Muslimah News, NASIONAL — Pemerintah Cina kembali menyelenggarakan Belt and Road Initiative (BRI) Summit pada 17—18 Oktober 2023 sekaligus memperingati 10 tahun sejak BRI pertama kali diperkenalkan pada 2013 lalu yang dihadiri sekitar 130 negara dan 30 organisasi internasional.
Presiden Cina Xi Jinping berencana menambah dana sebesar US$100 miliar atau setara Rp1.577 triliun untuk program BRI dari skema dua bank pembangunan yang didukung Cina, yakni Cina Development Bank dan Bank Ekspor Impor Cina, masing-masing akan menyiapkan dana sebesar 350 miliar yuan (Rp759 triliun) untuk pembiayaan. Hal ini disampaikannya di sela-sela pertemuan BRI, yang juga dihadiri Presiden Jokowi di Cina.
Media Barat menyebut proyek besar BRI ini meningkatkan perdagangan, tetapi meninggalkan utang besar dan memunculkan keprihatinan lingkungan. Selain itu, BRI adalah jeratan diplomasi utang yang diusung Cina.
Namun, Cina membantah bahwa ini bukan perangkap utang negara-negara berkembang, tetapi mitra untuk membantu mereka keluar dari perangkap kemiskinan, membantu negara-negara mitra dalam mengurangi utang mereka dengan mempromosikan lapangan kerja, pendapatan pajak, dan investasi. Justru utang dari negara Baratlah, ujar Cina, yang mendominasi negara-negara bermasalah itu.
Hoaks
Dalam keterangannya kepada MNews, Selasa (24-10-2023), pengamat politik ekonomi Zikra Asril menyatakan, klaim bahwa BRI mengurangi kemiskinan adalah hoaks.
“Fakta di Indonesia, proyek kawasan industri, baik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) maupun Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti di Jateng, Sumut, Morowali Sulawesi, Halmahera Maluku, Banten, dan Kaltara tetap saja tidak mengurangi kemiskinan, malah makin meningkatkan kesenjangan ekonomi,” ulasnya.
Sayangnya, ia menerangkan, dengan makin kuatnya komitmen Cina dengan BRI dan respons positif Jokowi pada BRI, sepertinya Indonesia akan melanjutkan kemitraan dengan Cina dalam kerangka kerja sama ini.
“Jika memang demikian, rakyat perlu bertanya lagi, apakah proyek BRI benar-benar bermanfaat bagi Indonesia? Atau jangan-jangan ini akan menjebak Indonesia dalam utang dan makin menambah kemiskinan,” ucapnya.
Ambisi Cina
Menurutnya, tidak dapat dimungkiri bahwa BRI adalah ambisi Cina (baca: kapitalisme Timur) untuk melawan dominasi Barat (baca: Amerika dan Uni Eropa) dalam ekonomi berupa investasi dan utang, juga dalam perdagangan.
“Narasi jeratan utang memang sengaja dibangun media Barat. Namun faktanya, Barat juga menggunakan jeratan utang lewat IMF dan Bank Dunia pada negara-negara dunia ketiga,” cetusnya.
Artinya, ia menjelaskan, utang adalah alat penjajahan kapitalisme, baik Timur dan Barat untuk membuat negara-negara berkembang masuk dalam jeratan dalam rangka menguasai SDA-nya dengan iming-iming mewujudkan pertumbuhan ekonomi.
“Indonesia telah masuk dalam jeratan itu karena utang yang makin masif dan APBN didominasi untuk membayar utang. Namun realitasnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lebih dari 5%,” urainya.
Begitu juga pajak, lanjutnya, tidak mampu naik karena banyak insentif pajak yang diberikan pada investasi Cina, termasuk lapangan kerja, bahkan tsunami PHK di tengah naiknya investasi.
“Yang ada, Indonesia makin banjir barang impor dan TKA. Indonesia juga terjebak utang yang makin besar. Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung adalah salah satu contohnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan, Indonesia harus makin waspada karena ke depan Cina akan makin memperluas utang dalam bentuk ekonomi digital dan Energi Baru Terbarukan (EBT).
“Secara perdagangan, Indonesia sudah kalah telak dari Cina, termasuk di bidang ekonomi digital dan EBT. Proyek-proyek BRI yang ditawarkan ke Indonesia akan menjadi jalan untuk makin menguasai SDA dan sumber daya data warga Indonesia. Tentu ini akan makin menjauhkan Indonesia dari gambaran negara yang mandiri, apalagi maju,” tukasnya.
Menasihati Penguasa
Untuk itu, ia menekankan, umat islam di Indonesia harus menasihati penguasanya bahwa BRI adalah bentuk lain dari agenda penjajahan kapitalisme.
“Penjajahan selalu ingin menjarah kekayaan, serta melemahkan negara dan rakyat. Sudah seharusnya Indonesia menjauh dari proyek-proyek BRI dan berpikir untuk membangun kemandirian ekonomi dengan konsepsi yang menyejahterakan dan memuliakan, serta keluar dari dominasi negara-negara penjajah siapa pun mereka. Terbukti kapitalisme Barat dan Timur telah menjajah negara kita dengan berbagai strategi dan wasilah,” paparnya.
Selain itu, tuturnya, Islam adalah solusi bagi persoalan kehidupan manusia, termasuk bekal istimewa bagi sebuah negara dan bangsa jika mereka menginginkan menjadi negara dengan ekonomi kuat.
“Konsep pembangunan ekonomi yang bertumpu pada pemenuhan kebutuhan dasar dan tersier yang diajarkan Islam akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya, sekaligus melenyapkan kemiskinan. Lalu untuk apa bergantung pada arahan pembangunan ekonomi penjajah,” kritiknya.
Kemudian, ia menasihati dengan peringatan Allah Swt. dalam QS Ali Imran ayat 28,
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai penolong setia atau pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman yang lain. Barangsiapa melakukannya, maka ia telah lepas dari Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” [MNews/Ruh]
