalah bagian dari upaya mengkriminalisasi Khilafah. [Padahal] mengkriminalisasi Khilafah sama saja dengan mengkriminalisasi ajaran Islam karena Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam,” ungkapnya.
Selain itu, jelasnya, ini upaya mengalihkan isu agar umat beralih dari ide Khilafah sebagai solusi tuntas masalah Palestina kepada solusi-solusi lainnya.
“Meluasnya dakwah Khilafah yang diikuti dengan makin banyaknya umat yang menerima ide ini telah mengkhawatirkan banyak pihak, terutama mereka yang selama ini getol menyuarakan Islam moderat. Tuduhan-tuduhan terhadap Khilafah pun dilontarkan. Sebenarnya, ini lagu lama, lagi-lagi, ide penegakan Khilafah dituding sebagai ide radikal,” urainya.
Kemudian ia menilai, anggapan Gus Najih bahwa persoalan Palestina hanya masalah kemanusiaan, bukanlah masalah umat Islam, melainkan masalah rakyat Palestina semata, jelas pendapat yang tidak tepat atau keliru.
“Masalah Palestina bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi pendudukan dan penjajahan. Apa yang terjadi sebenarnya bukanlah konflik Zionis Yahudi dan Palestina, tetapi perang antara Zionis Yahudi sebagai penjajah dan Palestina sebagai pihak yang dijajah,” bebernya.
Salah Besar
Salah besar, lanjutnya, jika dikatakan bahwa masalah Palestina hanyalah masalah bangsa atau rakyat Palestina.
“ Yang benar, masalah Palestina adalah masalah umat Islam se-dunia, terkait dengan akidah dan syariat. Menyebut Palestina, tidak bisa dilepaskan dari Yerusalem, Masjidilaqsa, peristiwa Isra Mikraj, dan kenabian Muhammad saw.,” ucapnya.
Ini masalah tanah milik kaum muslim, ujarnya, sebagai tanah wakaf atau tanah kharajiyah yang telah dirampas oleh kaum Yahudi atas dukungan Inggris, AS, dan PBB.
“Ini salah satu masalah dari berbagai masalah yang dihadapi umat Islam, seperti kemiskinan, perpecahan, keterjajahan, dan lainnya yang diakibatkan oleh tidak adanya payung dunia Islam (baca: Khilafah) dan adanya kungkungan sistem kufur sekuler kapitalisme,” ujarnya.
Tidak hanya itu, kritiknya, tawaran Khilafah sebagai solusi masalah Palestina, dianggap Gus Najih sebagai pembajakan isu yang akan menyelewengkan atau menghilangkan fokus dari masalah sebenarnya, yakni kemerdekaan Palestina.
“Ini penyesatan, justru Khilafah dan jihad adalah solusi hakiki Palestina, bagian dari ajaran Islam. Penegakan Khilafah adalah perintah Allah dan Rasul-Nya,” tegasnya.
Tanpa Khilafah, sambungnya, hukum Allah tidak akan mungkin diterapkan secara sempurna di muka bumi karena Khilafah satu satunya institusi yang bisa menerapkan hukum Allah secara kafah. “Tanpa Khilafah, tak ada yang menjadi pelindung umat. Khilafah adalah solusi bagi seluruh masalah umat, dulu, sekarang, maupun nanti,” paparnya mengutip sabda Rasulullah saw.,
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) junnah (perisai), di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
Ia menerangkan, frase ‘imam’ adalah ‘khalifah’ sebagaimana Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyyah berkata, “Al-Imamah adalah pembahasan tentang Khilafah Nubuwwah untuk menjaga agama dan mengatur dunia dengannya.”
Kemudian, jelasnya, kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dterangkan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim,
“(Imam itu perisai), yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslim dan mencegah antarmanusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”
Wiwing mengungkapkan, upaya perdamaian Palestina-Zionis Yahudi sudah dilakukan berpuluh tahun. “Masukan dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia untuk berdamai, menghentikan perang dan menghapuskan penjajahan, kemudian memberikan kemerdekaan kepada Palestina, apakah didengar? Tidak sama sekali,” cetusnya.
