[Tarikh Khulafa] Lima Abad Kekhalifahan Bani Abbasiyah

[Tarikh Khulafa] Lima Abad Kekhalifahan Bani Abbasiyah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Kekhalifahan Bani Abbasiyah mampu bertahan selama 524 tahun dengan jumlah khalifah sebanyak 37 orang. Periode Kekhalifahan Bani Abbasiyah dibagi menjadi masa keemasan, masa Mamluk Turki yang disebut Amir al-Umara, kekuasaan bangsa Persia ad-Dailami, Kesultanan Saljuk yang menetap di negeri Al-Jibal—bukan di Baghdad—, dan periode akhir ketika Daulah Abbasiyah kembali memegang kekuasaan penuh, sebelum dilenyapkan oleh datangnya ekspansi Bangsa Mongol.

Masa Keemasan

Pada satu abad pertama, Daulah Abbasiyah dipimpin oleh para khalifah yang memegang otoritas tertinggi dan kekuasaan yang berdaulat penuh atas seluruh Daulah Islam, kecuali negeri Andalusia. Para khalifah di masa ini benar-benar memimpin dengan kepemimpinan yang didengar dan ditaati. Tidak ada seorang pun yang berani menentang dan melawan mereka, kecuali kelompok Syiah dan Khawarij yang timbul tenggelam.

Pada masa keeamasan ini, Daulah Abbasiyah dipimpin oleh delapan khalifah, yaitu As-Saffah, Al-Manshur, Al-Mahdi, Harun Ar-Rasyid, Al-Amin, Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Periode ini berakhir dengan wafatnya Khalifah Al-Watsiq pada 222 H.

Masa Amir al-Umara

Menginjak abad ketiga, yaitu dari 222 H sampai 234 H, Daulah Abbasiyah mulai mengalami penurunan dan sedikit demi sedikit para khalifah mulai kehilangan wibawanya. Para amir di wilayah yang jauh dari pusat kekhalifahan mulai berani menuntut independensi dan otonomi pemerintahan. Otoritas dan kekuasaan khalifah Daulah Abbasiyah mulai menyusut dan tereduksi hingga hanya menyisakan Irak, Persia, dan Ahwaz. Itu pun dipenuhi gejolak, konflik, dan friksi.

Kemudian hal ini berujung pada kondisi politik ketika Baghdad dikuasai dan dikendalikan oleh Mamluk Turki atau Dailami yang disebut Amir Al-Umara’. Mereka mendominasi kekuasaan, kendali, dan otoritas secara penuh dan menyeluruh, sedangkan kekhalifahan tidak memiliki kewenangan apa-apa.

Pada era ini, kekhalifahan Daulah Abbasiyah dipimpin oleh dua belas khalifah, yaitu Al-Mutawakil, Al-Muntashir, Al-Musta’in, Al-Mu’taz, Al Muhtadi, Al-Mu’tamid, Al-Mu’tadhid, Al-Muqtafi, Al-Muqtadir, Al-Qahir, Al-Muttaqi, dan Al-Mustakfi. Pada masa akhir Kekhalifahan Al-Mustakfi, Baghdad dipimpin oleh Kesultanan Bani Buwaihi.

Kesultanan Bani Buwaihi

Era ketiga dimulai pada 334 H sampai 447 H. Pada era ini, secara de facto otoritas dan kendali kekuasaan berada di tangan bangsa Persia Ad-Dailami yang terepresentasikan pada sosok sultan dari Bani Buwaihi yang menetap di Baghdad. Khalifah Daulah Abbasiyah adalah seorang Suni, sedangkan Bani Buwaihi adalah orang-orang Syiah garis keras.

Mereka membiarkan eksistensi khalifah beraliran Suni agar mereka mudah untuk mengendalikannya. Jika menguntungkan mereka, khalifah tersebut tetap dipertahankan, tetapi jika menghambat kepentingan dan kemaslahatan mereka, maka khalifah pun akan di lengserkan atau dimakzulkan. Pada periode ini, Kekhalifahan Abbasiyah dipegang oleh Al-Mustakfi, Al-Muthi, Ath-Tha’I, Al-Qadir, dan Al-Qaim.

Kesultanan Bani Saljuk

Periode dari 447 H sampai 590 H, kekuasaan dan otoritas yang ada berpindah ke tangan bangsa Turki yang terepresentasikan pada sultan dari rezim Bani Saljuk yang menetap di negeri Al-Jibal, bukan Baghdad. Pada periode Kesultanan Saljuk ini, keadaan khalifah Daulah Abbasiyah masih lebih baik dibandingkan pada periode sebelumnya, saat kesultanan dipegang oleh Bani Buwaihi. Kesultanan Saljuk masih menaruh hormat kepada para khalifah mengingat posisi dan kedudukan khalifah di mata agama.

Pada periode ini, kekhalifahan Daulah Abbasiyah dipegang oleh Al-Muqtadi, Al-Mustazhhir, Al-Mustarsyid, Ar-Rasyid, Al-Muqtafi, Al-Mustanjid, dan Al-Mustadhi. Secara politik, keadaan para khalifah tidak seragam. Hal itu karena sejak masa Khalifah Al-Mustarsyid, Daulah Abbasiyah mulai berusaha mendapatkan kembali kekuasaan dan otoritas mereka yang sesungguhnya di Baghdad dan Irak, meskipun itu tidak secara penuh. Kondisi yang ada pun mendukung, yaitu Kesultanan Saljuk tidak menetap di Baghdad bersama mereka. Ditambah dengan munculnya konflik internal dalam tubuh Kesultanan Saljuk sendiri.

Ekspansi Bangsa Mongol

Pada masa Khalifah Al-Muqtafi, Daulah Abbasiyah benar-benar memegang kekuasaan dan otoritas penuh di Irak. Kesultanan Saljuk berakhir pada tahun 490 H di tangan Khawarizm Syah.

Setelah runtuhnya Kesultanan Saljuk, Daulah Abbasiyah menikmati kekuasaan secara penuh dan independen di Irak selama 66 tahun tanpa berada di bawah bayang-bayang hegemoni siapa pun. Kondisi ini sampai masa ketika bangsa Mongol dan Tartar mulai melakukan ekspansi dari ujung Turkistan. Badai ekspansi bangsa Mongol bertiup kencang menghantam negeri-negeri Islam. Mereka berhasil mengambil nafas Daulah Abbasiyah dan melenyapkannya dari Baghdad di tangan Hulagu Khan, cucu Jengis Khan pada 656 H. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Muhammad Al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *