Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Kejayaan Daulah Utsmaniyyah berawal dari lahirnya sang panglima, Utsman bin Ertugrul. Dia dilahirkan dalam kondisi kaum muslim terpuruk dengan runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Orang tuanya mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin masa depan, bahkan pemimpin yang menghidupkan kembali kehebatan peradaban Islam di mata umat lain di dunia.
Utsman kecil sudah terbiasa dengan suasana perjuangan dan penaklukan untuk mengembalikan kemuliaan Islam. Bentukan dan penguatan keimanan inilah yang nanti menjadi fondasi bagi sifat-sifat kepemimpinan Utsman bin Ertugrul, pendiri Daulah Utsmaniyyah .
Adil dan Pemberani
Setelah Ertugrul berhasil mengambil alih Kota Qurjuh Hishar dari orang-orang Byzantium pada 684 H, ia mengangkat putranya, Utsman untuk menjadi kadi di wilayah tersebut. Suatu saat Utsman bin Ertugrul memenangkan seorang warga Byzantium beragama Nasrani yang bersengketa dengan seorang warga muslim Turki.
Orang Byzantium itu pun heran dan bertanya kepada Utsman, “Bagaimana mungkin anda memberikan keputusan yang menguntungkan aku, padahal aku tidak seagama denganmu?”
Utsman pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak mengambil keputusan yang menguntungkan kamu, sedangkan Allah yang kami sembah berfirman kepada kami, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.’” (QS An-Nisa: 58).
Keadilan Utsman ini yang mengantarkan laki-laki warga Nasrani itu dan kaumnya untuk memeluk agama Islam. Utsman bin Ertugrul menjalankan keadilan terhadap rakyat yang dipimpinnya dan di wilayah-wilayah yang ia taklukkan. Utsman tidak memperlakukan orang-orang yang kalah dengan zalim, kejam, bengis, sewenang-wenang, dan tidak manusiawi.
Sikap Utsman terhadap bangsa yang ditaklukkan merupakan perwujudan dari keimanan, ketakwaan, kecerdasan, keadilan, dan kasih sayang.
“Dia (Zulkarnain) berkata, ‘Barang siapa yang berbuat zalim, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian ia dikembalikan kepada Rabb-nya, lalu Rabb mengazabnya dengan azab yang tiada taranya.’ Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagiannya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (QS Al-Kahfi: 87—88)
Kemudian pemimpin umat Nasrani Byzantium melakukan pertemuan di Bursa, Madinus, Adranus, Kuttah, dan Kastalah pada 700 H dalam rangka menyatukan langkah dan membentuk aliansi salibis untuk menyerang Utsman bin Ertugrul. Namun, Utsman dan pasukannya tidak gentar, mereka maju menyongsong pasukan salibis tersebut.
Dengan penuh keberanian, Utsman bin Ertugrul terjun langsung ke medan pertempuran dan berhasil memorak-porandakan pasukan aliansi salibis. Panglima pasukan yang pemberani ini mampu menggentarkan musuh dan menambah wibawa kepemimpinan Utsman di hadapan kaum muslim.
Sabar dan Ikhlas dalam Setiap Penaklukan
Sifat sabar Utsman bin Ertugul tampak saat ia menaklukkan benteng-benteng dan berbagai negeri. Pada 707 H, Utsman berhasil menaklukkan benteng Kuttah, benteng Lafkah, benteng Aq Hishar, dan benteng Qauz Hishar. Pada 712 H, ia berhasil menaklukkan benteng Kabwah, benteng Yakijah Tharaklu, benteng Takrir Bikari, dan lain-lain.
Penaklukan benteng-benteng tersebut dilanjutkan dengan penaklukan Kota Bursa pada 717 H. Penaklukan Kota Bursa dapat dicapai setelah melakukan pemblokadean secara ketat selama beberapa tahun. Penaklukan Kota Bursa bukanlah urusan mudah, bahkan termasuk salah satu penaklukan paling sulit yang pernah dilakukan oleh Utsman bin Ertugrul.
Pada proses penaklukannya, Utsman terlibat pertempuran yang sangat dasyat dengan pemimpin Kota Bursa yang bernama Ikrinus. Pertempuran berlangsung selama beberapa tahun sampai akhirnya Kota Bursa menyerah dan kaum muslim memperoleh kemenangan.
Proyek penaklukan yang dilakukan Utsman merupakan kesempatan untuk menyampaikan dakwah dan menyebarluaskan agama-Nya. Utsman sadar bahwa menyebarkan Islam adalah sebuah kewajiban suci. Ustman pun memiliki pemikiran politik yang luas dan mumpuni. Ia mendirikan negaranya bukan karena mencintai kekuasaan, tetapi karena mencintai penyebaran Islam.
Utsman bin Ertugrul benar-benar yakin bahwa satu-satunya tugas mulia baginya adalah berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah. Ia bergegas dengan segenap kekuatannya untuk mewujudkan tujuan mulia ini.
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200). [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyyah , Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura
