Muslimah News, NAFSIYAH — Salah satu faktor yang merusak seseorang adalah rusaknya hati dan penuhnya ia dengan noda. Mereka yang berhati bersih, seluruh gerak-gerik dan tingkah lakunya pun akan baik.
Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hati adalah asalnya (segala sesuatu). Jadi, jika ada pengetahuan dan keinginan di dalamnya, akan berimbas ke tubuh secara otomatis. Tidak mungkin anggota tubuh dengan serta merta menyelisihi apa yang diinginkan oleh hati.” (Majmu’ Fatawa, hlm. 187).
Sementara itu, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hati adalah raja dari seluruh anggota badan dan badan itu taat terhadap perintah hati, siap menerima petunjuk hati. Tidaklah lurus suatu amal hingga amal tersebut berasal dari tujuan dan niat hati, serta hati itu bertanggung jawab atas seluruh (amal badan).” (Ighasah al-Lahfan, hlm. 5).
Makna Hati
Ulama memaknai “hati”, yakni sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia, tidak kasat mata, karunia dari Allah Swt. kepada manusia, dan bersifat spiritual, memiliki keterkaitan dengan hati manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, keterkaitannya tersebut hanya diketahui oleh Allah Taala.
Menurut Ibnul Qayyim, hati yang bersifat maknawi ialah kelembutan spiritual yang bersumber dari Allah Swt., penuh belas kasihan, memiliki keterikatan dan kekhususan pada organ (hati) ini dan kelembutan, itu adalah realitas kemanusiaan.” (At-Tibyan fii Aqsami al-Qur’an, hlm. 263).
Firman-Nya, “Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa.” (QS Hujurat: 3). Sabda Rasul saw., “Takwa itu letaknya di sini.” sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali.” (HR Muslim).
Rasulullah saw. menegaskan bahwa Allah Taala akan menilai seseorang berdasarkan hati dan amalan mereka, bukan berdasarkan harta kekayaan, maupun penampilan mereka. Sabda Rasul saw., “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.” (HR Muslim).
Ulama bernama Al-Munawi mengatakan, “Berapa banyak orang yang berlidah baik, rupawan, terpandang, akan binasa esok di hari kiamat karena perbuatan buruknya, keburukan perilakunya, dan ketaktulusannya. Sungguh, hati merupakan sisi yang diperhatikan saat melihat hakikat sesuatu, tidak berguna indahnya penampilan dan indahnya ucapan, jika ia memiliki hati yang kotor.” (Faidhul Qadiir, hlm. 50).
Perkataan ulama di atas sama persis seperti yang kita lihat dan saksikan saat ini dari layar ponsel. Ada seorang dari kalangan dai yang menyebut dirinya peduli terhadap kondisi kaum muslim Palestina. Namun, justru kalimat-kalimat yang dilontarkannya berupa keburukan yang ditujukan kepada pejuang muslim di sana.
Kita tentu kaget karena ucapan tersebut keluar dari lisan seorang dai. Namun, kita tidak begitu saja merasa heran karena sistem kapitalisme banyak memengaruhi cara pandang umat Islam. Menganggap tidak ada kebenaran sejati, melainkan semua kebenaran relatif tergantung sudut pandangnya. Sesungguhnya, Islam menuntun kita untuk menemukan kebenaran hakiki yang datang dari sumber hukum Islam (syariat).
Benarlah apa yang Ibnul Qayyim katakan, “Sejatinya amalan satu dengan yang lainnya, tidaklah saling unggul hanya karena bentuk dan jumlahnya yang berbeda. Akan tetapi, ia saling unggul karena saling unggulnya apa yang ada di dalam hati. Dua amalan yang berbentuk sama (sangatlah mungkin) memiliki kualitas yang berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi.” (Madarijus Salikin, hlm. 340).
Sama-sama mempelajari ilmu agama, setelahnya disebut sebagai dai atau daiyah, tetapi kualitas amalnya bisa pula berbeda. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut lebih memperhatikan kebersihan dan kesucian hati, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat mengotorinya. Istikamah pada jalan kebenaran memang tidak mudah, banyak godaan yang datang, baik dari manusia maupun setan.
Nilai Amal
Sesungguhnya, nilai amal di sisi Allah diukur dengan keikhlasan karena-Nya, serta kesesuaian terhadap syariat-Nya. Rasul saw. bersabda, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Allah Yang Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya,, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan jangan menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS Al-Kahfi: 110).
Di dunia, ada tiga golongan manusia yang akan dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong, selain dari Allah Taala.
Pertama, kaum yang Allah menganugerahkan kepada mereka kesehatan dan kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya mencurahkan semuanya untuk Allah dan dijalan-Nya dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Namun, setan telah membelokkan arah hidupnya untuk mencurahkan di luar jalan tersebut.
Mereka memang pergi ke medan jihad dan berperang, tetapi tujuan mereka supaya disebut pemberani. Allah akan mengawali pengadilan-Nya pada hari kiamat kepada mereka. Allah Swt. akan bertanya, “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu? Pada saat itu, Allah membuka rahasia hati mereka seraya berfirman, “Kamu pendusta! Sesungguhnya kamu berperang hanya supaya dikatakan pemberani.” Malaikat pun diperintahkan menarik wajah mereka dan melemparkan ke dalam api neraka.
Kedua, kaum yang dimuliakan Allah dengan diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Mereka mampu membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya. Namun sayang, tujuan yang semestinya karena Allah, dipalingkan oleh setan sehingga mereka berbuat riya (pamer). Mereka berupaya agar mendapat pujian, kedudukan, harta, dan jabatan.
Akibatnya, ia berani menyembuyikan sesuatu yang hak meskipun ia mengetahuinya, serta membelokkan pada jalan yang salah. Tidak sedikit dari kalangan penuntut ilmu yang mengkhianati ilmu yang dimilikinya. Astagfirullah, tawaran duniawi dianggap lebih menggiurkan daripada surga dan seisinya.
Pada hari kiamat kelak, tidak ada yang mereka peroleh, kecuali dikatakan sebagai “pendusta”. Mereka terdiam disertai kehinaan, kerugian, dan penuh penyesalan. Malaikat pun menyeret dan mencampakkan mereka ke dalam neraka.
Ketiga, kaum yang diberi kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Mereka adalah golongan kaya yang berharta melimpah. Namun, mereka bersedekah, berinfak, memberikan uang, dan mendermakan harta supaya terkenal, serta disebut dermawan. Allah mengetahui isi hati dan tujuan mereka. Kemudian, mereka diperintahkan untuk diseret atas mukanya dan dicampakkan ke dalam neraka. Mereka tidak mendapatkan seorang penolong pun selain Allah Taala. (Taujihat Nabawiyah ‘ala Thariq).
Ketika kita menolong berupa bantuan uang dan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan oleh saudara-saudari kita di Palestina, semoga kita meniatkannya hanya karena-Nya, bukan yang lain. Ketika kita mengupayakan pembebasan kaum muslimin Palestina dengan dakwah dan jihad, juga diharapkan berniat karena-Nya, bukan yang lain. Sungguh, Allah sangat mengetahui setiap isi hati dan tujuan kita. Allah Taala tidak pernah salah menilai isi hati. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]