Kekuatan AS
Ia menyatakan, satu-satunya kekuatan eksternal yang mampu memengaruhi Zionis Yahudi hanyalah Amerika Serikat sehingga masyarakat global hari ini hanya bisa menunggu AS menyelesaikannya.
“Tapi harus dipahami, pemerintah AS akan menyelesaikannya tetap dalam batas-batas kebijakan luar negeri dan keamanan AS dengan mempertimbangkan hubungan diplomatik sebagai sekutu Yahudi,” imbuhnya.
Secara teknis, ucapnya, pemerintah AS telah mengeluarkan panduan strategi keamanan nasional AS 2021 bahwa AS akan menjaga komitmen kuat terhadap keamanan Zionis Yahudi, sambil berusaha melanjutkan integrasinya dengan tetangganya dan melanjutkan peran AS sebagai promotor solusi dua negara yang layak.
“Maka bisa diprediksi, AS akan membawa Palestina dan Zionis Yahudi ke meja perundingan, menekankan gencatan senjata, atau bahkan memulai pembicaraan kuat solusi dua negara. Namun, gencatan senjata maupun solusi dua negara sebenarnya tidak benar-benar menyelesaikan masalah. AS maupun Zionis Yahudi akan tarik ulur agar tujuan politik masing-masing tetap terjaga. Itulah realitasnya,” paparnya.
Untuk itu, ia mengingatkan, berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan masalah Palestina bukanlah solusi hakiki yang mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslim.
“Pembebasan tanah Palestina jelas tak mungkin bergantung pada Barat yang sudah pasti berpihak pada Zionis Yahudi. Tidak mungkin pula berharap pada negeri negeri muslim yang tunduk pada kepentingan Barat,” ujarnya.
Satu hal yang pasti, tegasnya, untuk membebaskan Palestina tentu butuh kekuatan militer yang luar biasa yang mampu mengalahkan tentara Zzionis Yahudi dan sekutunya. “Kepada siapa berharap? Mungkinkah berharap pada negeri negeri muslim hari ini? Jelas tidak,” tukasnya.
Khilafah Islamiah
Ia menekankan, satu-satunya negara yang mampu menghadirkan kekuatan militer adalah Khilafah Islamiah yang akan mempersatukan umat Islam seluruh dunia dan menggabungkan semua negeri muslim.
“Ikatan akidah Islam akan mempertemukan cita-cita kaum muslim di Palestina dan semangat jihad tentara kaum muslim dari berbagai negeri muslim yang bersatu dalam satu kepemimpinan Khilafah. Mereka menjadi satu dalam perjuangan mulia membebaskan Palestina dari penjajahan Barat. Hanya Khilafah Islamiahlah yang pantas menjadi harapan untuk mengakhiri perang yang hakikatnya adalah perang Islam–Yahudi,” jelasnya.
Hanya Khilafah, sambungnya, yang mampu melindungi kemuliaan rakyat Palestina dan menghadirkan kesejahteraan dan keamanan bagi mereka. “Tak hanya itu, Khilafahlah yang akan mengembalikan tanah Palestina semuanya kepada pemilik sahnya, yakni kaum muslim,” tukasnya.
Siapa pun yang menolak Khilafah, imbuhnya, apalagi melontarkan tuduhan keji terhadap Khilafah, bahkan mengkriminalkan para pejuang dan pembelanya, hakikatnya mereka adalah penentang dakwah. Ia menyatakan, pertanggungjawaban mereka kelak di sisi Allah akan sangat berat karena para penentang dakwah akan menuai azab Allah Swt. sebagaimana dalam QS Huud ayat 18—20,
“…..Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan, mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini dan sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka yang selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya.”
Wiwing kembali mengingatkan, tegaknya kembali Khilafah adalah pasti. “Sekalipun semua musuh Islam bersatu untuk menghalangi, Khilafah tetap akan berdiri. Kita bergabung dalam perjuangan penegakannya ataukah tidak, ia juga tetap akan berdiri. Sekarang tinggal kita mau memilih, menjadi pejuang, penonton, atau penentang yang berakhir dengan kehinaan?” tanyanya lugas. [MNews/Ruh]

Tidak takutkah mereka akan ancaman dari allah terhadap penentang2 ajaran Islam termasuk ajaran Khilafah